
Reza mengawasi Putri yang asyik dengan pensil dan kertas, sepertinya ia sedang menggambar sesuatu. Putri nampak begitu manis dan menggemaskan saat memegang pensil itu, Reza tersenyum sendiri.
"Kak Reza mikir apa sampai ngelamun gitu??" tanya Putri tiba tiba.
Reza menelan salivanya gugup, ternyata Putri menyadari bila sedari tadi Reza sedang menatapnya.
Putri berhenti menggerakkan pensilnya dan menolehi Reza penasaran saat tak ada sahutan.
"Nggak mikir apa apa," sahut Reza lirih seraya memperhatikan buku yang sedari tadi ia genggam namun tak sekalipun ia baca. Wajah Putri perlahan sudah mengalihkan hobinya.
Putri tersenyum dan berdiri, ia mendekat ke ranjang tempat Reza duduk bersandar.
Reza mengawasi Putri dengan gugup, debarnya mulai tak beraturan. Sepertinya Putri paham bila Reza tak nyaman sekamar dengannya.
Putri duduk di samping Reza dan menatapnya dalam, membuat Reza semakin salah tingkah dan gelagapan.
"Aku minta maaf, beberapa hari kemarin udah nyuekin Kak Reza," desis Putri merasa bersalah.
Reza terdiam, ia bahkan tak tahu harus berkata apa. Sejujurnya ia juga bersalah karena tak mau membuka diri.
"Kadang aku ngerasa Kak Reza seperti orang asing," lanjut Putri menerawang, "kita begitu dekat tapi aku bahkan gak tau apa-apa tentang Kak Reza.."
"Apa yang ingin kamu tahu, Put? Usiaku? Kerjaanku?? Keluargaku??" tanya Reza spontan, ia sadar bila masalahnya kemarin berawal dari dirinya yang tak pernah berani membuka diri pada Putri.
Putri terbelalak kaget, tumben Reza tiba tiba peka. Apa sakit membuat otaknya bergeser juga??
"Aku bukan nggak ingin cerita sama kamu, hanya saja aku butuh waktu," sambung Reza lirih.
"Kak Reza gak harus cerita apapun sama aku, kita kan sudah buat perjanjian untuk gak membahas masalah privasi masing masing," tukas Putri tak enak hati, ia tak ingin membuat Reza semakin merasa bersalah.
Reza menunduk sedih, ia hanya tidak ingin membuat orang lain mengetahui masa lalu dan masalah hidupnya yang pelik. Reza ingin mengubur semua bersama dengan masa lalunya. Ia hanya ingin melalui masa depan tanpa embel-embel nama besar keluarganya.
Putri menggenggam tangan Reza yang terkulai di atas buku yang terbuka dan terbalik.
"Aku gak akan bahas ini lagi, aku janji. Kita jalani saja semua seperti ini," ucap Putri tulus.
"Aku cuma pengin Kak Reza tau, kalo Kak Reza gak sendirian, ada aku disini yang akan selalu membantu dan menemani Kak Reza."
Reza menatap Putri haru, ia tak menyangka akan mendengar kata kata itu dari gadis 18 tahun yang sedang kabur seperti dirinya.
"Makasih, Put, " desis Reza serak, ia tak sanggup berkata apa-apa lagi.
Matanya tiba tiba memanas dan basah, lekas Reza mengusapnya karena malu.
Putri tersenyum dan menarik Reza kedalam pelukannya, membuat Reza semakin menangis sedih. Ia kembali teringat pada rasa sakit dan kesepian yang selama ini menghantuinya. Dua tahun masa pelarian ini terasa berat bagi Reza, tapi kini tidak lagi karena ia memiliki Putri bersamanya.
1 jam kemudian..
Reza sudah tenang dan memutuskan untuk membaca buku di genggamannya. Ia hampir saja mencium Putri saat gadis itu memeluknya tadi. Beruntung ponsel Reza tiba-tiba berbunyi. Kakek Nun menelefonnya dan menanyakan kabar Reza.
"Aku kerja di toko buku Kakek yang dulu pernah kita temui, Put," terang Reza memecah kesunyian.
Meski Putri tak bertanya namun Reza bisa melihat rasa penasaran di matanya saat Reza asyik mengobrol dengan kakek Nun di telefon tadi.
"Oh ya, wah enak dong Kak Reza bisa sekalian baca buku gratis disana," sahut Putri sambil tetap sibuk dengan pensilnya.
Reza tersenyum dan mengangguk pelan, "iya, Kakek Nun baik sekali, kasian dia kesepian di toko itu."
Putri menolehi Reza cepat, " apa perlu kapan-kapan kita temani Kakek Nun dan menginap di rumahnya??"
Reza terbelalak kaget, Kakek Nun dulu pernah menawari Reza untuk sekali-kali menginap di rumahnya, namun Reza tak menyangka Putri juga memiliki pikiran yang sama dengan Kakek Nun.
"Kenapa melolot gitu??" tanya Putri heran.
Reza tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Putri kembali konsentrasi dengan kertasnya, Reza heran tumben Putri tidak menonton drama Korea seperti biasanya.
"Kuotamu habis ya, Put??" tanya Reza menebak.
"Nggak, kenapa emang??" sahut Putri tanpa menolehi Reza.
"Tumben nggak nonton Oppa-oppamu itu??" tanya Reza lagi, kadang bila Putri melihat aktor yang ia sukai muncul, matanya akan berbinar binar dan Reza tak suka.
"Oowh, drama yang aku tonton udah tamat, sih! masih males mau nonton yang lain,"sahut Putri cuek.
Reza tersenyum lega, baguslah…
"Oiya, sejak kapan kamu dekat dengan Toriq??" tanya Reza lagi penasaran.
Putri menghentikan pensilnya dan menolehi Reza, " siapa yang dekat? Biasa aja sih."
"Kalian sering sarapan bareng, kan. Kalo gak deket gak mungkin sampe sering makan berdua."
"Kak Reza cemburu ya??" cecar Putri terkekeh.
Reza tersenyum sinis dan membuang muka, "mana ada!" desis Reza lirih.
"Iyaaa kan?? Cemburu kan??" goda Putri lagi.
"Aku cuma nggak suka aja sih sama Toriq, tapi kalo kamu suka ya gapapa silahkan," terang Reza seraya menutupi wajah gugupnya dengan buku.
"Idih, alasan! Padahal cemburu, iya kan??"
Reza tak menyahut lagi, sepertinya ia bertanya di timing yang tidak pas. Atau memang Putri sengaja ingin menggodanya?
"Kak Reza..!" panggil Putri tertawa.
Reza masih diam, ia tak ingin terbawa perasaannya.
"Kak Reza bukunya terbalik!!!" tawa Putri semakin keras,
Reza mengawasi buku di depannya yang ia gunakan untuk menutupi wajah. Dan benar saja buku itu terbalik!! Bodoh…
Reza menurunkan bukunya dan mengawasi Putri yang tertawa lepas melihat kekonyolan Reza. Tawa renyah itu menular padanya. Mentertawai kebodohannya yang tak jago dalam berpura-pura.
"Apa kamu masih gak mau menceritakan tentang Toriq??" Tanya Reza masih penasaran saat mereka berdua kembali tenggelam pada kegiatan masing masing.
Putri menolehi Reza lagi.
"Yang pasti aku dan Toriq gak sedeket kaya aku dan Kak Reza."
"Berarti kalian sudah berteman?" tanya Reza tak suka.
"Nggak juga sih, biasa aja!" sahut Putri mengambang.
Reza masih tak puas dengan jawaban itu, ia masih ingin tahu lebih tapi sepertinya Putri tak menjawab dengan tegas. Sebenarnya malah Reza tak suka melihat Putri terlalu dekat dengan laki-laki lain selain dirinya, ia tidak mau Putri bergantung pada orang lain selain Reza.
"Kak Reza..." panggil Putri saat Reza terdiam,
Reza mengawasi Putri cepat.
"Ya.." sahutnya lirih.
"Kak Reza percaya, kan, sama aku??"
Reza tak menyahut, ia bahkan bingung harus percaya pada Putri atau percaya pada instingnya sebagai lelaki.