
Keesokan harinya, Putri bangun dan kembali menangis memohon untuk melihat Reza. Hati kecilnya seolah tak yakin Reza masih hidup setelah kecelakaan parah yang mereka alami beberapa hari yang lalu. Putri melihat dengan mata kepalanya sendiri, Reza memejamkan mata di sampingnya kala itu, wajah kekasihnya sudah berlumuran darah. Ia tak lagi merasakan wajahnya sendiri pun perih karena terkena pecahan kaca.
Dokter mengijinkan melihat Reza hanya melalui video. Kondisi Putri masih belum memungkinkan untuk bangun. Saat melihat video dari ponsel Dokter Steven, air mata Putri kembali tumpah, antara lega karena Reza masih hidup dan syok karena luka yang Reza alami nampak sangat serius. Belakangan Putri tahu, Reza di operasi karena cidera kepala usai kecelakaan itu. Kemungkinan terburuk adalah Reza akan lumpuh dan koma, bilapun ia sadar kemungkinan terbesar adalah ia akan amnesia.
Membayangkan Reza akan melupakan Putri dan semua hal yang pernah mereka lalui membuat Putri semakin sesak. Namun itu mungkin lebih baik daripada ia harus kehilangan Reza. Hanya Reza yang ia miliki saat ini dan kini sandiwara pernikahan mereka seolah menjadi beban. Akankah Putri terus berpura pura menjadi istri Reza??
"Mbak Putri, ini ponsel Mbak Putri, kan??"
Sebuah suara yang tak asing membuat lamunan Putri buyar, Pak Jodi sudah berdiri di samping ranjangnya seraya menunjukkan sebuah ponsel yang layarnya hancur.
"Iya itu milik saya, Pak, " sahut Putri kelu.
"Layarnya pecah, Mbak, tapi sepertinya ponselnya masih bisa menyala. Pihak kepolisian tadi memberikan ini pada saya, apa perlu saya ganti ponsel Mbak Putri sekarang??" tanya Pak Jodi sopan.
Putri mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel itu, Pak Jodi memberikannya dengan sopan. Ragu Putri mengunlock ponselnya dan benar saja, ponselnya masih menyala. Ada 7 panggilan tak terjawab dari sebuah nomor asing. Putri mengerutkan keningnya bingung, nomor siapa ini??
"Besok akan saya bawakan ponsel baru untuk Mbak Putri, " ucap pak Jodi saat melihat wajah Putri nampak sedih melihat ponselnya tak lagi berfungsi.
Putri tersenyum dan mengangguk setuju. Pak Jodi pamit untuk pulang dan meninggalkan Putri sendiri.
Putri menolehi tirai putih yang menjadi pembatas ruangannya dan Reza. Masih terdengar bunyi mesin pendeteksi detak jantung dan entah alat apa lagi, yang membuat Putri sedikit frustasi mendengarnya. Putri ingin bisa segera bangun dan melihat Reza dari dekat. Memberinya semangat untuk segera sadar dan sembuh.
"Putri, sudah bangun??" sapa Shelomita saat melihat Putri termanggu menatap tirai.
Putri tersenyum dan menghembuskan nafasnya pelan, dadanya masih terasa sakit saat bernafas, mungkin karena benturan saat kecelakaan.
"Gimana keadaan kamu hari ini? Sudah mendingan atau masih terasa sakit semua??" tanya Shelomita khawatir, ia melihat Putri meringis kesakitan saat menarik bernafas tadi.
"Sudah mendingan kok, Ma, Putri pengin cepet sembuh biar bisa nemenin Kak Reza, " sahut Putri lirih.
Shelomita tersenyum dan duduk di samping ranjang Putri.
"Dokter Steven cerita kalo tadi kamu sudah lihat Reza lewat video, benar begitu??"
Putri mengangguk pelan, ia masih tak bisa banyak bergerak.
"Mama juga berharap Reza segera sadar seperti kamu sekarang, kita akan melakukan semua yang terbaik untuk Reza," janji Shelomita lugas,
Putri melirik lagi tirai disampingnya,
"Boleh nggak, Ma, kalo tirainya dibuka? Putri, pengin lihat Kak Reza dari sini," pinta Putri sedikit memohon.
Putri kini bisa melihat dengan jelas tubuh Reza terbujur kaku tertutupi selimut. Air matanya menetes lagi, Putri mengulurkan tangan berharap bisa menggenggam tangan kekasihnya dan memberi sedikit kekuatannya yang tersisa, dadanya sesak melihat Reza terbujur tak berdaya. Shelomita memandang menantunya dengan sedih. Tak terasa ia ikut menangis.
" Putri yang salah, Ma, maafin Putri, " desis Putri diantara tangisnya, "andai Putri nggak tidur, andai Putri nemenin Kak Reza mengobrol mungkin kecelakaan ini nggak akan terjadi!" rutuk Putri lagi histeris.
Shelomita mendekat ke ranjang Putri dan menggenggam tangannya cepat.
"Jangan bilang begitu, Nak, semua yang terjadi sudah takdir dari tuhan, sekarang kita fokus untuk kesembuhan Reza, oke??" hibur Shelomita berusaha tenang.
Tangis Putri semakin pecah hingga Dokter Steven terpaksa kembali menyuntikkan obat penenang. Demi kesehatan Putri, akhirnya Dokter memutuskan untuk memisahkan kamar Putri dan Reza. Kondisi mental Putri belum pulih dan selama ia terus menerus menangis histeris maka itu akan menghambat kesembuhannya.
Saat terbangun dari tidurnya, Putri menyadari ia sudah berada di kamar rawat inap. Ia tak lagi berada di ICU bersama Reza. Tangisnya kembali pecah dan memaksa untuk kembali ke ruang ICU agar bisa lebih dekat dengan Reza. Dokter dan suster berusaha menenangkan namun sia sia. Untuk kesekian kali terpaksa Putri dibantu untuk kembali tenang dengan obat.
Dokter memutuskan bahwa Putri butuh Psikiater untuk kondisi mentalnya. Shelomita dan Rizal setuju untuk menerapi Putri mulai besok. Mereka tak ingin menantunya jadi gila dan depresi karena rasa bersalahnya pada Reza.
Dua hari awal selama terapi, Putri masih sering menangis histeris bila teringat pada Reza. Dokter Karol, Psikolog dari rumah sakit dibuat kalang kabut saat Putri tantrum. Seolah keinginan Putri untuk menemui Reza harus dituruti saat itu juga. Bahkan demi keamanan, Putri sampai harus dijaga oleh perawat yang siaga 24 jam.
Menjelang seminggu, kondisi Putri mulai stabil. Ia mulai mendengarkan perintah Dokter Karol untuk relaksasi saat tantrum dan depresi itu datang. Semakin Putri cepat pulih maka semakin cepat ia bertemu Reza, itulah yang ditanamkan Dokter Karol di benak Putri.
Perlahan luka di pelipis, pipi dan dagu Putri mengering, ia pun mulai bisa menggerakkan badannya kecuali tangan kanannya yang retak. Dokter Steven bilang akan butuh waktu 2 sampai 4 bulan untuk tangannya pulih.
Semakin hari kondisi kejiwaan Putri semakin membaik. Ia mulai belajar berjalan meski harus dengan bantuan suster. Shelomita terus mengunjungi dan memberi semangat pada Putri untuk sembuh.
Hingga tiba saatnya Putri diperbolehkan melihat Reza. Dokter Karol tetap mendampingi Putri untuk berjaga jaga, khawatir tiba tiba gadis itu tantrum lagi.
Namun ternyata, Putri begitu tenang saat bertemu Reza untuk pertama kali. Ia bahkan mengelus dan menggenggam tangan Reza dengan erat. Dokter Karol berbisik di telinga Putri untuk memberinya support.
"Kak Reza, aku disini, cepet sembuh ya, cepet bangun biar kita bisa pulang bareng minggu depan," desis Putri di telinga Reza.
Detak jantung Reza di mesin pendeteksi jantung nampak meningkat, Dokter Steven takjub dengan pemandangan di hadapannya. Emosi yang disalurkan Putri nampak di respon oleh Reza di alam bawah sadarnya.
Akhirnya setiap hari Putri dianjurkan untuk mengunjungi Reza dan mengajaknya mengobrol. Semua berharap pada keajaiban yang mungkin masih bisa terjadi.
Setiap hari Putri menceritakan hal yang pernah ia lalui bersama Reza, hal manis bahkan hal menyebalkan yang membuat Putri tertawa bila mengingatnya. Semua kebaikan dan pelayanan Reza padanya, perhatian bahkan sifat lugunya.
Beberapa cerita membuat Putri ingin menangis namun ia kembali teringat pada pesan dokter Karol untuk relaksasi tiap akan mengeluarkan air mata. Putri tidak boleh menyerah, ia harus semangat sampai Reza terbangun dari komanya..
...****************...
Jempolmu semangatku, sister!!π₯° jangan lupa ππ»