Run Away

Run Away
30



Pertemuan kedua kalinya dengan Zeyna, membuat Reza merasa bersalah pada Putri. Meski tak ada niat untuk berhianat namun Reza pasti akan sangat cemburu bila tahu Putri melakukan hal yang sama secara diam diam dibelakangnya. Seketika Reza takut terkena karma..


"Kak Reza, belum tidur??" tanya Putri saat ia melihat Reza masih belum memejamkan mata.


Reza menolehi Putri yang tidur meringkuk di sampingnya dan tersenyum kelu. "Belum ngantuk," sahut Reza lirih.


Putri mengulurkan tangannya dan memeluk Reza, " aku puk puk ya biar bisa tidur,"


Reza menggenggam tangan Putri cepat, ia ingin bercerita banyak pada gadis itu namun Reza tak tahu harus memulai darimana..


"Kamu sayang sama aku kan, Put??" tanya Reza tiba tiba,


Putri mengawasi Reza bingung, apa dia mengigau lagi??


"Kenapa tanya begitu?? Memangnya ada apa, Kak??"


Reza menggeleng pelan dan tersenyum lagi untuk menutupi masalahnya. "Gapapa, kamu tidur lagi gih!"


Putri mengangkat kepalanya penasaran, ia mengawasi wajah Reza yang nampak suram. Lantas bersandar di dada kekasihnya itu.


"Apa Kak Reza ada masalah??" tanya Putri kepo.


Reza menggeleng cepat, ia hanya merasa bersalah..


"Tidur gih, besok kan kita ke pameran."


"Tadi siang Toriq datang kesini, tapi aku gak bukain pintu," terang Putri, membuat ekspresi Reza menegang seketika.


"Mau apa dia??" tanya Reza penasaran,


Putri mengangkat kedua bahunya tak tahu. "Dua kali sih dia datang, untungnya aku selalu kunci pintu dan nggak keluar."


Reza menghembuskan nafasnya kesal, begini saja sudah membuatnya emosi lantas bagaimana bila Putri tahu tadi siang Reza bertemu dengan perempuan yang pernah ia sukai.


"Jangan bukakan pintu untuk siapapun, bahkan Bu Mirna, atau Pak Ali sekalipun!" perintah Reza serius, Putri mengangguk paham.


Reza menarik Putri untuk kembali berebah dan memeluknya erat. Meski terkadang Reza masih susah untuk mengontrol nafsunya namun pelan pelan ia belajar untuk mengalihkan pikiran nakalnya ke hal lain. Dia mendapat cara ini setelah membaca sebuah buku, dimana kontrol pikiran berpengaruh banyak terhadap nafsu.


Paginya...


Aroma masakan yang sangat kuat membuat Reza membuka mata perlahan. Sudut kedua matanya basah lagi, apakah ia menangis lagi semalam?? Alam bawah sadarnya masih terluka oleh kisah masa lalunya yang kelam dan bertemu kembali dengan Zeyna membuat kenangan pahit itu mencuat lagi.


Putri yang menyadari Reza sudah bangun segera merapikan piringnya dan menghampiri Reza yang sudah duduk di ranjang.


"Yuk sarapan, Kak Reza buruan mandi,gih!" saran Putri seraya merapikan rambut Reza yang acak acakan namun justru terlihat seksi dimatanya.


Reza menolehi Putri lemas, nyawanya masih belum sepenuhnya terkumpul. Putri nampak sudah cantik dengan T-shirt dan mini skirt jeans, sementara Reza masih kumel dan bau bantal. Putri sudah siap untuk pergi ke acara penutupan Pameran Budaya hari ini.


Perlahan Reza berdiri dan berjalan lemas ke kamar mandi. Pikirannya masih melayang entah kemana, ia bangun dalam keadaan tak bersemangat hari ini.


Usai mandi dan sarapan, Reza dan Putri bergegas berangkat untuk menjemput Kakek Nun.


"Aku baru tahu Kak Reza bisa nyetir mobil," celetuk Putri riang,


Reza tersenyum bangga, "Kamu orang kedua yang bilang gitu, sebelumnya Kakek Nun juga heran,"


"Iyalah! Kalau nggak punya mobil, nggak mungkin bisa nyetir, ya kan??"


"Belum tentu, supir bis nggak punya bis tapi bisa nyetir bis kan?? Masinis nggak punya kereta api tapi bisa—"


"Hmm kan, mulai deh ngajak berantem!!"  tukas Putri melirik Reza kesal,


Reza terkekeh melihat ekspresi Putri yang selalu manyun bila kalah berargumen dengannya. Sedikit gemas Reza mencubit pipi gadis itu pelan.


Sesampainya di rumah Kakek Nun, Putri beralih duduk di kursi belakang agar Kakek Nun bisa duduk disamping Reza. Sepanjang perjalanan, Kakek Nun dan Putri mengobrol banyak usai berkenalan. Reza bahkan heran, mengapa Putri bisa cepat sekali akrab dengan Kakek Nun. Meski sebenarnya Putri mudah dekat dengan siapapun, Reza sedikit iri pada sifat Putri yang satu ini.


Tiba di Gedung Kota, Putri berkali kali berdecak kagum melihat keramaian untuk pertama kali selama ia tinggal di kota ini. Reza sedikit merasa bersalah karena tak pernah mengajak Putri kemana mana. Hampir sebulan ini Putri menghabiskan sebagian besar waktunya hanya dengan tinggal di kos.


Begitu turun dari mobil, Reza menggandeng tangan Putri untuk masuk ke dalam gedung kota. Sesekali Putri terkekeh melihat Reza yang nampak tegang saat mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan, ini kali pertama mereka berdua keluar sebagai sepasang kekasih.


"Aku tunggu disini aja ya," teriak Putri merengek, seraya menarik tangan Reza agar berhenti menariknya. Ia ingin menonton pertunjukan band dan duduk di depan panggung.


Reza mengawasi sekitarnya yang ramai oleh anak anak muda seusia Putri. Ia menggeleng dan kembali menarik Putri untuk mengikutinya ke stand Kakek Nun. Putri merengut.


Saat tiba di stand kakek Nun, Reza menarik Putri untuk duduk di samping meja kasir.


"Kamu tunggu disini, jangan kemana mana."


"Tapi aku pengin nonton …" rengek Putri memelas.


Reza menggeleng cepat, ia tak mau Putri jauh dari jangkauan pandangannya.


"Nanti kalo band bintang tamunya dateng, kita kesana berdua."


"Aaahh, Kak Reza, nggak asik!!"


"Yaudah kamu temani Putri nonton sana, Reza. Biar Kakek yang jaga stand!" perintah Kakek Nun iba, sudah datang sejauh ini tapi Putri hanya duduk diam di kursi, pasti menyiksa untuknya.


Reza mengawasi beberapa orang yang masuk kedalam stand kakek Nun, tidak mungkin bila ia meninggalkan Kakek Nun seorang diri karena beliau pasti akan kewalahan. Reza balik mengawasi Putri yang masih cemberut, ia menarik nafasnya dalam dalam. Biarlah Putri ngambek sebentar yang penting ia aman berada di dekatnya.


"Nanti aja, Kek. Lagian stand ramai gini, mana bisa saya tinggal."


"Gapapa, biar Kakek yang handle. Sudah sana kalian nonton aja!"


Reza menggeleng dan bergegas pergi meninggalkan Putri dan Kakek Nun. Ia menghampiri beberapa orang yang mulai datang ke stand untuk melihat lihat atau membaca buku.


Kakek Nun mengawasi Putri dan Reza bergantian. Reza laki laki yang keukeh dengan pendiriannya, sementara Putri gadis yang masih sangat labil. Semoga nantinya mereka bisa beradaptasi dengan sifat masing masing.


"Kamu sayang sama Reza??" tanya Kakek Nun saat Putri mulai tenang.


Putri menolehi Kakek Nun dan mengangkat bahunya pelan.


"Kamu masih ragu sama Reza??" tanya Kakek Nun lagi,


Putri menunduk tak berani menatap Kakek Nun yang mengawasinya penuh selidik.


"Laki laki seperti Reza hanya ada satu diantara ribuan, bila kamu sudah sreg dengan dia maka pertahankanlah," saran Kakek Nun bijak.


Putri mengamati Reza yang sibuk menata buku yang di acak acak oleh beberapa tamu yang masuk ke stand. Putri tak paham dengan perasaannya sendiri, apakah ia benar benar mencintai Reza atau hanya sekedar bergantung padanya??


"Menurut Kakek Nun, Kak Reza orangnya bagaimana??" tanya Putri tiba tiba,


"Reza anak yang baik, bertanggung jawab, jiwa sosialnya tinggi, tapi dia juga misterius."


"Kakek juga merasakan itu??" tukas Putri cepat, Kakek Nun mengangguk pelan.


Reza yang sedari tadi tak menyadari bila sedang di bahas oleh Kakek Nun dan Putri, tiba tiba merasa aneh saat kedua orang itu mengawasinya secara bersamaan. Apa yang sedang mereka bahas??


Putri melengos membuang muka saat Reza menatapnya dari kejauhan. Dia masih kesal, sudah berdandan secantik ini tapi malah harus duduk diam di stand.


"Bertahanlah dengan sikapnya yang seperti itu, Kakek yakin, Reza sangat menyayangimu, Put," jelas Kakek Nun sambil mengawasi Putri yang juga sedang mengawasinya.


"Kalian hanya butuh waktu untuk bisa lebih memahami satu sama lain," lanjut Kakek Nun.


Putri menolehi Reza yang kini berdiri di depan stand seorang diri dan tersenyum pada setiap tamu yang memasuki stand. Tiba tiba ia merasa bersalah sudah ngambek, Reza pasti berniat baik dengan tidak membiarkan Putri menonton Band Lokal seorang diri. Reza ingin melindunginya, namun mungkin ia tak paham bagaimana cara untuk mengekspresikan perasaannya, sehingga ia jadi terkesan posesif.


Sementara Putri merasa bersalah, Reza justru merasa kesal sendiri. Ia mengamati gerombolan remaja seusia Putri yang asik menonton band di sekitar panggung. Beberapa diantaranya nampak bersama pasangan masing masing dan asyik berselfie atau memvideo pertunjukan band di panggung. Reza merogoh ponsel di dalam saku celananya keki, ponsel kuno yang bahkan mungkin harganya tak lebih mahal dari harga makanan di restoran yang kemarin ia datangi bersama Zeyna.


Reza menunduk sedih, ia ingin seperti pasangan lainnya tapi ia terlalu khawatir. Berakting seperti orang melarat sepertinya lebih aman dan tidak mencolok baginya. Reza sebelumnya merasa nyaman dengan semua kebohongan ini, namun sekarang sepertinya ia mulai lelah. Menyembunyikan jati dirinya seperti membawa beban yang semakin hari semakin bertambah berat. Reza ingin bebas seperti pasangan pasangan lainnya.


Beberapa orang yang masuk ke dalam stand dan membeli buku membuat pikiran Reza sedikit teralihkan. Sesekali, Reza mencuri pandang pada Putri yang kini nampak asyik dengan ponselnya. Reza tersenyum lirih, betapa ia bersyukur, kini memiliki seseorang yang menyayanginya apa adanya.


Hingga tak terasa hari semakin siang dan MC di panggung mengumumkan Band Ibukota akan segera tampil. Reza menolehi Putri yang juga sedang menatapnya.


‘Awas saja kalo aku masih nggak dibolehin nonton!’ Batin Putri sembari menatap tajam kearah Reza.