
Kecelakaan tunggal yang dialami Reza dan Putri membuat keduanya tak sadarkan diri selama beberapa hari. Cidera yang dialami Putri hanya luka di wajah akibat pecahan kaca dan retak di tulang lengan. Sementara Reza lebih parah, meski airbag mengembang di saat yang tepat, namun kepalanya masih mengalami cidera karena benturan, tulang kaki dan tangan patah serta terancam koma.
Shelomita tak hentinya berdoa sepanjang malam demi kesembuhan Reza dan Putri. Ia baru saja berbahagia bisa melihat dan berkumpul bersama putranya, namun kini secepat kilat keadaan berbalik 360 derajat. Semua seolah seperti mimpi, sore itu ia mendapat telefon dari pak Jodi yang mengabarkan bahwa anak dan menantunya mengalami kecelakaan. Kini dua makhluk kesayangannya terbujur lemah tak sadarkan diri, Shelomita menyesal mengapa ia tak menahan Reza dan malah membiarkannya pergi.
Ini sudah hari ketiga, tak ada tanda tanda Reza maupun Putri akan sadar. Dokter langsung mengoperasi Reza malam itu juga usai terjadi kecelakaan karena ada gumpalan darah di otaknya. Tangan dan kakinya juga sudah dipasangi pen. Kemungkinan terburuk bila Reza berhasil di selamatkan adalah ia akan amnesia atau mungkin lumpuh, namun Shelomita memohon pada dokter untuk menyelamatkan Reza apapun yang terjadi nanti. Lebih baik ia melihat putranya tetap hidup, meskipun harus lumpuh..
Sekilas kenangan Shelomita saat pertama kali bertemu Reza tiba tiba muncul kembali. Reza adalah bayi yang sangat lucu dan manis. Ia menikah dengan Rizal setelah lelaki itu menduda selama setahun. Rizal adalah mantan kekasihnya semasa di SMA. Mereka putus karena Rizal di jodohkan oleh orang tuanya dengan Nora, ibu kandung Reza yang kemudian meninggal setelah melahirkan Reza.
Selama hidup bersama Rizal, Shelomita tak sekalipun terpisahkan dengan Reza. Ia menyayangi Reza seperti darah dagingnya sendiri. Pun demikian, rasa sayangnya pada Reza semakin dalam setelah ia divonis memiliki tumor di rahimnya dan harus operasi. Shelomita tak memiliki rahim setelahnya. Ia bersyukur, dengan adanya Reza tak membuat hidupnya berubah pasca operasi pengangkatan rahim. Ia masih memiliki anak meski tidak lahir dari rahimnya.
" Nyonya Rizal, saudari Putri baru saja memberi respon positif, sepertinya dia mulai sadar."
Shelomita menoleh cepat pada asal suara yang sedang berdiri di sampingnya. Dokter Steven tersenyum dan mengangguk hormat.
Lekas Shelomita berdiri dan bergegas meringsek masuk ke ruang ICU tempat Putri dirawat. Benar saja, Putri sudah membuka mata dan menoleh lemah saat ia mendengar suara berisik di pintu masuk. Air mata Putri menetes membasahi pipinya saat melihat Shelomita datang.
"Mama, dimana Kak Reza??" desis Putri lirih diantara tangisnya. Ia masih terbayang akan wajah Reza yang berlumuran darah saat kecelakaan itu terjadi.
Shelomita bergegas duduk di kursi di samping ranjang Putri dan menghapus air matanya.
"Kak Reza nggak kenapa kenapa kan, Ma?? Mana Kak Reza, Ma…" rintih Putri semakin histeris.
"Reza sehat, Sayang! dia nggak papa. Dia ada di sebelah, kamu cepet pulih ya, biar bisa lihat Reza besok."
"Mama nggak bohong kan, Ma?? Putri mau lihat Kak Reza sekarang!" tukas Putri tak percaya, ia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Reza. Hanya Reza yang ia miliki. Dadanya sesak membayangkan bila Reza harus pergi di depan matanya.
Shelomita menggeleng pelan dan mengusap lagi air mata di pipi Putri.
"Dokter belum nginjinin kamu bangun, Nak!besok yah, kita lihat Reza bareng, tapi kamu harus sehat dulu."
Putri menolehi Dokter pria yang berdiri di belakang Shelomita.
"Kak Reza masih hidup kan, Dok?? Kak Reza nggak kenapa kenapa, kan??!" tanya Putri lagi, ia masih belum percaya dengan bujukan Shelomita sebelum melihat Reza dengan mata kepalanya sendiri.
"Reza masih belum siuman, tapi dia nggak papa kok. Cepat pulih ya, biar bisa segera melihat Reza, oke??"
Putri menghembuskan nafasnya lega, ia sedikit lebih tenang setelah mendengar dokter itu menjelaskan keadaan kekasihnya.
Seorang perawat datang dan menyuntikkan sesuatu di selang infus Putri, tak berapa lama ia mulai mengantuk lagi. Matanya berat dan akhirnya Putri kembali terlelap.
Shelomita mengelus kening Putri lembut, entah apa yang akan terjadi nanti..
Perlahan Shelomita berdiri dan melangkah ke kamar tempat Reza di rawat. Beberapa kabel masih menempel di dadanya, selang oksigen juga tak bisa lepas menopang nafasnya. Tangan kiri dan kaki kanan Reza di bebat perban dan gips. Shelomita sedih melihat keadaan putranya jadi mengenaskan seperti itu.
Sejak Reza berada di Rumah Sakit, Rizal selalu mengunjungi putranya itu setiap hari sepulang dari kantor. Banyak kesalahannya di masa lalu pada Reza dan kini Rizal ingin menebusnya. Semoga putranya masih di beri kesempatan untuk sembuh, Rizal akan membawa Reza berobat kemanapun agar putranya bangun dan kembali hidup normal seperti dulu.
"Apa Reza ada perkembangan, Ma??" tanya Rizal saat melihat istrinya duduk di samping ranjang putranya.
Shelomita menoleh kaget dan menggeleng lemah.
"Putri tadi sudah sadar, Pa, dia berontak ingin melihat Reza jadi sama Dokter Steven di suntik obat penenang,” jelas Shelomita sedih,
Rizal menolehi ranjang Putri yang hanya dibatasi oleh tirai dari ranjang Reza. Entah mengapa, ia jadi iba pada menantunya itu. Meski baru sekali melihat Putri, namun Rizal bisa melihat ketulusan di sosok menantunya. Rizal tak sempat mengenal Putri lebih dekat, tapi ia yakin Reza tak akan salah pilih. Kali ini ia akan menyerah pada egonya sebagai orang tua dan tak ingin menjadi diktator seperti orang tuanya dulu.
Sejak Reza pergi meninggalkan rumah 2 tahun yang lalu, sebenarnya Rizal tahu dimana putranya itu bersembunyi. Ia memantau Reza dari jauh dan meminta Pak Jodi untuk menjaga Reza secara diam diam. Keputusan untuk menjemput Reza pulang terpaksa ia lakukan karena Rizal tak sanggup berpisah terlalu lama dengan putranya. Terlebih ia tahu, ada seseorang yang belakangan ini kedapatan mencari cari informasi tentang putranya, seseorang bernama Toriq. Rizal tak ingin putranya terlibat masalah dengan siapapun, maka dari itu ia meminta Pak Jodi menjemput Reza. Namun sepertinya keputusannya salah, justru Reza jadi celaka karenanya. Reza kecelakaan saat membawa mobil pemberiannya.
"Papa sudah makan??" tanya Shelomita saat melihat suaminya hanya berdiri termenung menatap Reza yang masih terpejam rapat.
Rizal menggeleng dan mendekat ke ranjang Reza. Ia mengawasi wajah putranya itu lekat lekat, wajah Reza persis ibunya, Nora. Wanita yang Rizal benci karena harus terpaksa menikah dengannya.
Saat awal menikah, setiap malam Rizal pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Mungkin ia menghamili Nora saat sedang mabuk, entahlah Rizal tak ingat. Karena beberapa kali ia sempat terbangun dalam keadaan telanjang kala itu.
Saat Nora hamil, Rizal dilema apakah ia harus senang atau marah. Namun ia tetap acuh meski Nora selalu tulus menyayanginya. Saat Nora kontraksi, Rizal bahkan masih sempat mabuk di pub. Ia tak mendampingi Nora melahirkan, pun tak sempat melihat Nora untuk terakhir kalinya.
Nora meninggal karena pendarahan hebat pasca operasi. Rizal bahkan baru tahu bahwa istrinya meninggal di keesokan harinya. Entah suami macam apa dia..!
Rizal menyesali perbuatannya pada Nora, justru setelah wanita itu pergi. Dan ketika melihat Reza untuk pertama kali, saat itulah ia sadar bila ia jatuh cinta pada sosok Nora yang telah pergi. Rizal menyesal sudah menyia-nyiakan Nora, namun penyesalannya tak membuat Ibu dari putranya itu kembali. Melihat Reza tumbuh bersamanya membuat Rizal semakin tersiksa karena rasa penyesalannya.
Menikah dengan Shelomita, mantan kekasihnya semasa SMA hingga kuliah menjadi satu-satunya pilihan kala itu. Kedua orang tua Rizal tak lagi mengatur pilihan putranya. Mereka tak ingin melihat Rizal semakin terpuruk karena kepergian Nora, dan juga Reza butuh sosok seorang ibu.
Beruntung Shelomita sangat menyayangi Reza seperti putranya sendiri. Bahkan melebihi rasa sayang Rizal pada anaknya. Rizal menjadi diktator seperti orang tuanya karena ingin Reza tumbuh menjadi sosok yang kuat seperti dirinya, namun ternyata cara itu salah. Sejak Reza kabur karena lebih memilih meneruskan hobinya menulis daripada meneruskan perusahaan keluarga, Rizal menyesali ke diktatorannya pada putranya itu.
Dan kini, melihat putra dan menantunya terbujur lemah tak berdaya membuat Rizal semakin merasa bersalah. Semua ini terjadi karena dirinya, andai Reza dan Putri tak ia jemput…
***************************
Ada yang penasaran gambaran visual Reza dan Putri? Next chapter saya kasih gambaran mereka ya, biar menghalunya semakin seru 🥰
Jangan lupa jempolnya sister 👍🏻