
Ketika kedatangan yang pertama Zeyna merasa ia diterima baik oleh Reza, keesokan harinya saat tak sedang sibuk Zeyna kembali berkunjung ke rumah lelaki itu.
Reza yang sedang bersantai di taman sambil membaca buku di sore hari nampak kaget saat Zeyna kembali datang. Ia tak senang juga tak sedih dengan kehadiran Zeyna, perasaan Reza hampa.
"Kemana istrimu??" tanya Zeyna penasaran saat sedari tadi ia tak melihat Putri muncul.
"Sedang keluar tadi, sebentar lagi mungkin datang," sahut Reza berbohong.
Zeyna mengangguk pelan seraya mengeluarkan sesuatu dari kantong kertas yang ia bawa.
"Nih!! Ini buku terbaru dan best seller dari penulis favorit kita dulu." Zeyna menyerahkan sebuah buku pada Reza.
Reza melirik buku yang disodorkan Zeyna dan menerimanya ragu. Zeyna pernah bercerita bila dulu mereka memiliki hobi yang sama yaitu membaca.
"Makasih," ucap Reza lirih seraya membuka buka lembaran buku di tangannya.
"Sebagai gantinya besok temeni aku nonton yuk! Ada film yang lagi pengen aku tonton nih."
Reza menolehi Zeyna kaget, Zeyna tersenyum.
"Kenapa? Emang nggak boleh ya ngajak teman lama nonton bioskop??"
Reza menghembuskan nafasnya kelu dan membuang muka keki,
"Nanti aku deh yang minta ijin sama istrimu!" lanjut Zeyna berapi api.
"Nggak perlu, biar aku aja," tukas Reza cepat, ia hanya tidak mau Zeyna tiba-tiba memaksa untuk bertemu Putri.
"Owh okey, besok sore aku jemput ya?"
Reza mengangguk pelan, setidaknya dengan keluar rumah meski sebentar mungkin akan membuatnya sedikit lupa pada Putri.
"Kamu sudah makan??" tanya Zeyna basa basi, sejak tadi ia merasa Reza nampak sangat suntuk.
"Sudah tadi."
"Kok lemes gitu sih, kaya orang lagi putus cinta tau nggak!" goda Zeyna terkekeh.
Reza tersenyum sumbang, apakah terlihat oleh orang lain bila Reza sedang tidak baik baik saja??
"Oiya, besok juga aku pengen ngenalin kamu ke tunangan aku, biar kita impas! Aku kenal istrimu dan kamu kenal tunanganku."
"Biar apa seperti itu?" tanya Reza bingung.
"Biar kita sama sama ngerasain sakit hati kalo ketemu pasangan masing masing."
"Maksud kamu??" tanya Reza lagi bingung.
"Kalo kamu emang sudah nggak ada rasa sama aku, mari kita buktikan besok!" jelas Zeyna tersenyum.
Reza menolehi Zeyna ragu.
"Kalo kamu mau nonton sama tunangan kamu yauda nonton aja berdua dengan dia, ngapain mesti ngajak aku."
"Ya nanti kita ketemu tunanganku habis kita nonton lah! Dia nggak suka nonton makanya aku ngajakin kamu aja," seru Zeyna cepat.
Reza tak menyahut, ponsel Zeyna tiba-tiba berdering dari dalam tasnya. Reza meliriknya sekilas, tiba-tiba ia teringat pada Putri saat dulu sering bertelefon dengan lelaki itu di belakangnya.
"Bentar ya, aku angkat telefon dulu," pamit Zeyna seraya berdiri dan menjauh untuk mengangkat telefonnya.
Reza mengawasi Zeyna dari jauh. Baru beberapa hari ditinggal Putri namun Reza sudah merindukannya. Belum ada kabar dari pak Jodi tentang tempat tinggal Putri sekarang, Reza pun tak tahu harus mencarinya kemana..
Andai Reza bisa menelfonnya seperti yang sedang dilakukan Zeyna sekarang, tapi Putri tak membawa ponsel pemberian orang tuanya dan itu membuat Reza semakin merasa bersalah karena sudah menuduh Putri wanita matre.
"Reza, sepertinya ada sedikit masalah di kantor, aku pamit dulu yah!!" Zeyna tiba m-tiba sudah berdiri di depan Reza dan menarik tasnya di meja.
"Besok aku jemput kamu jam 3 sore, okey?! Oiya jangan lupa bukunya dibaca ya," lanjut Zeyna seraya mendekat ke pipi Reza dan langsung mengecupnya, bahkan tak memberi Reza waktu untuk menghindar.
Zeyna tersenyum dan bergegas berlari menjauh dengan tergesa-gesa.
Reza menghembuskan nafasnya yang tadi sempat ia tahan saat Zeyna mencium pipinya. Apa apaan!!
Reza merasa seperti laki-laki murahan.
Malam harinya..
Reza mematut ponselnya lama, ada nomor kontak Putri terpampang di layar dan Reza hanya menatap barisan nomor itu dengan hati hampa.
Mungkin Reza yang terlalu egois, keras hati dan terlalu terburu-buru menyimpulkan permasalahannya dengan Putri. Seharusnya Reza lebih dewasa dan mau mendengar keluh kesah Putri, bukan malah menuduhnya seperti tempo hari.
Meski pernikahan mereka hanya bohongan namun entah mengapa justru Reza merasa sedih dengan kenyataan itu. Tadinya ia pikir Putri benar-benar miliknya, tadinya ia pikir hanya ialah satu satunya laki-laki yang dipuja, tapi ternyata semua palsu. Ada lelaki lain dihidup Putri yang menjemputnya tempo hari saat ia pergi, lelaki bernama Toriq.
Reza meletakkan kembali ponselnya di atas meja nakas dan memejamkan mata. Semakin hari ia semakin takut kehilangan Putri meski sejak awal ia tak pernah benar-benar memilikinya. Kehilangan memori sungguh sangat menyiksanya, ia seperti botol kosong yang terombang ambing di lautan. Tak ada yang bisa ia ingat atau kenang selain pertengkarannya dengan Putri beberapa hari yang lalu. Ia tak memiliki kenangan indah apapun bersamanya.
Keesokan hari..
Zeyna benar benar menjemput Reza sepulang dari kantornya.
"Kemana istrimu? Biar aku bisa berpamitan."
"Nggak usah, dia lagi keluar dengan teman-temannya," tukas Reza mengelak, ia sudah bersiap untuk pergi.
Zeyna menoleh ke dalam rumah Reza yang memang nampak sepi, hanya beberapa staf rumah tangga yang stand by di beberapa sudut rumah. Ia lantas membantu Reza berjalan memuju mobilnya, membukakan pintu dan menutupnya setelah Reza duduk.
Selama perjalanan menuju mall tempat mereka akan menonton bioskop Reza tak banyak bicara. Pikirannya fokus pada jalanan yang ia lalui. Zeyna beberapa kali mengajak Reza mengobrol namun ia nampak tak terlalu menanggapinya.
"Istrimu nggak marah kan??" tanya Zeyna mulai khawatir, sejak tadi Reza nampak suntuk dan lelah.
Reza menolehi Zeyna yang sedang menyetir. "Nggak, dia nggak seposesif itu," sahut Reza.
"Berarti kamu yang posesif??" tukas Zeyna menggoda.
Reza membuang muka dan tak menyahut.
"Ternyata kamu masih sama kaya Reza yang aku kenal belasan tahun yang lalu!" cetus Zeyna terkekeh.
"Semakin kamu posesif, semakin istrimu merasa kamu sangat mencintai dia, dan kalo sudah begitu dia akan semakin memberontak!" lanjut Zeyna lugas, ada sedikit cemburu di hatinya karena Daren, tunangannya, bahkan tak seposesif itu.
Daren tak posesif, ia membebaskan Zeyna melakukan apapun namun ia tak suka dengan ketimpangan sosial diantara mereka. Daren selalu merasa Zeyna lebih mapan dan ia tak menyukainya.
Usai perjalanan yang lumayan menyita waktu akhirnya sampailah mereka di Mall. Zeyna membantu Reza turun dari mobil dan memilih untuk menaiki lift menuju gedung bioskop. Beberapa orang yang berpapasan dengan Reza nampak meliriknya aneh karena berjalan dengan bantuan kruk elbow namun ia tak peduli. Reza senang akhirnya bisa melihat keramaian meski ia masih merasa asing dengan semuanya.
Usai membeli tiket untuk mereka berdua, Zeyna mengajak Reza untuk segera masuk kedalam studio tempat mereka nonton. Filmnya akan dimulai sebentar lagi dan mereka hampir terlambat. Zeyna berjalan lebih dulu menuju kursi VIP pilihannya, Reza mengekor dan sesekali nampak kesulitan saat ia harus menaiki beberapa tangga.
Sebuah sofa berbahan leather yang nampak sangat nyaman berjejer, Zeyna bergegas menghempaskan tubuhnya ke sofa itu. Ia mengisyaratkan Reza untuk segera duduk juga karena film sudah mulai diputar. Reza menurut dan duduk perlahan, setidaknya ia tak melulu memikirkan Putri di saat seperti ini.
Sebentar, apakah nonton berdua seperti ini namanya berhianat??
...****************...
Buat silent reader yang hanya menikmati tanpa memberi like, terima kasih banyaaaak ya π₯°
Gapapa kok, yang penting kalian terhibur dengan cerita ini dan masih setia membacanya hingga bab kepala lima π¬π¬
Dan buat yang selalu setia memberi like, komentar, hadiah bunga, vote bahkan tetap menjadikan cerita ini favorit, terima kasih banyak banyakkkk buat kalian ππ
Selamat berpuasa sister-sisterku semua β€οΈ