
"Jangan ganggu aku lagi Riq! Please kalau kamu emang beneran sayang sama aku..."
Reza menutup matanya sedih. Siapa itu Riq?? Mengapa Putri selalu bertelefonan secara diam diam dengan laki laki itu? Apa yang tak diketahui oleh Reza? Mengapa ia begitu naif menganggap Putri gadis yang lugu?
Konsentrasi membaca Reza tadi siang tiba tiba buyar saat mendengar nada ponsel Putri berdering di kejauhan. Nada itu terdengar singkat namun berdering berkali kali. Membuat Reza kesal sendiri mendengarnya.
Saat melihat Putri tak lagi berada ditempatnya duduk, Reza tiba tiba mulai penasaran. Bila tahu akan sesakit ini saat mendengar percakapan Putri dengan lelaki itu mungkin lebih baik Reza tak mendengarnya sama sekali. Ia merasa dihianati, merasa menjadi bulan bulanan dan merasa bodoh sendiri.
Malam semakin larut akan tapi Reza tak bisa sekalipun memejamkan mata. Ia bahkan enggan untuk bertemu Putri di meja makan dan lebih memilih menyendiri di kamar. Reza masih berusaha keras untuk mengingat memori yang sudah 3 bulanan ini terlupakan. Mengapa sulit sekali mengingat hal kecil yang bisa membantunya mengatasi keraguannya pada Putri? Dan Putri pun seolah semakin jauh..
Reza baru ingat bila besok pagi Reza dan Putri sudah membuat jadwal untuk bertemu Dokter Orthopedi. Reza akan mengecek keadaan tulang kakinya yang retak, bila Dokter mengijinkan maka ia bisa mulai menggunakan tongkat sebagai bantuan untuk berjalan. Menggunakan kursi roda membuatnya semakin nampak bodoh dan tak berdaya. Reza ingin segera sembuh dan bisa berjalan seperti semula.
Reza mencoba memejamkan matanya entah untuk yang keberapa kali namun sia sia. Matanya masih terbuka lebar, pikirannya masih melanglang buana. Sakit hati membuatnya tak bisa tidur dan tak berselera untuk makan. Putri sudah memporak porandakan hidupnya sekarang. Saat Reza mulai belajar untuk membuka hati namun Putri kembali membuatnya putus asa dengan kejadian kejadian diluar dugaan.
Esok paginya..
Reza membuka mata saat pintu kamarnya di ketuk dari luar dan membuat berisik seisi kamar. Sepertinya baru 2 jam Reza tertidur dan kini ia harus bangun lagi untuk bersiap siap ke Rumah Sakit.
Sudah pasti suster Anis yang mengetuk pintu karena hari ini adalah jadwal Reza dan Putri ke rumah sakit. Reza beranjak duduk dengan bertopang pada tangan kanannya dan bersandar pada sandaran ranjang.
"Iya Sus, saya sudah bangun.." sahut Reza serak saat Suster Anis masih mengetuk pintunya berkali kali.
Lekas Reza menurunkan kakinya dari tempat tidur dan beranjak perlahan ke kamar mandi. Selama seminggu ini Suster Anis sudah mengajari Reza cara berjalan menggunakan tongkat jadi ia mulai membiasakan diri menggunakannya.
1 jam kemudian,
Saat pintu lift terbuka, Reza sudah menemukan Putri dan suster Anis menunggunya di ruang tamu. Mereka nampak sudah siap untuk berangkat. Reza menarik nafasnya gugup saat melihat Putri pagi ini, gadis itu mengenakan mini dress warna putih dan cardigan pink yang manis. Arm slingnya sudah tak ia kenakan lagi. Rambutnya ia tali kebelakang dan hanya menyisakan poni yang membuat Putri semakin nampak menggemaskan. Dan Reza benci! Reza benci harus mengakui bahwa Putri semakin cantik dari hari ke hari..
"Mas Reza, nggak sarapan dulu??" Tanya Suster Anis saat Reza mendekat kearah mereka berdua.
Reza menggeleng pelan dan melajukan kursi rodanya tanpa menoleh.
"Aku bungkusin makan ya, Kak? Biar Kak Reza bisa sarapan di mobil."
"Nggak usah aku nggak laper!" Tukas Reza cepat sambil terus melajukan kursi rodanya keluar menuju teras.
Putri menarik nafasnya khawatir dan melirik suster Anis bingung.
"Yaudah kita berangkat ya, kita hanya punya waktu satu jam sebelum giliran kita tiba,” terang Suster Anis seraya melenggang mengikuti Reza yang sudah lebih dulu sampai di teras.
Di dalam mobil minivan mewah, suasana begitu kaku dan dingin. Reza memilih untuk duduk di depan karena tak ingin berdekatan dengan Putri. Suasana hatinya masih buruk karena kejadian kemarin, ia sedang tidak ingin di dekati.
Setiba di Rumah Sakit, Putri mendapat giliran lebih dulu untuk di periksa. Usai di rontgen dan dipastikan bahwa keadaan tulang tangannya pulih Dokter hanya memberi vitamin dan memperbolehkan Putri untuk melepas Arm slingnya untuk selamanya. Putri hanya perlu berhati hati dan tidak beraktifitas berlebihan dengan tangan kanannya selama beberapa bulan ini.
Ketika tiba giliran Reza, Dokter memberinya sedikit terapi untuk melihat kesiapan tulang kaki Reza bila menggunakan kruk. Karena tidak ada keluhan dengan pen yang dipasang ditulangnya maka Dokter tidak menyarankan Reza untuk operasi pengangkatan pen. Pun begitu dengan cidera tulang tangan kirinya. Dokter memperbolehkan Reza untuk melepas Arm slingnya bila tidak ada keluhan. Dokter hanya memberi vitamin dan obat pereda nyeri untuk berjaga jaga.
Sepulang dari Rumah Sakit, Reza sudah tidak menggunakan kursi roda lagi untuk berjalan. Meski sudah beberapa kali belajar menggunakan kruk namun ternyata Reza masih gugup saat menggunakannya di depan Putri. Ia bisa sedikit lega pada akhirnya bisa bergerak lebih leluasa dengan bantuan kruk. Putri tak henti hentinya tersenyum senang melihat perkembangan Reza.
"Kita langsung pulang??" Tanya suster Anis saat mereka sudah masuk kedalam mobil.
Putri mengangguk pelan, ia memberi kode pada suster Anis untuk bertanya pada Reza.
"Mas Reza? Apa mau ketempat lain?"
"Nggak sus, kita langsung pulang aja," sahut Reza cepat. Ia mulai pusing, perutnya perih karena sejak kemarin tak terisi makanan apapun selain air putih.
Setiba di rumah,
Reza langsung naik ke kamarnya dan memutuskan untuk tidur. Selain pusing dan sakit perut ia juga mengantuk. Sepertinya tidur akan membuat suasana hatinya membaik. Ia merasa sangat lelah hari ini, Reza butuh waktu untuk tenang sejenak.
Saat akan memejamkan mata, Reza baru ingat kemarin Pak Jodi memberinya ponsel yang tempo hari ia minta. Sudah ada nomor Putri di ponsel itu jadi Reza tidak perlu repot menurunkan gengsinya dihadapan Putri hanya untuk meminta nomornya.
Reza mematut ponsel di tangannya lama, benda ini seperti sangat asing baginya. Apa Reza yang dulu tak memiliki ponsel? Mengapa Reza baru melihat benda ini sekarang??
"Uhhhh...." Sekelebat Reza merasa perutnya seperti terlilit, ia meringis menahan sakit.
Detik berikutnya Reza mencoba memejamkan mata pelan, sepertinya ia benar benar butuh tidur. Keadaannya sedang tidak baik baik saja.
......................
☹️
Author lagi sedih nih, karena jumlah pembaca dan jumlah like nggak sesuai, jadi author mikirnya meskipun banyak yang baca, tapi kayanya kalian nggak tertarik ya sama isi ceritanya? Huhuhu, mengsedih deh!
Yuk, balikin semangat author lagi dengan tinggalkan ‘like’ kalian, komentar apapun akan sangat author hargai 😊..
Sempet terpikir untuk pindah PF lain tapiiiii ah, sudahlah!
Terima kasih banyak sudah mendengar keluh kesah author yang lagi mellow hari ini 🥰