
Reza membuka mata saat terdengar suara berisik piring berdenting. Ia berbalik dan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Putri terlihat sibuk menata piring dan gelas di meja. Gerak geriknya yang menggemaskan membuat Reza seolah terhipnotis, bahkan menyiapkan sarapan saja dia terlihat begitu imut..batin Reza terheran heran.
Semalam Reza tidur di ranjang lagi. Ia tidur sejak sore dan tak lagi bangun hingga pagi. Sepertinya masa pemulihan membuatnya menjadi pangeran tidur. Beruntungnya Reza tak bangun tengah malam lagi, entahlah semalam apa saja yang ia lakukan saat sedang tertidur..apakah Putri memeluknya lagi? Atau jangan jangan ia yang memeluk Putri??!
Ketika aroma masakan perlahan tercium indranya, Reza beranjak duduk dan memperhatikan Putri yang masih tak menyadari bahwa Reza sudah bangun. Putri memasak sarapan untuk Reza.
"Wangi sekali..."
"Oh!!" Jerit Putri kaget seraya menolehi Reza, "Kak Reza ngagetin aja sih!!"
Reza terkekeh dan turun dari ranjang pelan. Ia mendekat ke meja tempat Putri menata makanannya. Entah apa yang Putri masak kali ini, Reza tak pernah melihat makanan seperti ini sebelumnya..
"Mandi dulu gih.., habis gitu sarapan bareng.." perintah Putri saat Reza berdiri mematung memperhatikan masakannya.
Perut Reza berbunyi, rasa laparnya seketika muncul melihat masakan Putri yang menggugah selera. Ia berbalik dan menarik handuknya untuk mandi, Reza baru ingat bila hari ini ia pun harus ke toko Kakek Nun untuk membantu beres beres persiapan pameran.
Usai mandi dan mengenakan pakaiannya, Reza duduk di kursi yang sudah Putri siapkan.
"Ini kamu yang bikin Put??"
"Iyalah! Gini gini aku jago masak tau.." sahut Putri bangga.
Reza memungut sendok di piring dan mencoba makanan yang ternyata adalah nasi goreng yang diselimuti telur. Di suapan pertama yang Reza rasakan adalah gurih dan manis, semua bumbunya terasa pas. Lidah Reza cocok dengan semua masakan Putri.
"Enak??" Tanya Putri seraya mengunyah makanannya,
Reza mengangguk dan lekas menghabiskan nasi gorengnya. Ia tak ingin terlambat ketempat Kakek Nun.
"Hari ini Kak Reza kerja?" Tanya Putri lagi, Reza tampak begitu tampan bila mengenakan pakaian rapi seperti pagi ini.
"Iya..." sahut Reza saat suapan terakhirnya habis. Ia meneguk teh hangat yang sudah Putri siapkan.
"Kapan kapan kita menginap ditempat Kakek Nun yuk.." pinta Putri memelas, “Bosen nih di kamar terus..”
Reza mengawasinya sambil meneguk teh yang masih tersisa.
"Iya nanti habis pameran yah, kita main main dan nginep dirumah Kakek Nun.." janji Reza saat gelasnya sudah kosong.
Perlahan Reza berdiri dan mengeluarkan jaketnya dari dalam lemari. Saat memasang jaket diam diam Reza memperhatikan Putri yang masih memakan sarapannya dengan santai. Reza mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uangnya.
"Aku berangkat ya Put..." pamit Reza seraya mendekat ke tempat Putri duduk,
"Ini buat pegangan kamu, kalo butuh apa apa pake aja.."Lanjutnya lalu memberikan uang yang ia keluarkan dari dompet tadi pada Putri.
Putri mengawasi uang yang Reza letakkan di meja dengan bingung. Banyak sekali..
Reza tersenyum dan beranjak, tapi Putri menarik tangannya cepat.
"Kak Reza pegang aja duitnya, aku masih ada kok.."
Reza menggeleng cepat, ia memungut uang yang tadi ia geletakkan di meja dan memasukkannya di saku piyama Putri.
Putri mengangguk dan tersenyum. Ia melepas genggamannya tak rela. Ia masih ingin berlama lama bersama Reza. Kenapa Reza harus secepat ini sembuh dari sakitnya sih.., batin Putri kesal sendiri.
Saat Reza sudah pergi, Putri mengeluarkan lembaran uang yang Reza sisipkan di sakunya. Ada dua puluh lembar uang seratus ribuan, Putri terperangah. Baru kali ini ia menerima uang sebanyak ini..bahkan uang sakunya pun sebulan tak sampai sejuta. Dan ini dengan mudahnya Reza memberi uang tanpa berpikir panjang. Siapa sebenarnya Reza ini? Putri mulai berpikir keras lagi..
•••••••••••••••••••
Ditempat Kakek Nun,
Sejak datang tadi Reza nampak berseri seri. Kakek Nun memperhatikan setiap detail ekspresi Reza yang lebih banyak tersenyum hari ini. Apa sakit kemarin sudah merubah sifatnya yang pemurung???
"Reza..." panggil Kakek Nun lirih,
"Iya Kek??" Sahut Reza sambil tetap menata buku buku dan memasukkan kedalam box.
"Kamu sudah sehat betul??"
Reza menolehi kakek Nun yang berdiri dibelakangnya,
"Iya saya sudah sehat Kek.., kemarin saya sudah puas puasin tidur.."
"Syukurlah.., karena hari ini kamu tidak tampak seperti orang yang baru sembuh.." ucap Kakek Nun sambil berlalu.
Reza berpikir sejenak, apa ia nampak berbeda hari ini?? Ia bahkan memakai pakaian yang sama seperti yang ia pakai minggu lalu karena tiap dua hari sekali Putri melaundrykan pakaian mereka berdua di laundry kiloan depan Kos Pelangi.
Usai mengepak buku buku yang hendak dibawa ke pameran besok lusa, Reza mengambil sebuah buku novel kuno berbahasa Inggris. Ia sudah lama tak mengasah skill bahasa asingnya melalui membaca.
Reza beringsut duduk di kursi tengah dan serius membaca novel roman di genggamannya. Reza lama tak menulis sejak berada di kota ini, kadang ia rindu menulis sebuah cerita yang dulu bisa ia lakukan hampir setiap hari. Kini ia tak mendapat pemasukan dari hobinya tersebut, untuk kehidupannya selama berada di kota pelarian ini Reza menggunakan uang tabungan yang selama ini tak pernah ia sentuh selama beberapa tahun terakhir.
"Reza kamu gak pulang??" Suara Kakek Nun yang menggelegar mengagetkan Reza yang asyik membaca sedari tadi.
Reza menolehi Kakek Nun lalu berganti mengawasi jam di tangannya. Jam 5 sore. Mengapa cepat sekali waktu berlalu?? Membaca memang membuat waktu terasa berjalan kilat. Bahkan dulu Reza sering tidur menjelang subuh bila sudah asyik dengan buku bacaannya.
"Iya Kek..," sahut Reza kemudian seraya berdiri dan mengembalikan buku yang ia baca ke raknya semula.
"Oiya Kek, kapan kapan boleh kan kami menginap disini??"
"Kami??" Tanya Kakek Nun bingung.
"Iya, saya dan Putri.." terang Reza malu malu,
Kakek Nun mengangguk paham dan tersenyum senang,
"Tentu saja!!.., selesai pameran kalian harus menginap disini ya.."
Reza mengangguk dan menyalami kakek Nun sebelum pulang. Ia bergegas menyalakan mesin motornya dan melaju pulang. Reza sudah rindu pada Putri..
Entah mengapa Reza merasa ia hidup seperti layaknya suami istri sungguhan, berangkat kerja pagi dan pulang sore. Meskipun ia tak benar benar bekerja dan menghasilkan uang sih.. Toko Buku Kakek Nun hanya ia jadikan kedok agar Putri tak curiga tentang asal muasal uang yang Reza dapatkan.
Saat melihat Warung Nasi Padang dikejauhan Reza menurunkan laju motor maticnya, ia akan membungkuskan makan malam sekalian untuk Putri. Istri bohongannya yang menggemaskan..