
Suara isak tangis yang berisik membuat Reza membuka mata. Dua orang perempuan dan seorang laki laki berdiri disamping ranjangnya. ‘Siapa lagi mereka??’ batin Reza bertanya-tanya.
"Reza! Ini Mama, Nak." Seorang wanita paruh baya memeluk Reza perlahan lantas menangis sesenggukan.
Reza melirik seorang perempuan lain yang berdiri di samping kiri ranjangnya. Dia masih muda, rambutnya panjang, wajahnya cantik dan kulitnya putih. Tangan kanannya masih dibungkus perban dan memakai arm sling. Apakah ia juga kecelakaan seperti dirinya??
"Dia Putri, Nak, istri kamu," terang suara lelaki yang sedari tadi mengawasi Reza dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan.
Reza terbelalak, istri? Reza punya istri semuda dia?? Apakah ini lelucon??
Reza melirik lelaki yang tadi bersuara, apa dia Papanya??
"Iya ini Papa, Nak, senang melihatmu lagi."
Reza menarik nafasnya sedih, perempuan yang tadi memeluknya mengurai pelukannya dan menghapus air mata di pipinya.
"Gapapa, Reza. Papa, Mama dan Putri akan melakukan yang terbaik agar kamu bisa cepat mengingat kami lagi." terang perempuan yang menyebut dirinya Mama itu.
Reza menghembuskan nafasnya kelu, "saya mau tidur, kalian bisa keluar sekarang," ucap Reza dingin.
Rizal, Shelomita dan Putri saling mengawasi satu sama lain.
"Kak Reza, aku temenin, ya??"
Reza melirik perempuan itu cepat, entah mengapa ia seperti familiar dengan suara perempuan yang mengaku sebagai istrinya barusan. Tapi bukannya senang mendengar suara yang merdu, Reza malah kesal setiap mendengar suaranya.
"Keluar, aku mau tidur!" usir Reza, ia butuh waktu untuk mencerna semua yang terjadi.
Mamanya mendekat ke tempat Putri dan merangkul bahunya lembut, lantas menuntunnya pergi.
Reza mengawasi mereka semua dengan perasaan hampa. Ia bahkan tak tahu harus merasa bagaimana…
Keesokan harinya,
Putri datang lagi saat Reza baru saja di pindahkan ke ruangan rawat inap VVIP. Dia membantu membereskan beberapa barang meski dengan tangan yang masih terluka.
Reza sesekali mencuri pandang mengawasinya. Ia berharap bisa mengingat sesuatu dari wajah itu namun sia-sia.
"Kak Reza, mau makan? Aku suapin, ya??" tanya Putri tiba-tiba saat Reza melamun menatapnya.
Reza membuang muka cepat, penyangga di lehernya sudah di lepas tadi pagi. Ia jadi bisa menoleh kesana kemari dengan bebas meski masih harus perlahan-lahan.
"Aku nggak lapar!" sahut Reza dingin.
Putri yang sudah membawa piring untuk Reza lantas meletakkan piring itu lagi pelan. Sepertinya ia harus ekstra sabar menghadapi Reza kali ini.
Kemarin saat dikabari bahwa Reza sudah sadar, rasanya Putri hampir pingsan karena bahagia. Meski ia tahu resiko yang akan dia hadapi namun setidaknya melihat Reza sadar dan hidup sudah lebih dari cukup untuk ia syukuri.
Putri mendekat ke ranjang Reza dan duduk di sampingnya. Ia mengawasi wajah Reza yang sangat ia rindukan. Beberapa luka di wajah Reza menyisakan bekas yang masih nampak.
Reza melirik Putri yang sedang menatapnya, entah mengapa Reza jadi jengah ditatap seperti itu.
"Untuk apa kamu kemari?" tanya Reza cuek.
Putri tersenyum dan menyentuh tangan Reza yang dingin untuk ia genggam namun reflek Reza menepisnya dengan kasar.
"Jangan sembarangan menyentuhku!" perintah Reza tak suka.
Putri terbelalak kaget namun kemudian berusaha untuk kembali tenang.
"Kak Reza nggak inget apapun tentang aku, ya?" desis Putri sedih.
"Gapapa, kita mulai semuanya dari awal, aku akan membantu Kak Reza buat inget semuanya lagi," lanjut Putri optimis.
Reza tak menyahut, ia bahkan ragu apakah ia bisa sembuh dan bisa kembali mengingat semua memorinya.
"Aku akan memperkenalkan diriku lagi sama Kak Reza, okey??"
Reza melirik Putri sekilas, wajahnya nampak berbinar.
"Nama lengkapku Anisa Putri Fransiska, orang-orang manggil aku Putri, umurku tahun ini 18 tahun, kurang beberapa bulan lagi sih udah 19 tahun tapi gapapa anggep aja umurku 18, ya!" terang Putri antusias.
Reza tak bergeming, tapi ia mendengarkan setiap perkataan Putri.
"Dulu kita pertama kali ketemu karena kita satu kampus di kotaku, Kak Reza sering nebengin aku berangkat dan pulang kuliah..." Putri mengawasi Reza sekilas,
"Kak Reza yang dulu aku kenal tuh orangnya baiiiiiik banget, meski nggak gampang akrab sama orang lain tapi Kak Reza suka bantuin siapa aja, Kak Reza juga humoris meski kadang leluconnya jayus, hihihi..." tawa Putri renyah.
Reza melirik Putri yang sedang tertawa, dadanya berdesir hangat melihat gadis itu tertawa dengan gayanya yang lugu.
"Kita dulu pernah kabur berdua, selama 2 bulan tinggal di kos pelangi, banyak cerita yang nanti akan aku ceritakan satu persatu biar Kak Reza nggak bosen ketemu aku."
"Kenapa aku kabur bisa denganmu?" tanya Reza dingin.
"Sebelumnya, aku nggak tahu kalo Kak Reza ternyata juga sedang kabur dari orang tua, terus waktu itu aku kabur karena masalah pribadi dengan orang tuaku, karena aku nggak punya siapa-siapa lagi selain Kak Reza akhirnya malam itu aku numpang menginap semalam di kos Kak Reza." Putri mengawasi Reza yang nampak menyimak ceritanya.
"Terus keesokan harinya pas aku mau pergi, eh, kepergok sama Kak Reza, hahhaa..., nggak tau kenapa malah Kak Reza ikut nemenin aku kabur akhirnya!" lanjut Putri antusias mengingat masa masa indahnya.
"Lalu kapan kita menikah??"
Putri terhenyak, ia terdiam beberapa saat.
Reza menolehinya penasaran dan menatapnya serius.
"Apa benar kamu istriku? Atau kamu cuma mengaku ngaku??"
Putri menelan salivanya gugup, ia menahan nafasnya yang tiba-tiba terasa berat. Bagaimana ia harus menjelaskan pada Reza bahwa pernikahan mereka hanyalah pura-pura.
"Benar, kan? Kamu cuma mau menipuku??"
"Buat apa aku menipu, Kak Reza?!" tukas Putri cepat.
"Aku kaya raya, aku punya segalanya! Lagipula kamu bukan tipe wanita seleraku!"
"Oh ya, lantas selera Kak Reza seperti apa?" goda Putri terkekeh. Ia sadar betul Reza masih temperamen karena rasa depresi atas penyakitnya.
Reza tak menyahut, ia membuang muka lagi kesal. Ia sendiri tak tahu bagaimana kriteria wanita yang ia sukai, tapi yang pasti ia tak suka gadis belia kekanakan!!
"Yang pasti bukan seperti kamu!"
"Oh ya, waaah, sayang sekali yah! Kak Reza malah menikahnya sama perempuan kaya aku." Putri menahan senyum memperhatikan Reza yang nampak tegang.
"Aku mau tidur, pergi sana!" usir Reza seraya memejamkan mata. Ia berharap bisa tidur dan tak mendengar suara berisik wanita itu lagi.
"Okey, Kak Reza tidur aja, aku mau nonton tivi."
Reza membuka matanya sedikit, gadis itu berdiri dari kursi dan berjalan santai menuju sofa. Reza menghembuskan nafasnya jengkel.
Bagaimana bisa dulu ia jatuh cinta dan menikah dengan perempuan belia seperti itu??? Ia jadi nampak seperti pedofil. Selisih 10 tahun? Cih..setan apa yang dulu merasuki otaknya!!