
Tidur bersama??
Beberapa bulan yang lalu mungkin tidur bersama di satu ranjang bukan hal yang mendebarkan bagi Putri, namun kali ini tidur berdua dengan Reza membuatnya hampir tak bisa memejamkan mata.
Reza sudah terlelap sejak beberapa jam yang lalu, ia tidur memunggungi Putri. Kini Putri merasa kesal sendiri, mengapa ia bahkan tak bisa tidur seperti Reza yang nampak tenang dan damai dalam buaian mimpi. Apa yang Putri harapkan?? Reza tidur memeluknya seperti dulu?? Bahkan kenangan kecil saja Reza tak ingat jadi bagaimana ia bisa mengingat hal yang rutin mereka lakukan sebelum tidur…
Putri berbalik menolehi Reza yang tak bergerak. Nafasnya begitu teratur, panasnya sudah turun sejak ia minum obat dari Dokter Rio.
Bahkan hingga detik ini pun Putri masih gamang dengan perasaannya. Apakah ia benar-benar mencintai Reza? Apakah Reza benar-benar akan menjadi pelabuhan terakhirnya?
Ragu Putri beranjak duduk dan bersandar pada bantalan ranjang. Ia masih mengawasi Reza yang tak bergeming. Mulai besok ia akan merawat Reza seorang diri dan menggantikan suster Anis. Sepertinya besok pun Reza masih harus makan makanan yang lembut, jadi Putri harus bangun lebih awal untuk memasak.
Pukul 00.15 menit..
Putri kembali berebah dan memejamkan mata. Biasanya ketika tidur sendiri, jam 10 malam adalah waktu yang paling telat bagi Putri untuk tidur, meski pada akhirnya ia akan beberapa kali terbangun dan menangis tanpa sebab.
Tubuh Reza berbalik dan menghadap Putri. Ragu Putri kembali membuka mata dan menatap wajah Reza yang nampak sangat manis saat ia tertidur. Rambut halus di rahangnya mulai tumbuh, bibir Reza yang penuh dan memerah membuat Putri rindu pada ciumannya. Bahkan meski tak mandi seharian pun, Putri menyukai aroma tubuh kekasihnya itu. Apakah ini pertanda Reza mulai menjadi candu baginya??
Putri memejamkan matanya lagi dan menarik nafasnya dalam. Ia hanya ingin terlelap sebentar namun wajah Reza yang sedang terlelap sangat sayang untuk di sia-siakan.
"Kamu belum tidur??"
Putri tersentak saat tiba-tiba Reza membuka mata dan menatapnya. Putri menelan salivanya gugup, tubuhnya seketika lemas karena kaget.
Reza menatap Putri yang masih saja nampak cantik meski dengan rambut kusut. Dadanya berdesir hangat. Selama amnesia baru kali ini ia tidur bersama perempuan, meski Putri berstatus istrinya namun Reza tetap merasa canggung dengan kebersamaan mereka.
"Iya ini aku mau tidur, barusan dari kamar mandi," sahut Putri asal.
Reza menarik nafasnya yang terasa sesak. Sepertinya ia tidur dengan sangat lelap hingga tak menyadari Putri berada di kamar mandi.
Putri mencoba memejamkan mata lagi, kali ini lebih serius. Ia tidak ingin Reza curiga dengan gelagatnya. Ia harus tidur, HARUS!!
Hangat..
Lebih ke gerah, silau..
Putri membuka mata dan secercah sinar menyelinap masuk menusuk retinanya, reflek ia memejamkan mata lagi karena silau oleh cahaya matahari yang menerangi seisi kamar.
Sudah pagi?? Jam berapa ini??!
Putri lekas beranjak duduk dari tidurnya. Seketika kepalanya pening karena bergerak spontan dan cepat.
"Uhhhh..." desis Putri pening seraya memijat kepalanya lembut. Ia membuka matanya perlahan.
Reza sudah tidak ada di sampingnya, ‘kemana dia??’ batin Putri bingung.
Ragu ia menurunkan kakinya dari atas tempat tidur dan berdiri untuk mencari Reza. Sekilas Putri melirik jam di atas televisi, jam 09.15 menit. Gila! Harusnya Putri sudah bangun sejak 3 jam yang lalu untuk menyiapkan sarapan bagi Reza.
Saat mendekat ke jendela yang menghadap ke taman Putri menemukan Reza sedang berjemur seperti biasa. Putri menggigit bibirnya kesal, gara-gara semalam tak bisa tidur akhirnya ia malah bangun kesiangan. Lekas Putri beranjak ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
30 menit berikutnya,
Putri sudah rapi dan turun ke bawah menggunakan lift. Ia hendak menyusul Reza yang sedang berjemur sendirian sembari membaca buku.
Wajah Reza sangat serius saat sedang asyik membaca buku dan Putri menyukai ekspresi itu. Ia ingin melihat ekspresi favoritnya itu dari dekat, bukan lagi hanya dari bangku taman.
"Kak Reza, maaf aku bangun kesiangan," pinta Putri memelas setelah berdiri di depan bangku yang Reza duduki sendirian.
Reza mendongak dan mengawasi Putri sekilas. Kembali jantungnya berdegub tak beraturan.
"Kak Reza sudah sarapan? Aku bikinin bubur lagi ya."
"Nggak perlu, tadi aku sudah sarapan," tukas Reza saat Putri bersiap untuk berbalik. Tiba-tiba Reza ingin Putri menemaninya berjemur kali ini.
"Suster Anis kok belum datang ya?" lanjut Reza berbasa-basi.
Putri menolehi sekitarnya keki, "Mmm,sepertinya Suster Anis sedang sibuk, lagian Kak Reza kan sudah bisa berjalan tanpa kursi roda lagi."
Reza menutup buku ditangannya perlahan,
"Iya sih," desisnya lirih,
"Gapapa, semalam istirahatku sudah sangat berkualitas," sahut Reza kalem, namun detik berikutnya ia terhenyak salah tingkah.
Wajah Putri memerah, apa benar demikian?? Tidur Reza jadi nyenyak karena ada Putri disampingnya semalam??
"Maksutku, obat dari Dokter Rio sepertinya membuat tidurku jauh lebih nyenyak," ralat Reza singkat,
Putri tersenyum geli, wajah Reza nampak panik saat membela diri.
"Kenapa tersenyum gitu??" tanya Reza pura-pura kesal.
Putri tak bisa lagi menahan tawanya melihat Reza semakin salah tingkah, mengakui perasaan itu ternyata lebih sulit daripada mengelaknya. Dan Putri akui sekarang Reza nampak lebih enjoy dari pada kemarin-kemarin.
"Kamu harus tanggung jawab karena sudah bikin aku sakit kemarin!"
"Loh kok aku sih!" gerutu Putri
"Gara-gara kamu, aku jadi nggak selera makan.”
"Memangnya aku obat diet, bikin Kak Reza nggak selera makan," goda Putri terkekeh lagi,
Reza menggeram kesal melihat Putri semakin menertawainya.
"Jangan menertawaiku atau kamu akan menyesal."
"Oh ya? Memangnya Kak Reza mau ngapain? Mau nelan aku?? Mau ngejar aku??"
Reza memicingkan mata gemas, anak ini benar benar membuat kesabarannya habis!
Andai Reza tidak bergantung pada kruk dan bisa mengejarnya sudah pasti gadis yang sedang tertawa di hadapannya itu akan ia 'sikat' di kamar!
‘Awas saja kamu nanti malam!’ gerutu Reza berjanji dalam hati.
"Kemari kamu, bantu aku berdiri dan kembali ke kamar.."
Putri menggeleng dan berbalik, tepat disaat itu nampak Pak Jodi muncul dari balik pintu ruang tengah bersama dengan seorang perempuan yang baru kali ini Putri lihat. Perempuan seusia Reza yang sangat anggun dan cantik. Siapa dia??
"Selamat pagi Mbak Putri.. Mas Reza... ini ada teman Mas Reza yang ingin bertemu," sapa Pak Jodi seraya mempersilahkan wanita di belakangnya untuk maju.
Teman Reza? Siapa?? Selama ini Putri tak pernah tahu bila Reza memiliki teman selain dirinya.
"Hay Reza," sapa wanita itu anggun lantas tersenyum pada Putri.
Putri mengawasi Reza yang nampak memperhatikan wanita di hadapannya dengan serius.
"Zeyna??" desis Reza bingung.
Putri terbelalak, terlebih saat wanita itu tersenyum lebih lebar setelah Reza menyebut namanya. Apa-apaan ini? Bagaimana mungkin Reza mengingat wanita itu sementara ia melupakan Putri??
"Iya betul, aku Zeyna," sahut perempuan bernama Zeyna itu seraya mendekat ke arah Reza dan mengulurkan tangannya.
Reza membalas uluran tangan itu dan melirik Putri yang masih mematung tak jauh darinya.
"Mas Reza inget Mbak Zeyna??" tanya Pak Jodi terheran-heran seraya mengawasi Reza dan Zeyna bergantian.
Putri menatap Reza dengan serius. Dadanya bergemuruh aneh. Terlebih saat detik berikutnya Reza mengangguk pelan.
Pak Jodi menolehi Putri yang nampak kesal, ia jadi merasa bersalah pada Nyonya mudanya itu. Tadinya ia begitu percaya diri, Reza tak akan dapat mengingat siapapun tapi ternyata wanita ini menjadi pengecualian.
"Mbak Zeyna, ini Mbak Putri istrinya Mas Reza,” ucap Pak Jodi menebus rasa bersalahnya.
Zeyna menolehi Putri dan mengulurkan tangannya juga, Putri membalas uluran itu dan lekas melepasnya.
"Saya Zeyna, teman Reza semasa SMP dulu," cetus Zeyna kalem.
Putri tersenyum sumbang dan mengangguk,
"Oke baiklah kalo gitu saya tinggal dulu ya, kalian mengobrol saja," putus Putri sebelum kemudian berbalik dan bergegas pergi.
Perutnya tiba-tiba jadi lapar. Ia ingat bila belum sarapan dan lagipula tak etis bila ia masih berdiam disitu. Dia bukan obat nyamuk…