Run Away

Run Away
27



Empat hari ini Reza serasa menjadi manusia paling sibuk di dunia. Pagi sekali ia berangkat dan kembali pulang di larut malam. Beruntung Putri memahami kesibukan Reza dan tak mempermasalahkan kegiatannya. Itu semua karena Putri juga punya kesibukan sendiri disaat kesepian. Ia mulai menekuni lagi hobi menggambarnya yang sempat terlupakan gara gara  terlalu asyik dengan drama Korea.


Reza berjanji akan mengajak Putri ikut ke pameran saat pesta penutupan nanti. Akan ada pertunjukan band ibukota dan berbagai macam acara yang pasti disukai oleh Putri.


Hari ini stand terlihat senggang tak seramai hari kemarin. Biasanya menjelang sore hingga malam barulah akan ramai oleh pengunjung.


Reza masih merapikan tatanan buku yang berantakan di meja saat kemudian seorang wanita masuk ke dalam standnya dan menghampiri Kakek Nun di meja kasir. Mereka berbicara cukup serius sambil sesekali memperhatikan Reza.


"Reza kemari sebentar..!" Panggil Kakek Nun lantang.


Reza menoleh sekilas dan merapikan buku terakhirnya sebelum kemudian mendekat ke meja Kakek Nun.


"Apa kamu mengenal wanita ini??" Tanya Kakek Nun seraya menunjuk seseorang yang berdiri di depannya.


Reza menoleh dan mengawasi wanita itu  penasaran. Pakaiannya sangat rapi dan formal, tingginya hampir menyamai Reza, wajahnya full makeup dan berkacamata tapi Reza tak mengenal siapapun di kota ini bukan??


"Reza ini aku..!" Ucap wanita itu lembut,


Reza terbelalak, suara itu..


"Zeyna??" Desis Reza tak percaya,


Wanita itu mengangguk dan melepas kacamatanya. Pantas saja Reza tak mengenalinya karena Zeyna yang ia kenal dulu tak berkacamata. Banyak yang berubah darinya hingga Reza nyaris tak mengenalinya lagi.


"Ya tuhan berapa tahun ya kita nggak ketemu.., ada kali 12 tahun ya..!" Ucap Zeyna berbinar seraya berjalan mendekat ke arah Reza dan hendak menyentuh pipinya.


Reflek Reza mundur dan menahan tangan Zeyna pelan. Ada cincin permata tersemat di jari manis Zeyna, cincin nikah atau cincin pertunangan kah??


"Kebetulan sekali bertemu disini.." desis Reza keki karena Kakek Nun memperhatikannya sedari tadi.


"Tuh kan Kek, bener ini Syahreza Purnama putra pemilik Perusahan Transportasi dan Properti besar Purnama, dia teman saya!!" Cecar Zeyna pada Kakek Nun yang hanya terdiam tak berkata apa apa.


Reza mengawasi Zeyna syok, mengapa harus sedetail itu Zeyna mendeskripsikan dirinya??


"Kalian sepertinya butuh waktu buat mengobrol, pergilah Reza.., ajak temanmu yang berisik ini kemanapun terserah.." cetus Kakek Nun seraya mengisyaratkan Reza untuk pergi.


Reza menghembuskan nafasnya bimbang dan menarik Zeyna untuk mengikutinya. Diluar dugaan ternyata di luar stand sudah berdiri beberapa laki laki berpakaian safari yang menghadang Reza.


"Gapapa Pak, dia teman saya.., kami akan makan di restoran depan selama 1 jam, kalian silahkan istirahat sampai saya kembali ke stand ini lagi.." perintah Zeyna tegas, deretan laki laki itu mengangguk dan memberi jalan pada Reza untuk lewat.


Di restoran depan gedung kota,


Reza duduk berdua dengan Zeyna yang sedari tadi tak lepas memandangnya. Dua piring makanan sudah tersaji di meja namun Reza sama sekali tak menyentuhnya.


"Apa pekerjaanmu sekarang??" Tanya Reza penasaran, bila dugaannya benar maka perempuan yang tempo hari menaiki mobil mewah berplat merah itu adalah Zeyna.


"Aku kerja di Kementrian Pariwisata, sudah hampir 3 tahun sih kerjanya... kamu sendiri ngapain di kota ini??" Zeyna balik bertanya,


"Kerja lah.."


"Di toko buku itu??"


Reza mengangguk cepat, wajah Zeyna nampak syok.


"Becandamu nggak lucu Reza! Selalu jayus.." rutuk Zeyna


Reza terkekeh dan mengawasi Zeyna serius.


"Kalau kamu benar benar mengenalku seharusnya kamu tahu aku nggak suka becanda, iya kan??"


Zeyna terperangah hingga matanya membulat, Reza yang kaya raya seratus turunan bekerja di Toko Buku kelontongan???


"Apa yang terjadi denganmu? Maksudku, apa yang terjadi dengan otakmu??!" Cecar Zeyna masih syok,


"Banyak, hanya saja aku nggak akan menceritakan padamu kali ini.." sahut Reza dingin.


Zeyna menatap Reza dalam, "kamu masih saja kekanakan seperti dulu.., aku pikir dengan bertambahnya umur akan membuat kamu berubah ternyata aku salah.."


"Bukan aku yang harus berubah Zey, tapi cara pandangmu yang harus kamu ubah.." tukas Reza cepat, bayangan masa lalunya muncul kembali.


" well, by the way aku nggak mungkin bekerja di Kementrian dan menjadi Pejabat tinggi kalo cara pandangku sama denganmu.." gumam Zeyna lugas seraya tersenyum masam.


Reza menghembuskan nafasnya berat, " kamu memang sempurna Zey, masih sama seperti dulu.."


Zeyna tersenyum bangga dan memungut sendok yang tertata rapi di samping piring lantas memakan steak di hadapannya.


"Aku sudah menikah.."


Zeyna menatap Reza tak percaya, tapi detik berikutnya ia mulai bisa menguasai diri lagi.


"Owh, kalau aku masih bertunangan sih.."  gumam Zeyna keki, padahal Reza tak bertanya apapun padanya.


"Apa istrimu  yang membuat kamu seperti ini??" Tanya Zeyna lagi penasaran,


"Bukan, dia bahkan nggak tahu kalau aku keturunan Purnama.."


Zeyna terbelalak untuk kesekian kali, dan kali ini membuatnya hampir tersedak daging yang ia kunyah.


" bahkan mungkin dia nggak tahu siapa itu dinasti Purnama.." tawa Reza sumbang, baginya lebih baik Putri tak pernah tahu tentang jati dirinya.


Zeyna meneguk air di gelas yang disediakan di meja dan mengawasi Reza serius.


"Aku tahu kamu nggak mudah beradaptasi dengan orang lain Reza, tapi aku nggak percaya kamu bisa menikah dengan wanita yang bahkan nggak tahu kamu berasal dari mana..!"


"Lebih baik seperti itu Zey, itu membuatku lebih nyaman.."


"Tapi kamu gila Reza! Meninggalkan keluargamu hanya untuk hidup dengan gadis yang asing denganmu itu bullshit!! Hubungan kalian nggak sehat bila dilandasi oleh kepalsuan.."


Reza tak menyahut, mungkin Zeyna benar. Tapi alasan Reza pergi dari rumahnya bukan karena Putri dan suatu saat nanti Reza pasti akan bercerita pada kekasihnya itu, tapi bukan sekarang. Ia tidak siap bila harus terbuka mengenai keluarganya yang diktator.


" tunanganmu sehebat apa??" Tanya Reza mengalihkan pembicaraan.


Zeyna diam sambil melirik cincin di jari manisnya. "Well, dia bekerja di perusahaan asing besar, temanku semasa kuliah dulu.."


Reza mengangguk seolah mengerti, dulu ia pernah begitu memuja Zeyna seperti dewi hingga merasa tak bisa hidup tanpa wanita di hadapannya ini tapi kemana perasaan itu kini pergi??


"Kamu masih menyukaiku??" Goda Zeyna saat Reza tak bergeming.


Reza tertawa sinis. Menyukai??


"Mana mungkin aku masih mengharapkan kakak kelas yang mengacuhkanku disaat aku jujur tentang perasaanku.." sahut Reza dingin.


Zeyna tertawa sumbang, " andai saja dulu kamu sekeren sekarang, mungkin aku bisa mempertimbangkan.." godanya lagi,


Reza membuang muka acuh, banyak hal berubah setelah  Zeyna menolak cintanya dulu. Reza tak lagi mudah untuk dekat dengan siapapun sejak itu. Ia seperti trauma untuk didekati atau mendekati orang lain.


"Ayo kita kembali, waktu istirahatku sudah habis.." cetus Reza cuek meski Zeyna masih belum menghabiskan steaknya. Bahkan steak di piring Reza masih utuh tak tersentuh.


Saat sudah kembali ke stand, Reza tak banyak berkata apa apa pada Kakek Nun. Ia bahkan merasa sedikit bersalah sudah menutupi jati dirinya. Hingga stand tutup Kakek Nun lebih banyak diam dan acuh pada Reza. Hal itu membuat Reza semakin merasa bersalah dan sedih.


"Kek.." panggil Reza saat mereka berada di dalam mobil.


"Yaaa.." sahut Kakek Nun sabar,


Reza menolehi Kakek Nun sekilas, " maaf bila Kakek harus tahu tentang saya dari orang lain.." Ucap Reza lirih,


Kakek Nun tersenyum dan menepuk bahu Reza pelan. " siapapun kamu, kamu tetap anak baik bagi Kakek tua ini..,"


Reza menahan nafasnya sedih.


"Kakek tahu kamu bukan orang biasa, mana ada orang kerja tapi tidak mengharapkan gaji?? Gelagatmu sudah terbaca Reza...!" Terang kakek Nun santai.


Reza terdiam, ia tidak tahu harus merespon bagaimana..


"Apa istrimu tahu tentang keluargamu??"


Reza menggeleng cepat. Jangan sampai Putri tahu dari orang lain seperti Kakek Nun. Ia tidak ingin membuat situasi semakin runyam.


"Dia tidak tahu apa apa tentang saya Kek, bahkan usia saya saja dia tidak tahu.."


"Kamu menipu dia??" Tukas Kakek Nun kaget,


"Bukan begitu Kek, saya dan Putri..., ceritanya panjang..., nanti kapan kapan saya luangkan waktu untuk sharing dengan Kakek.."


Kakek Nun mengawasi Reza serius hingga Reza bergidik takut. "Jangan ngeliatin saya kaya gitu Kek, beneran saya nggak menipu Putri.." cecar Reza cepat.


"Awas ya kalo sampe kamu mempermainkan hati perempuan, Kakek sendiri yang akan menghabisi kamu!"