
"Kak Reza, tolong..."
Reza membuka mata cepat, nafasnya tersengal-sengal. Keningnya sudah penuh dengan keringat dingin. Ia bermimpi buruk tentang Putri...
Perlahan Reza beringsut duduk dan mengusap keningnya yang basah. Entah sudah berapa lama ia mencoba melupakan Putri namun gadis itu selalu datang di mimpinya.
Setiap hari Reza menyibukkan diri dengan menulis jurnal, cerita atau apapun yang bisa mengalihkan perhatiannya dari Putri, sejauh ini berhasil kecuali saat malam ia terlelap. Putri rutin selalu mengunjunginya dalam mimpi. Namun mimpi malam ini benar-benar membuat Reza ketakutan. Suara Putri masih terngiang-ngiang dan membuat Reza khawatir. Apakah Putri baik-baik saja? Dimana dia sekarang??
Ragu Reza meraih ponselnya di atas lemari nakas, ia membuka daftar kontak telefonnya dan mencari nomor Putri. Saat barisan nomor acak. yang ternyata sudah Reza hafal diluar kepala itu muncul di layar, Reza galau apakah ia harus menelefon nomor itu atau tidak..
Terakhir kali Reza menelfonnya seminggu yang lalu, nomor itu aktif dan tersambung. Sepertinya Putri sudah membeli ponsel baru.
Dengan memberanikan diri, Reza memencet ikon telefon pada layar ponselnya, saat nada sambung berbunyi Reza memejamkan matanya gugup. Ia melirik barisan angka jam di layar ponselnya, jam 2 dini hari!! Gila!!
"Hallo..." sapa sebuah suara lembut.
Reza termanggu, suara itu.., suara lembut dan renyah itu..Putri!!
"Hallo, siapa ini?" tanya suara Putri lagi.
Reza menahan nafasnya yang sedari tadi berhembus tak beraturan saat mendengar suara gadis itu.
"Ini aku, Put.." ucap Reza kelu, ia bahkan tak sanggup menahan tubuhnya yang melemas di setiap sendi-sendinya.
"Siapa? Hallo??"
Putri mencoba menajamkan pendengarannya lagi, jiwanya masih belum sepenuhnya terkumpul, tadi ia sudah benar-benar terlelap saat ponsel pemberian Toriq berbunyi.
Reza memutuskan sambungan telefonnya cepat. Ia gugup, beruntung tadi Putri tak mengenali suaranya. Reza melempar ponselnya ke laci lemari nakas dan kembali berebah. Setidaknya ia tau Putri sedang baik-baik saja, itu sudah cukup.
Sudah tiga bulan lebih dan rupanya Reza masih merindukannya. Reza akan meminta Pak Jodi untuk lebih serius mencari keberadaan Putri. Terbiasa melihat dan berada di dekat gadis ceria itu, membuat Reza harus berusaha keras untuk melalui hari-hari tanpanya.
Sejak pertama kali sadar dari kecelakaan, hanya Putri dan kedua orang tuanya lah yang sabar menemani Reza, meskipun berkali-kali harus menangis karena sifat Reza yang kasar dan angkuh, namun tak pernah sekalipun Putri menyerah padanya. Hanya karena kehadiran Zeyna semua lantas berubah..
Reza sendiri masih tak dapat merasakan apapun meski setiap beberapa hari sekali Zeyna datang menemuinya. Entah hanya untuk mengobrol ataupun membawa makanan dan buku kesukaan Reza. Zeyna baik, dia perhatian dan Reza klik bila berdiskusi tentang buku dengannya namun hatinya tak dapat berbohong. Reza hampa saat bersama Zeyna.
Tak seperti bila Reza bersama Putri, meski terkadang Reza bisa tiba-tiba kesal namun selalu ada rindu di hatinya untuk sekedar melihat wajah imut gadis itu. Melihat mimik wajahnya yang selalu ceria dan tersenyum, Reza menyukainya.
Keesokan harinya,
Reza terbangun ketika sinar matahari menembus tirai vitrasenya, kamarnya seketika terang benderang. Jarum jam menunjuk angka 8.
Perlahan Reza mengeluarkan ponselnya dari laci nakas dan menghubungi nomor Pak Jodi. Dulu Putri selalu membahas tentang Kos Pelangi, sepertinya Reza akan mulai mencari dari tempat itu. Pak Jodi pasti tahu tempatnya karena selama ini dialah yang mengurusi seluruh ***** bengek permasalahan di rumah.
Reza sudah mulai bisa berjalan menggunakan tongkat elbow, meski tanpa tongkat pun ia bisa melangkah meski perlahan-lahan. Ia bergegas mandi dan bersiap untuk mencari Putri. Reza harus menemukan gadis itu secepatnya. Hari ini juga!! Rasa rindunya pada Putri semakin tak terbendung sejak mimpi semalam.
Tak sampai sejam, Reza sudah rapi dan bergegas turun menggunakan lift. Pak Jodi dan mobilnya sudah standby di halaman.
Saat pintu lift terbuka, Shelomita menyambut putranya keluar dengan tatapan suka cita. Mungkin ini akan menjadi hari yang bersejarah bagi Reza, dia akan menjemput kembali belahan hatinya.
"Apa kamu sudah yakin akan menjemput nya nak??" tanya Shelomita lagi.
Shelomita tersenyum lega dan memeluk Reza,
"Do what makes you happy, Son!" ucapnya tulus,
Reza mengurai pelukan Mamanya dan bergegas menghampiri Pak Jodi.
"Kita berangkat, Pak!" perintah Reza lugas seraya berjalan terlebih dahulu memasuki mobilnya.
Pak Jodi mengangguk sopan dan menutup pintu Reza usai majikannya itu duduk.
Dengan sedikit bersusah payah Reza masuk ke dalam mobil mewahnya, kakinya masih sedikit susah untuk menekuk, sedikit sakit namun Reza menahannya demi bisa segera bertemu dengan Putri.
Shelomita mengawasi putranya dengan penuh haru, akhirnya setelah beberapa bulan selalu nampak murung dan menyendiri kini Reza terlihat sangat bersemangat. Ia melambaikan tangan saat mobil minivan mewah yang dinaiki putranya berlalu, setidaknya Reza sudah menemukan semangat hidupnya lagi.
"Mas Reza, ini sarapan dari ibu, tadi ibu berpesan agar mas Reza sarapan dulu." Pak Jodi menyerahkan sebuah kotak nasi dari kursi depan.
Reza meraih kotak itu dan tersenyum kecil, ia sungguh beruntung memiliki orang-orang yang peduli padanya.
Selama 2 jam perjalanan menuju Kos Pelangi, tak sekalipun Reza memejamkan mata. Meski semalam ia tak bisa tidur nyenyak, namun hari ini ia begitu bersemangat hingga melupakan rasa kantuknya.
"Sebentar lagi kita sampai, Mas.." ucap Pak Jodi.
Reza menarik nafasnya lega, jantungnya berdegup lebih cepat. Mobil memasuki sebuah rumah susun, ada plang besar di depan di pinggir jalan raya bertuliskan nama 'Kos Pelangi'. Reza lega namun sedikit gugup. Saat mobil terhenti, Pak Jodi terlebih dahulu turun dan membukakan pintu mobil untuk tuannya.
"Apa mas Reza mau langsung turun atau saya cek dulu ke dalam??"
Reza menggeleng dan menyerahkan tongkat elbownya pada Pak Jodi. Ia menurunkan kakinya perlahan dan keluar dari mobil.
Pemandangan yang tak asing membuatnya tertegun cukup lama. Dua bangunan dengan satu rumah induk dan sebuah rumah susun cukup besar di bagian lain. Reza menarik nafasnya gugup.
Sudah mulai siang saat Reza tiba, beberapa kamar kos nampak tertutup rapat. Reza mengedarkan pandangannya ke sekeliling Kos Pelangi, ada mobil sedan putih yang tak asing terparkir di ujung halaman. Rahang Reza menegang seketika, mobil laki laki yang menjemput Putri, milik laki-lali bernama Toriq itu!
"Kita langsung ke atas?" tanya Pak Jodi saat melihat Reza terdiam cukup lama.
Reza menoleh dan mengangguk ragu, Pak Jodi terlebih dahulu berjalan meninggalkan Reza yang masih mematung.
"Mas Reza," panggil Pak Jodi saat ia menoleh dan Reza masih tak bergeming dari tempatnya berdiri tadi.
Reza menarik nafasnya sekali lagi dan mengayunkan tongkatnya dengan pasti. Beberapa menit lagi ia akan bertemu Putri, kekasihnya.
...****************...
Otewe menjemput tuan Putri π, Telaaaaat Reza!!
Hayooo, jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dong ya kalo sudah baca π, biar yang di sini makin semangat nungguin Reza, eh, makin semangat nulisnya π.