
Hari masih sore saat Putri dan Reza tiba di halte tujuan. Untuk sampai di kos pelangi mereka harus berjalan dari halte. Kaki Reza mulai bereaksi, sekian lama ia jarang beraktifitas berat rupanya membuat tulang kakinya yang masih belum tumbuh sempurna mulai protes.
Putri berjalan cukup jauh di depan sementara Reza dengan menahan nyeri dan kram tetap memaksakan diri untuk berjalan mesti tertatih-tatih. Beberapa blok lagi dan mereka akan sampai di rumah kos Pelangi.
Saat nyerinya semakin menjadi-jadi, Reza memutuskan untuk berhenti dan bersandar pada tembok sebuah pertokoan. Putri sudah berbelok dan tiba di rumah Kos. Ia tak menyadari bila Reza sedang kesakitan di belakangnya.
Saat Putri hendak naik ke tangga utama menuju lantai dua ia baru sadar bila Reza tak ada di belakangnya. Ke mana dia?
Putri berbalik dan kembali untuk mencarinya.
Ia tak sadar bila sedari tadi Toriq memperhatikannya dari lantai 2 depan kamarnya. Toriq mengawasi Putri heran karena gadis itu urung naik ke tangga dan kembali berjalan keluar dari kos pelangi. Apa ada sesuatu yang tertinggal??
Toriq ikut turun dan menyusul Putri.
Reza yang sedang duduk bersandar di tembok pertokoan tak menyadari bila Putri berjalan tergesa-gesa menuju ke tempatnya. Wajah Putri nampak khawatir, terlebih Reza memijat kakinya sambil duduk lemas. Ia jadi merasa bersalah.
"Sudah ku bilang kan, lebih baik kak Reza pulang!"
Reza mendongah kaget, ia tertegun menatap Putri yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. Perlahan Reza mencoba untuk berdiri bertopang pada tongkat lipatnya. Masih sedikit nyeri namun ia berusaha untuk menahannya agar Putri tak khawatir.
"Aku gak papa kok Put, ini barusan berhenti karena capek aja, sih!" sahutnya santai.
Wajah Putri masih menegang, jelas terlihat ada gurat lelah di wajah mungil itu. Seorang lelaki mendekat ke arah mereka berdua, Putri menoleh dan tertegun melihat Toriq sudah ada di sampingnya.
Toriq tak kalah kaget saat dari kejauhan ia melihat pria yang sedang mengobrol dengan Putri ialah lelaki yang paling ia benci. Ternyata yang ia takutkan akhirnya tiba, lelaki pengecut itu datang lagi. Reza!!
Reza menolehi laki-laki di samping Putri dengan penasaran, ia tak asing dengan wajah maskulin itu. Apakah ia Toriq yang selama ini mengganggu hubungannya dengan Putri??
"Hai, Reza! Senang melihatmu datang kembali ke kos pelangi!" sapa Toriq sambil mengulurkan tangan.
Reza mengawasi tangan itu sinis, suara lelaki ini entah mengapa membuat darah Reza tiba-tiba mendidih.
Putri memandang Reza yang diam mematung tak membalas uluran tangan Toriq. Karena tak terbalas akhirnya Toriq menarik tangannya lagi.
Reza menarik nafasnya yang memburu, ia menatap Toriq dengan tatapan tajam.
Reza menolehi Putri, istri?? Apa Toriq masih belum tau bila hubungan suami istri antara Reza dan Putri adalah palsu??
"Bukan urusanmu!" sahut Reza dingin, lantas menarik tangan Putri dan menyeretnya pergi dari hadapan Toriq.
Putri yang tadinya ingin memberontak entah mengapa justru menurut saat Reza menariknya pergi. Jantungnya berdebar saat Reza menggandeng tangannya lagi setelah sekian lama. Ia seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
Toriq mengawasi Reza dan Putri yang berlalu dari hadapannya dengan sedih. Bila saja tak melihat kondisi Reza yang nampak mengenaskan mungkin ia akan mengajaknya berkelahi saat ini juga. Dengan seenaknya Reza datang setelah ia membuang Putri? Lelaki macam apa yang berperilaku demikian..
Reza menarik Putri sampai mereka tiba di bawah tangga. Ia tak tahu harus ke mana mereka pergi karena Reza bahkan tak ingat di mana kamar mereka.
"Di mana kamar kita?" tanya Reza polos saat Putri hanya diam mengawasinya.
Putri menahan senyumnya melihat kepolosan Reza, namun detik berikutnya ia kembali dingin saat ingat perlakuan terakhir Reza padanya. Putri bergegas naik terlebih dahulu ke tangga dan berjalan menuju kamarnya. Reza menaiki tangga perlahan dan hati-hati, ia tak ingin kakinya kembali cidera dan merepotkan banyak orang.
Setiba di kamar yang hanya seukuran toilet di rumahnya, Reza mengawasi seisi kamar dengan haru. Di sinikah ia tinggal berdua dengan Putri berbulan-bulan yang lalu?? Apa saja yang sudah ia lakukan di kamar ini? Saksi bisu yang seandainya bisa bicara mungkin Reza akan belajar untuk mengingat masa lalunya.
Putri meletakkan tas ranselnya di meja dan beringsut masuk ke kamar mandi. Reza memperhatikan setiap detail isi kamar kos dengan hati sedih, mengapa bahkan ia tak bisa mengingat aroma kamar ini? Bahkan ia tak ingat bila dahulu ia harus merentangkan karpet di samping lemari saat tiba waktunya tidur.
Saat Putri keluar dari kamar mandi, ia memperhatikan Reza yang berdiri di dekat jendela. Tubuh lelaki favoritnya itu kini nampak sangat kurus dibalik kemejanya yang mahal. Entah mengapa Putri jadi iba melihatnya..
"nih..!" Putri menyodorkan sebuah handuk pada Reza saat sudah berdiri di hadapannya.
Reza menoleh dan tersenyum, manis sekali. Senyum yang sangat Putri rindukan, senyum yang dulu hanya terkembang saat bersama Putri.
"Kak Reza mandi dulu sana, aku mau beli makan," cetus Putri seraya beringsut pergi.
Entah mengapa reflek Reza menarik tangan Putri dan menahannya.
"Aku nggak laper Put, kamu nggak usah ke mana-mana," pintanya memohon, di luar sana ada laki-laki bernama Toriq itu dan Reza tak suka bila Putri bertemu dengannya.
Putri menepis tangan Reza dan memaksa untuk pergi. Ia paham betul sejak siang tadi Reza tak makan apapun. Lekas Putri keluar dari kamar dan turun menuju warteg di depan kos.
Reza menghembuskan nafasnya keki, percuma saja ia menahan Putri toh gadis itu tak akan lagi menurut padanya. Reza meletakkan tongkatnya dan berjalan pelan ke kamar mandi. Mungkin ia harus mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar suasana hatinya yang panas membaik. Ia butuh ketenangan..