
Sejak hari dimana Reza mendengar percakapan Putri dan Toriq di telefon, Reza tak turun untuk makan siang dan makan malam. Hati Putri semakin hancur dan merasa bersalah. Meski ia tak melakukan apapun dengan Toriq namun sikap Reza membuat seolah Putri sudah menghianatinya.
Sepulang dari Rumah Sakit pun Reza masih menghindarinya. Tak sekalipun menatap atau sekedar melirik Putri. Meski beberapa bulan ini Reza selalu memandangnya dengan tatapan benci dan dingin namun paling tidak Putri masih merasa diperhatikan. Berbeda dengan hari ini, Putri seolah tak nampak.
"Mbak Putri, saya kemarin ditelefon Bu Shelomita, katanya mulai besok biar Mbak Putri yang mengurusi Mas Reza," ucap Suster Anis sopan saat mereka berdua baru sampai di rumah.
Putri menolehi Suster Anis galau. " Apa saya bisa Sus??"
"Pasti bisa, Mbak Putri, Mas Reza baik kok, selama ini dia sebenernya perhatian sama Mbak Putri hanya saja masih gengsi." Suster Anis tersenyum menyakinkan.
Putri mengangguk ragu, semoga saja demikian. Semoga Reza bisa memaafkannya..
Dan hingga malam tiba, Reza masih tak turun untuk makan malam. Putri mulai khawatir Reza akan sakit seperti saat di Kos Pelangi dulu. Meskipun Reza amnesia, ternyata kebiasaannya bila marah masih sama. Usai makan malam, Putri memutuskan untuk naik ke kamar kekasihnya.
Karena yakin pintu kamar Reza pasti terkunci jadi Putri memutuskan untuk naik ke kamar Reza menggunakan lift privat. Pak Jodi memberi tahu Putri kode akses untuk membuka pintu lift dan masuk ke kamar Reza.
Kode itu menggunakan gabungan tanggal lahir Reza dan Putri. Dan Putri baru sadar bila bulan depan tanggal 7 adalah hari ulang tahunnya. Terlalu sibuk dengan Reza membuat Putri lupa pada dirinya sendiri.
Ttttinggg...
Pintu lift terbuka perlahan, kamar Reza yang gelap gulita membuat Putri memicingkan mata saat hendak keluar dari lift. Hening, tak ada apapun selain suara humidifier yang berdengung.
Putri mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Reza yang luas, dan tatapan terhenti di ranjang. Ia menemukan Reza tidur dengan seluruh tubuh tertutupi selimut. Kruknya tergeletak di samping nakas. Putri lekas mendekat dan naik ke ranjang Reza cepat. Feelingnya mengatakan bila Reza sedang tak sehat dan benar saja.
Saat Putri menurunkan selimut itu perlahan, ia menemukan Reza terpejam dengan tubuh menggigil dan panas.
Putri mendesah sedih, mengapa Reza masih saja menyiksa dirinya sendiri bila sedang marah?? Mengapa ia tak meluapkan semua amarahnya pada Putri agar gadis itu tahu bahwa ia sudah bersalah?? Mengapa Reza masih menjadi pribadi yang sama meski ia sedang amnesia??
Air mata Putri menetes, ia meraih tangan Reza yang dingin dan menggenggamnya erat. Tangan yang sangat ia rindukan, tubuh yang yang ia nantikan wanginya, hangatnya.
"Kak..." desis Putri sedih seraya mengusap peluh di kening Reza. Suhu tubuhnya panas, namun Reza berkeringat dingin.
Lekas Putri turun dari ranjang dan meminta staf rumah tangga untuk membawakan kain dan baskom agar bisa mengkompres Reza. Ia juga meminta mereka untuk memanggil dokter keluarga.
Sambil memeras handuk kecil di tangannya, Putri mengawasi Reza khawatir. Ini kali kedua ia merawat Reza saat sedang sakit dan kali ini hatinya jauh lebih hancur. Betapa sisi rapuh Reza masih saja sama..
Pelan Putri meletakkan handuk itu di kening Reza, andai saja Putri peka lebih awal.
Tak berapa lama seorang dokter keluarga datang, Dokter senior yang sudah menjadi langganan keluarga sejak Reza masih bayi. Dan dari Dokter itu, Putri tahu bila Reza agak sensitif dengan lambungnya. Usai disuntik pereda asam lambung, Dokter itu menyarankan Putri untuk segera memberi Reza makanan yang lembut bila ia bangun nanti.
Setelah Dokter pergi, Putri segera turun untuk membuatkan bubur. Setidaknya dulu Reza pernah menyukai bubur buatannya, semoga kali ini pun ia menyukainya.
"Mbak Putri, Mas Reza sudah bangun," terang Mia, Kepala staf rumah tangga di rumah Reza.
Putri segera menuang buburnya ke mangkok dan bergegas naik ke kamar Reza. Ia bahkan tak merasakan lagi nyeri di tangan kanannya yang masih belum pulih benar.
Saat sampai di kamar Reza, Putri menemukan laki-laki favoritnya itu sedang termenung menatap langit-langit plafon. Saat sadar seseorang masuk ke dalam kamarnya, Reza menoleh perlahan dan seketika gugup saat melihat sudah Putri berdiri di sampingnya.
Ia membuang muka cepat, dadanya berdebar hangat.
"Kak Reza, makan yah? Tadi Dokter Rio kesini dan nyuruh Kak Reza segera makan kalo sudah bangun."
"Aku nggak laper," potong Reza cepat, padahal perutnya sudah melilit dan perih karena kelaparan.
"Kak Reza boleh marah sama aku, tapi jangan kaya gini, aku sedih ngeliat Kak Reza menyiksa diri kaya gini," pinta Putri memohon.
Reza tak menyahut, ia memejamkan matanya lagi. Putri menyentuh bahu Reza ragu, tubuhnya sudah tak sepanas tadi. Ia sedikit lega…
"Makan ya, sedikit aja, please! Aku janji setelah Kak Reza makan, aku akan ngelakuin apapun yang Kak Reza mau."
Reza tak bergeming, apapun?? Bahkan bila ia meminta Putri untuk telanjang??
"Apa Kak Reza mau makan sendiri?? Kalo gitu aku keluar dulu ya," tanya Putri seraya bersiap untuk berdiri.
Reza menghembuskan nafasnya kesal, hanya sejauh itukah perjuangan Putri menaklukkan amarahnya?? Selalu mengalah dengan sikap Reza yang dingin dan bukannya merayunya?? Bukankah mereka suami istri mengapa Putri masih saja bersikap kaku?
"Put!" panggil Reza cepat saat Putri sudah hampir sampai di pintu.
Putri menoleh cepat, Reza sudah berbalik dan mengawasinya.
"Kamu mau melakukan apapun??" ulang Reza meminta persetujuan.
Putri tersenyum lega dan mengangguk, ia mendekat lagi ke ranjang Reza dan duduk di sampingnya. Setidaknya Reza mau makan dulu, menuruti permintaannya urusan nanti!
Perlahan Reza beranjak untuk duduk dan bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Putri reflek membantu hingga Reza bisa duduk dengan santai.
Reza menatap Putri lama, ia berusaha mengais sisa sisa memori yang mungkin tertinggal disana.
"Aku pengin kamu kembali tidur dikamar ini," ucap Reza lirih,
Putri mengawasi Reza tak percaya, jantungnya berdegub kencang karena bahagia. Setelah berbulan-bulan dan kini Reza mulai membuka hati untuknya??
"Kamu nggak mau?" tanya Reza lagi.
Putri menggeleng cepat, " mau kok, Kak!" sahutnya masih tak percaya.
Reza menahan senyum bahagianya dan membuang tatapannya dari wajah Putri yang berbinar. Setidaknya Reza bisa memantau aktifitas Putri bila mereka berada di kamar yang sama. Ia masih penasaran siapa itu Riq??
"Makan yah? Mau aku suapin??"
Reza mengangguk lemah, seluruh tubuh yang tadinya tak bertenaga kini seperti tercharge lagi. Putri bergegas mengambil mangkok di meja dan perlahan menyuapinya.
"Kamu yang bikin?" tanya Reza saat bubur di mangkuknya sudah tersisa separuh.
Putri mengangguk dan tersenyum,
"Dulu Kak Reza doyan banget sama bubur buatanku, malah pernah nambah sampai tiga kali.”
"Oh ya??" tukas Reza tak percaya, kemana perginya ingatannya tentang hal ini?
Putri mengangguk lagi, " Kak Reza doyan semua masakan yang aku masakin, apapun itu."
Reza mengawasi wajah Putri yang antusias menceritakan masa lalu mereka berdua. Dadanya bergemuruh entah mengapa..
Meski terkadang masih ada rasa benci di hatinya namun melihat kebaikan dan ketulusan Putri mau tak mau Reza mulai luluh.