Run Away

Run Away
23



Semakin mendekati hari pembukaan Pameran Kebudayaan, Reza menjadi semakin sibuk. Ia membantu Kakek Nun membawa buku buku dan perlengkapan yang akan dijual di Pameran. Sengaja Reza menyewa mobil rental harian agar tak repot membawa beberapa kardus buku ke lokasi yang cukup jauh dari Toko Kakek Nun. Pada sang Kakek ia beralasan meminjam mobil itu dari salah satu teman di kos Pelangi padahal Reza menyewa mobil itu selama seminggu. Ia tak keberatan harus mengeluarkan uang lebih untuk Kakek Nun. Beruntung Pak Ali, tukang kebun Kos Pelangi punya kenalan rental mobil sehingga Reza tidak kebingungan.


"Kakek baru tahu kamu bisa menyetir mobil Reza.." goda Kakek Nun saat mereka sedang dalam perjalanan pulang usai menata buku di gedung kota.


Reza tersenyum dan melirik Kakek Nun sekilas.


"Perasaanku berkata kamu bukan orang biasa.., betul tidak??" Lanjut Kakek Nun lagi,


Reza terhenyak tapi detik berikutnya ia berusaha untuk terlihat biasa saja,


"Lalu saya orang luar biasa gitu Kek? Semacam alien??" Goda Reza balik.


Kakek Nun terkekeh dan membuang pandangannya keluar jendela.


"Kamu istimewa, seperti yang kamu bilang dulu.., kamu orang kaya hanya saja sedang berakting menjadi orang susah.." Desis Kakek Nun lirih,


Reza menolehi Kakek Nun syok, apa gelagatnya selama ini mencurigakan?? Atau Kakek Nun adalah cenayang??


"Kakek jangan lupa bangun kalau bermimpi..,takut mimpinya ketinggian.." goda Reza mengalihkan pembicaraan,


Kakek Nun terkekeh lagi, ia menepuk bahu Reza yang fokus menyetir.


Tak berapa lama mereka sudah sampai di Toko Kakek Nun, usai membantu menurunkan Kakek Nun lekas Reza berpamitan untuk pulang. Dua hari ini ia hanya tidur dan makan di Kos, tak sempat mengobrol banyak dengan Putri.


Reza mengawasi jam tangannya sekilas, jam 21.45. Semoga Putri belum tidur, ia ingin mengajak Putri jalan jalan sebentar naik mobil ini. Selama ini mereka hanya naik motor bila keluar untuk sekedar keliling kota. Terkadang Reza ingin Putri mendapatkan fasilitas yang lebih baik dari yang bisa ia berikan.


Setiba di kos Pelangi, Reza berlari cepat menuju kamarnya. Mobil Toriq terlihat di parkir di bawah, tumben ia tak pergi? Batin Reza heran.


"Put.." panggil Reza seraya membuka pintu kamar dengan riang, tapi kamarnya gelap.


Reza masuk kedalam dan menyalakan lampu, tak ada Putri di kamarnya. Perasaan Reza mulai tak nyaman, ia beranjak mencari ke kamar mandi tapi nihil. Kemana Putri malam malam begini??


Lekas Reza berjalan keluar dari kamar dan melongok ke lantai 1. Sepi dan gelap. Ia menoleh kerumah Bu Mirna yang lampunya masih menyala, sepertinya bu Mirna belum tidur. Apa Putri ada disana??


Reza berlari turun ke lantai 1 dan menuju ke rumah Bu Mirna. Semoga Putri benar berada di sana.


Ragu Reza mendekat ke pintu rumah Bu Mirna, tak ada suara apapun di dalam. Perlahan ia mengetuk pintu itu berulang kali, tak ada sahutan.


"Permisi.., Bu Mirna ini saya Reza.." ucap Reza sambil terus mengetuk pintu rumah Bu Mirna dengan sedikit panik.


Terdengar suara langkah kaki mendekat dan tak lama kemudian muncul Bu Mirna membukakan pintu.


Reza menghembuskan nafasnya lega,


"Ada apa Mas Reza??" Tanya Bu Mirna bingung.


"Apa Bu Mirna melihat Putri??"


Bu Mirna mengerutkan keningnya bingung, lantas menggeleng pelan.


"Gak liat Mas, tadi siang terakhir saya ketemu  pas di dapur umum.."


Reza mengusap wajahnya frustasi, tak ia rasakan lagi lelah yang sedari tadi menderanya.


"Coba di telepon Mas..." saran Bu Mirna cepat,


Ragu Reza mengeluarkan ponsel jadulnya tapi kemudian ia baru ingat bahwa ia tak menyimpan nomor Putri. Betapa bodohnya..!


"Kenapa Mas??" Tanya Bu Mirna bingung saat Reza hanya mengawasi ponselnya lama.


"Saya.., gak punya nomor Putri.." desis Reza lirih,


Bu Mirna mengawasi Reza heran, bagaimana bisa suami istri tidak saling menyimpan nomor??


"Sebentar saya ambil ponsel saya dulu ya.., sepertinya saya nyimpen nomor Mbak Putri.." cerus Bu Mirna seraya masuk ke dalam rumahnya.


Reza berbalik dan mengawasi sekeliling kos Pelangi yang mulai sepi. Pandangannya lantas terhenti di mobil milik Toriq. Ia ingin berpikiran buruk tapi..


"Loh Kak Reza ngapain disini??"


Reza menoleh cepat, Putri muncul dari pagar depan tanpa ia sadari. Ia menenteng sebuah kresek besar di tangannya.


Reza beranjak mendekat dan hendak membantu Putri membawa kresek itu tapi kemudian ia tertegun dan terhenti saat melihat Toriq muncul dari belakang Putri.


Reza melirik Putri sekilas, tiba tiba dadanya terasa sesak. Putri menunduk menghindari tatapan Reza yang dingin. Sepertinya ia sudah membangunkan singa yang sedang tertidur malam ini..


"Mas Reza ini nomornya Mbak Putri.." suara Bu Mirna yang tiba tiba muncul dari dalam rumahnya membuat Reza berpaling dari tatapan tajamnya pada Putri.


"Lohhh, ini Mbak Putri!!" Tunjuk Bu Mirna saat menyadari Putri sudah datang.


"Iya Bu Mirna.., tadi saya dari minimarket di ujung jalan.." sahut Putri tak enak hati.


"Kamu ngapain Toriq??" Tanya Bu Mirna heran melihat Toriq berdiri dibelakang Putri dan Reza.


"Dari nemenin Putri lah, kasian tadi malem malem keluar sendiri..kalau ada apa apa gimana??" Sahut Toriq santai, Bu Mirna menatap Toriq tajam.


"Kami permisi dulu Bu Mirna, maaf sudah merepotkan malam malam.." pamit Reza sebelum kemudian berlalu tanpa menolehi Putri dan Toriq lagi.


Reza menahan amarah karena hatinya terbakar oleh rasa cemburu. Putri mengikuti Reza dengan tergesa gesa. Langkah Reza terasa sangat terburu buru.


Bu Mirna mendekati Toriq dan menjitak kepala keponakannya itu gemas.


"Dasar kamu itu sumber masalah!!" Rutuk Bu Mirna kesal. Ia bisa melihat ekspresi Reza yang nampak marah saat meninggalkan mereka tadi.


"Salahku apa Tante??" Tanya Toriq bingung,


"Kamu ngapain nganter Putri keluar malem malem hah! Kaya gak ada kerjaan lain aja sih kamu ini.., sudah tahu Putri itu punya suami masih saja di deketin.."


"Dia bukan suaminya, aku tahu siapa Reza itu sebenarnya..!" tukas Toriq cepat tanpa merasa bersalah.


"Jangan gila kamu Toriq! Alkohol membuat isi kepalamu kosong!!" Rutuk Bu Mirna sebelum kemudian masuk kedalam rumahnya dengan kesal.


Toriq tersenyum masam, "Nanti kalian akan tau siapa Reza sebenarnya..!"


Toriq memperhatikan Reza dan Putri yang sudah berada di lantai dua, ia puas sudah membuat Reza cemburu kali ini. Meski tadinya ia tak berniat untuk melakukannya namun entah mengapa melihat sejoli itu bertengkar membawa kesenangan tersendiri bagi Toriq.


"Jangan lengah Bro! Atau aku yang akan menggantikan posisimu..!" Desis Toriq dengan senyum liciknya.