Run Away

Run Away
51



Reza membuka mata saat sinar matahari masuk menerobos jendela. Ia lupa semalam tak menutup tirai jendela kamarnya lagi setelah melihat Putri pergi. Alhasil kini Reza terbangun dengan kepala yang masih terasa sangat ringan. Entah jam berapa semalam ia tidur, meski sudah dini hari dan mengantuk, Reza hanya berguling di ranjangnya tanpa bisa terpejam. Akhirnya Reza memutuskan untuk menenggak obat pemberian Dokter Rio tempo hari yang membuatnya tidur seharian. Dan benar saja, belum 10 menit meminumnya Reza langsung tertidur pulas.


Karena gerah dengan sinar matahari yang membuat seisi kamarnya terang benderang, perlahan Reza beranjak duduk dan bersandar pada bantal-bantalnya. Moodnya memburuk lagi ketika ia ingat semalam habis bertengkar hebat dengan Putri. Nafas Reza memburu, ia melirik bantal yang tempo hari dipakai oleh Putri ketika tidur bersamanya. Reflek Reza menarik bantal itu dan melemparnya jauh-jauh. Bodoh! Reza yang bodoh! Ia berhasil ditipu oleh gadis ingusan yang masih labil..


Perlahan Reza turun dari atas ranjang dan menarik kruknya ke kamar mandi. Ia ingin mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya yang panas dengan air dingin… anggap saja buang sial!


Satu jam setelahnya, Reza menaiki lift untuk turun menuju ruang makan. Perutnya sudah keroncongan, emosi membuatnya lapar.


Tanpa ia duga, di meja makan sudah ada Shelomita menunggunya. Reza tertegun kaget melihat Mamanya sudah duduk tenang di ruang makan.


"Kapan Mama datang?" tanya Reza santai seraya mendekat ke kursi dan duduk saat pelayan menarikkan kursi untuknya.


"Tadi pagi, kemana Putri pergi semalam? Apa kalian bertengkar??" cecar Shelomita lugas.


Reza mendengus kesal mendengar nama itu disebut. Ia melirik Mamanya tak suka.


Pelayan menyajikan nasi di piring Reza.


"Reza lapar mau makan, nanti aja kita bahas," sahut Reza dingin seraya memilih beberapa lauk yang tersaji di meja.


Shelomita menghembuskan nafasnya perlahan dan mengawasi Reza serius. Semalam, Mia, kepala staf, mengabari bila Putri pergi dari rumah dan membawa semua barang-barangnya. Padahal seminggu ini Shelomita mendapat kabar bahwa hubungan Reza dan Putri mulai membaik, entah mengapa Putri malah pergi.


Reza memakan sarapannya perlahan, berharap Mamanya segera pergi atau tak bertanya macam-macam padanya. Ia masih tak siap di introgasi dan sudah pasti nanti Reza akan berada di pihak yang salah.


"Sudah selesai??" tanya Shelomita saat Reza baru saja meneguk tetesan terakhir jus jeruk di gelasnya.


Reza menarik nafasnya perlahan, "kalo Mama mau bertanya soal Putri, lebih baik tanya saja ke Putri sendiri, Reza nggak pernah mengusir dia, dia sendiri yang memilih untuk pergi."


"Dan kamu membiarkan dia pergi begitu saja?" tanya Shelomita heran.


Reza tak menyahut, ia lebih memilih membuang muka tak membalas tatapan tajam Mamanya.


"Reza, kalo perempuan sudah berada pada situasi yang membuat dia harus pergi sebenarnya dia butuh untuk ditahan, dipertahankan!" jelas Shelomita gemas.


"Untuk apa di tahan? Dia sendiri yang memilih untuk pergi ninggalin Reza."


"Itu karena kamu nggak memberi yang seharusnya Putri dapatkan, kepastian!" tukas Shelomita lagi.


Reza menarik nafasnya berat.


"Yang Mama tahu, cuma Putri perempuan yang mau menerima keadaan kamu, bahkan sebelum dia tahu kamu anak seorang konglomerat!"


Reza mengawasi Mamanya bingung, "maksud Mama apa?"


Shelomita melipat kedua tangannya di dada dan mengawasi Reza serius,


"Tiga tahun yang lalu kamu kabur dari rumah, kamu hidup mandiri dan memilih untuk tinggal di kota terpencil, kamu menjual semua yang kamu miliki termasuk mobil dan ponselmu," Shelomita berhenti sejenak, ia mengawasi wajah Reza yang nampak menyimak dengan serius.


" tanpa kamu ketahui, Papa memantau keadaanmu dari jauh... kami tahu kamu tinggal di mana, melanjutkan sekolah di mana dan berteman dengan siapa. Hingga terakhir setahun yang lalu kamu mulai sering terlihat bersama Putri... untuk pertama kalinya kamu memiliki seorang teman selama berada di pelarianmu.."


Reza menahan nafasnya yang mulai terasa sesak, kepalanya mulai pening.


"Kalian berdua melarikan diri ke sebuah kota, kamu tinggal bersama Putri disebuah tempat kos umum yang sederhana, hingga kami pun mendapat kabar bahwa kamu ternyata sudah menikahi Putri, entah apa alasan kalian melarikan diri berdua, kami belum sempat mengobrol banyak dengan kalian," Shelomita mengawasi Reza lagi.


Reza memijat keningnya yang berdenyut nyeri, mendengar cerita Mamanya membuat sesuatu di dalam kepalanya seolah menegang.


"Kamu salah kalo berpikir Putri menyukaimu hanya karena kamu kaya raya, Mama yakin dia bukan perempuan seperti itu," jelas Shelomita lugas, ia berdiri dan beralih duduk di samping Reza.


" minta maaflah Reza, perbaiki hubungan kalian,” pinta mamanya tulus.


Reza menolehi Mamanya sedih, bayangan Putri tiba-tiba melintas di depan matanya. Wajah yang nampak menahan tangis itu membuat Reza menyesal sudah membentaknya. Harusnya Reza mendengarkan alasan Putri bukan malah membiarkan dia pergi.


"Reza nggak tahu kemana Putri pergi, Ma, dia bahkan nggak bawa ponsel dan ATM yang Mama beri," ucap Reza kelu.


Semalam ia sempat turun ke kamar Putri sebelum memutuskan untuk menenggak obat dari Dokter Rio. Putri tak membawa ponsel dan ATM yang diberi oleh orang tua Reza, ia hanya membawa pergi baju-bajunya.


"Mama akan meminta bantuan Pak Jodi untuk mencari Putri," janji Shelomita cepat,


Reza tak menyahut, rasa bersalah kini memenuhi hatinya. Ia sejenak lupa pada amarahnya semalam.


"Dia pergi di jemput lelaki, dan beberapa minggu ini Putri sering bertelefon diam-diam dengan seseorang bernama Riq, Reza nggak tahu siapa orang itu."


"Toriq, Papamu sempat bercerita bahwa ada seseorang yang sering mencari info tentangmu, seseorang bernama Toriq, kalian tinggal di tempat kos yang sama."


Reza menolehi Mamanya kaget, bagaimana bisa Papanya tahu segala hal? Apa dia seorang detektif?? Atau malah menyewa seorang detektif untuk mengikuti Reza selama 24 jam.


" dan ada satu hal lagi yang membuat Reza merasa di tipu oleh Putri, Ma, semalam dia bilang kalo…" Reza mengawasi Mamanya yang nampak serius menyimak setiap ucapannya.


"Kami nggak pernah benar benar menikah, kami tidak pernah menikah," lanjut Reza sesak, dadanya kembali sakit oleh kenyataan ini.


Shelomita terbelalak, namun detik berikutnya ia bisa menguasai diri.


"Bisa Mama nilai sendiri kan, wanita macam apa Putri itu, bagaimana bisa dia rela tidur dengan lelaki yang bukan suaminya."


"Apa kamu nggak bertanya mengapa kalian sampai berpura-pura menikah??"


Reza menggeleng pelan, ia terlalu syok karena telah berhasil dibohongi oleh gadis ingusan.


" lalu kamu mau bagaimana sekarang, Nak? Kalo memang benar kalian tak menikah maka tak ada lagi ikatan yang mengharuskan kalian untuk bersama..." Shelomita mengelus pundak Reza lembut.


Sebuah bayangan tiba-tiba melintas di ingatannya, seorang lelaki tua, siapa??


Reza menolehi Mamanya bingung, apa ia punya seorang Kakek?


"Reza? Kenapa??" tanya Shelomita bingung saat Reza tiba-tiba nampak pucat dan gelisah.


"Beri Reza waktu untuk berpikir, Ma. Reza masih syok dengan kenyataan kemarin, Reza butuh waktu."


Shelomita tersenyum dan mengelus pipi putranya lembut,


"Mama tahu, dilubuk hati kamu yang terdalam pasti masih sangat menyayangi Putri, pikirkanlah baik-baik, Nak."


Reza tak menyahut, pikirannya berkecamuk akan banyak hal. Dan tanpa ia sadari, ia mulai merindukan kehadiran Putri.