
Dua jam perjalanan penuh ketegangan membuat Putri merasa ketakutan . Reza lebih banyak diam dan terus menggenggam tangannya. Reza hanya tak ingin kehilangan perempuan yang sudah menemaninya setahun belakangan ini.
Saat mobil memasuki area mansion keluarga Purnama, detak jantung Reza semakin bergetar hebat. Ia tak siap bila harus bertemu kembali dengan keluarganya.
Entah siapa yang sudah membocorkan keberadaan Reza pada keluarganya, satu satunya yang bisa Reza curigai hanyalah Zeyna. Hanya dia yang mengerti tentang latar belakangnya.
Putri tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, saat mobil mewah yang membawanya dan Reza memasuki sebuah mansion dengan halaman seluas lapangan bola. Pepohonan hijau dan rumput yang asri nampak memenuhi halaman dengan sebuah air mancur yang lumayan besar di tengah tengahnya. Inikah rumah tempat Reza dibesarkan??
Saat mobil berhenti tepat di teras berlantai coklat, Pak Jodi membukakan pintu untuk tuannya.
Reza menarik nafasnya sejenak sebelum kemudian turun terlebih dahulu dan membantu Putri. Berkali kali Putri melihat Reza menghela nafasnya yang seolah berat sebelum kemudian pintu kayu jati yang kokoh besar terbuka. Ruangan yang luas dan terang dengan lampu gantung bak berlian berkilauan berukuran besar di tengah ruangan kembali membuat Putri terperangah. Beberapa orang asisten perempuan nampak menyambut Reza dengan hangat, Reza hanya membalas sambutan mereka dengan senyum kecil. Tangannya masih menggenggam Putri dengan erat.
"Mas Reza, papa dan mama sudah menunggu di ruang keluarga.." cetus Pak Jodi sebelum kemudian berjalan mendahului Reza.
Reza dan Putri mengikuti Pak Jodi dibelakang. Reza masih nampak tegang, Putri lebih tegang lagi. Ia bahkan tidak tahu apa yang akan ia hadapi. Seperti apa orang tua Reza yang selama ini ia rahasiakan? Apa yang membuat Reza lari dari mereka??
Setiba di sebuah ruangan dengan pintu kayu jati besar seperti di ruang tamu tadi, Pak Jodi berhenti dan membukakan pintu itu untuk Reza. Ia tersenyum dan membungkuk sopan sebelum kemudian mempersilahkan Reza masuk.
"Reza!" Pekik sebuah suara perempuan paruh usia yang masih nampak cantik, menyita perhatian Putri.
Reza menoleh, Mama dan Papanya sudah berdiri di sofa besar yang menghadap ke perapian.
"Ma.." desis Reza lirih, Putri melepas genggaman Reza dan membiarkannya menghampiri keluarganya.
Shelomita, Mama Reza, berlari cepat dari sofanya dan memeluk Reza dengan erat. Putri mundur selangkah untuk membiarkan mereka melepas rindu.
"Kemana saja kamu Nak, Mama kangenn banget sama kamu,” rintih Shelomita sedih, mengelus punggung putranya dengan penuh perasaan.
Rizal Purnama, Papa Reza, memandang mereka dari kejauhan. Ia masih tak beranjak dari sofanya dan sesekali menunduk terharu melihat pemandangan di hadapannya. Tatapannya tiba tiba tertuju pada gadis muda yang berdiri di belakang Reza.
Reza mengurai peluknya dan mengawasi wajah Mamanya yang kini nampak layu, tak sesegar saat terakhir kali Reza melihatnya 2 tahun yang lalu.
"Reza juga kangen sama Mama," desis Reza sedih, ia berusaha untuk tersenyum meski berat. Rindunya pada Mamanya mungkin lebih besar daripada rindu Reza pada Papanya.
Shelomita menolehi suaminya, ia memberi kode pada Rizal untuk mendekat dan menyambut putra mereka. Rizal menarik nafasnya berat dan menurut, ia beranjak dari tempatnya mematung dan menghampiri mereka.
Cukup lama Reza dan Rizal saling berpandangan, Reza masih sangat sakit hati atas ucapan terakhir Papanya. Bila bukan karena tertangkap basah oleh Pak Jodi, Reza tak akan sudi kembali pulang kerumah ini.
Putri mengawasi dua laki laki di hadapannya dengan tegang. Wajah Reza berubah dingin saat Papanya menghampiri mereka. Papa Reza mungkin lebih tua dari Ayah Putri, namun aura kebapakannya sangat nampak. Membuat Putri jadi iri pada Reza yang ternyata memiliki keluarga yang hangat dan utuh.
Rizal mendekat pada putra semata wayangnya lantas memeluknya dengan erat. Reza diam tak bergeming membalas pelukan Papanya. Tubuhnya seolah membeku, selama ini ia tidak dekat dengan Papanya dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Shelomita.
Beberapa kali Rizal menepuk punggung Reza lembut, seolah bersyukur putranya sudah kembali kerumah dan berkumpul lagi dengannya. Seolah ia masih tak percaya Reza kini sudah kembali dan bisa ia peluk seperti saat ia masih kecil dulu. Entah kapan terakhir kali Rizal memeluk putranya ini, sejak kematian mamanya dulu Rizal lebih sering menghindari Reza karena wajahnya selalu mengingatkan Rizal pada mendiang istrinya.
"Welcome home, Reza," desis Rizal seraya mengurai peluknya dan menatap wajah Reza hangat.
Reza masih diam tak menyahut, namun wajahnya sudah tak setegang tadi. Shelomita mendekat dan berdiri diantara dua lelaki kesayangannya. Ia mengenggam tangan Rizal dan Reza lantas menyatukan tangan mereka berdua. Reza melirik tangan Papanya yang mulai keriput dan pucat. Hatinya bergetar sedih.
"Mari kita saling memaafkan, lupakan masa lalu dan jalani lembaran baru mulai hari ini," pinta Shelomita memohon sambil mengawasi Rizal dan Reza bergantian.
Rizal tersenyum dan mengangguk pelan, lantas menolehi Putri yang masih berdiri mematung tak jauh dari Reza.
Reza baru sadar bahwa sedari tadi ia belum mengenalkan Putri pada keluarganya. Ia melepas genggaman mamanya dan menarik tangan Putri untuk mendekat.
"Dia Putri, istri Reza..!" Cetus Reza seraya menggandeng Putri yang tertunduk malu.
Papa dan Mamanya sontak terbelalak kaget bukan kepalang. Istri??? Reza menikah tanpa orang tuanya dan orang orang terdekatnya???!
" Ma,Pa.., bulan depan Reza ingin meresmikan pernikahan kami."
"Tunggu.., jadi kalian masih nikah siri??" potong Shelomita cepat,
Reza melirik Putri yang masih tak bergeming, wajah Putri pucat pasi. Reza jadi tak enak hati sudah membuat Putri merasa tak nyaman.
"Bisa dibilang begitu, tolong hargai pilihan Reza kali ini. Dan sebagai gantinya, Reza akan menuruti kemauan Papa untuk meneruskan perusahaan keluarga, " sahut Reza kelu, ia lebih baik kehilangan hobinya menulis daripada harus kehilangan Putri.
Rizal menghembuskan nafasnya pelan, ia masih syok dengan pernyataan putranya namun setidaknya ia lega mendengar keputusan logis anak itu untuk menjalankan bisnis keluarga Purnama.
Shelomita berjalan mendekat ke arah putranya dan berdiri di depan Putri. Ia menatap gadis belia dihadapannya ini lekat lekat, wajahnya polos dan cantik, ia tak lebih tinggi dari Reza, hanya cara berpakaiannya saja yang perlu di perbaiki, tapi Shelomita menyukainya pada pandangan pertama.
"Berapa usia kamu, Nak??" tanya Shelomita halus,
Putri memberanikan diri menatap wanita di hadapannya, " tahun ini 19 tahun, Tante," sahut Putri gugup,
Shelomita terbelakak lagi, ia menolehi Reza seolah tak percaya Putranya bisa jatuh cinta pada gadis remaja. Padahal usia Reza sudah sangat matang.
"Sudah lama kalian menikah?? Mengapa terburu buru??"
"Ma, besok aja ya kami cerita. Reza capek banget hari ini, boleh kami langsung istirahat??" potong Reza menengahi, ia tak ingin Mamanya bertanya macam macam. Ia harus membuat skenario bersama Putri, sebelum di interogasi lebih jauh.
Shelomita tersenyum dan mengangguk,
"Tentu saja, Nak, beristirahatlah kalian berdua, besok kita mengobrol lagi ya? Kamarmu sudah di bersihkan, Reza, beristirahatlah."
Reza mengangguk dan menggandeng tangan Putri untuk keluar dari ruang keluarga. Terburu buru Reza menarik Putri untuk mengikutinya, hingga beberapa kali Putri hampir terjatuh. Reza tak sabar ingin melihat kamarnya dan beristirahat disana bersama Putri.
Sementara itu Putri ternganga karena takjub dengan interior rumah Reza yang sangat mewah dan berkelas. Ia hanya bisa melihat rumah seperti ini di film dan sekarang Putri berada di dalamnya. Lukisan lukisan yang sangat mahal berjejer rapi di dinding. Tangga menuju lantai 2 kamar Reza sangat kokoh dan dialasi karpet bermotif leopard.
Tiba di sebuah kamar berpintu kayu jati, Reza lama berdiri, ia menarik nafasnya sebelum kemudian memutar knop pintu. Aroma khas kamarnya yang bercampur aroma buku terhirup indra penciuman Reza. Aroma inilah yang sangat ia rindukan selama 2 tahun ini.
Putri kembali dibuat ternganga melihat luas kamar Reza yang mungkin 5x lebih luas dari pada kamar kos mereka di kos Pelangi. Tempat tidur superbesar dengan dua nakas di samping , lemari buku besar di pojok ruangan, lampu gantung mewah namun simpel, jendela besar bertirai kain satin warna biru, juga ada sofa kecil di pojok ruangan dekat lemari buku.
Reza tersenyum saat Putri menolehinya, nantinya Reza akan membiarkan Putri menghias kamarnya sesuka hati. Ia pun tak perlu lagi tidur di karpet seperti dulu. Tempat tidurnya bahkan masih cukup bila mereka harus berguling guling. Reza tertawa kecil membayangkan harus berguling di kasurnya sendiri bersama Putri.
"Kenapa tertawa gitu?" tanya Putri penasaran melihat Reza tersipu dengan wajah memerah.
Reza menggeleng dan memeluk Putri dari belakang.
"Ini yang seharusnya pantas kamu dapatkan, Put, bukan kamar kos sempit seperti di kosan kita," desis Reza ditelinga Putri lembut.
Putri terenyuh sedih mendengar ucapan Reza, ia berbalik dan membalas pelukan Reza dengan erat.
"Buat aku, dimanapun itu asal bareng Kak Reza sudah lebih dari cukup,” sahut Putri lirih, menghirup wangi tubuh Reza yang bercampur keringat namun entah mengapa Putri menyukainya.
Reza mengurai peluknya dan menangkup wajah Putri, ia mengawasi setiap lekuk wajah favoritnya itu dengan takjub. Bagaimana bisa ia tergila gila pada gadis mungil di pelukannya ini?? Gadis yang bahkan 10 tahun lebih muda dari Reza, itulah yang membuatnya selalu enggan menjelaskan saat Putri selalu bertanya soal usianya.
"I love you.." ucap Reza tulus sebelum kemudian mencium bibir mungil miliknya yang seolah menantang untuk ia cicipi.
Tok..Tok..Tok…!
******************************
Maafkan baru sempat update ya sister, terima kasih sudah setia membaca kisah Reza dan Putri sampai bab ini. Jangan lupa untuk klik ‘like’ dan tinggalkan komentar ❤️