Run Away

Run Away
49



Kejadian saat Reza mengenali Zeyna meski ia sedang amnesia membuat Putri sangat sakit hati. Meski ia tak tahu siapa wanita itu dan ada hubungan apa diantara mereka, namun Putri merasa seolah Reza menyembunyikan sesuatu darinya. Apakah Reza benar benar amnesia? Atau dia hanya berpura-pura agar bisa lepas dari Putri?


Dada Putri berdebar antara emosi dan kecewa. Terlebih Reza dan teman wanitanya mengobrol lumayan lama, sementara Putri hanya bisa memandang mereka dari jendela ruang keluarga di lantai 2 yang berhadapan langsung dengan taman. Reza terlihat santai dan sesekali tertawa ketika sedang mengobrol dengan Zeyna, hal yang beberapa bulan ini tak pernah Putri dapatkan lagi. Jangankan mengobrol, mendengar suara Putri saja dulunya Reza selalu emosi.


Saat makan siang tiba, Putri sengaja tak turun dan makan bersama karena Zeyna ikut makan siang juga. Putri cemburu melihat kedekatan mereka dan ia tak mau menjadi bulan-bulanan Reza.


Sepertinya malam ini Putri harus mendapat kejelasan dari Reza, ia tak bisa terus menerus menjadi benalu baginya. Toh Reza sudah pulih dan bisa berjalan meski dengan bantuan kruk, setidaknya Putri tak perlu merasa bersalah bila ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Reza dan keluarganya.


Seolah mengerti bila Putri sedang marah, Reza segera mencarinya saat Zeyna  pulang. Ada hal yang harus Reza jelaskan meski ia sendiri tak paham dengan apa yang akan ia katakan.


Begitu pintu lift terbuka, Reza tak menemukan Putri di dalam kamar. Ia kembali keluar untuk mencari Putri, tadinya Reza pikir Putri mengurung diri dikamar.


"Dimana Putri?" tanya Reza saat berpapasan dengan salah seorang stafnya.


"Saya nggak lihat Mbak Putri, Mas. Mungkin di ruang baca atau di ruang keluarga."


Reza menarik nafasnya cepat dan kembali mengayunkan kruknya menuju ruang keluarga.  


Tepat disaat Reza akan menyentuh knop pintu tiba-tiba Putri lebih dulu muncul. Putri terbelalak kaget saat melihat Reza tiba-tiba sudah berdiri di depannya.


"Sedang apa kamu di dalam?" tanya Reza penasaran, seolah Putri sedang tertangkap basah berbuat hal yang tidak pantas.


Putri menutup pintu dan bergeser ke samping karena Reza memblok jalannya.


"Lagi nonton tivi."


"Di kamar kan juga ada tivi," potong Reza cepat,


Putri tak menyahut, ia menghembuskan nafasnya perlahan.


"Kamu juga nggak makan siang, kenapa? Apa karena ada temanku??"


"Nggak mungkin kalian cuma teman," desis Putri lirih dan membuang muka.


Reza menatap Putri dalam, apa  Putri sedang cemburu? Padahal bila dibandingkan dengan Zeyna justru Putri jauh lebih menggemaskan.


"Kamu mau aku jawab apa, Put? Aku sendiri nggak tau aku harus menjelaskan bagaimana sama kamu."


"Kak Reza nggak perlu jelasin apa-apa sama aku, semuanya sudah jelas," tukas Putri seraya membalas tatapan tajam Reza.


"Jelas seperti apa yang kamu maksud??" tanya Reza bingung.


Ia mengawasi Putri yang diam tak bergeming,


Reza lantas menarik tangan gadis itu dan membawanya masuk ke dalam kamar. Putri tak melawan, karena ia pun ingin segera menyelesaikan masalah diantara mereka berdua. Lebih cepat lebih baik!


Di dalam kamar, Reza mendorong Putri ke tempat tidur dan mengawasinya lama. Rok Putri tersingkap dan membuat paha mulusnya terlihat. Dada Reza berdesir hangat. Reflek Putri membetulkan roknya untuk menutupi pahanya.


" Jelaskan sama aku, Put, apa yang kamu maksud tadi.”


"Apanya lagi yang harus dijelaskan? Aku punya mata dan bisa ngeliat seberapa dekat kalian berdua." jelas Putri dingin.


"Aku cuma inget nama dia, tapi aku nggak bisa inget apapun selain itu."


Putri tersenyum kecut, ia membuang muka kesal.


Reza menghembuskan nafasnya sedih.


"Atau Kak Reza hanya berpura pura amnesia agar bisa lepas dari aku??"


"Put!"


"Aku gapapa kok kalo misal harus pergi, karena selama ini aku cuma jadi beban buat kalian," cecar Putri dengan mata memanas,


"Atau mungkin drama pernikahan kita membuat Kak Reza merasa terbebani??"


Reza terhenyak, drama?


"Apa maksut kamu dengan drama?" tanya Reza cepat, dadanya bergetar hebat.


"Pernikahan kita berdua cuma drama, cuma bohongan! Kita nggak pernah benar-benar menikah!" jelas Putri kelu, nafasnya mulai sesak.


Reza terbelalak kaget, ia seperti baru saja mendengar suara petir yang tiba-tiba menyambar seisi kamarnya.


Putri menatap Reza yang nampak syok dengan perkataannya, harusnya memang ia jujur dari awal. Seharusnya Putri tak membiarkan permasalahannya semakin berlarut-larut.


"Jadi selama ini kamu menipuku?" desis Reza lirih, ia reflek mundur menjauh dari Putri yang masih duduk di ranjang.


"Kita sama-sama sedang menipu, jadi kita impas."


"Jelaskan sama aku, Put, jangan membuatku merasa jadi orang bodoh!" sentak Reza emosi.


"Apalagi yang harus aku jelaskan? Semua sudah jelas bahwa kita nggak pernah benar benar menikah!!"


"Berarti selama ini kamu menipuku??" cecar Reza, "kamu bahkan tidur sekamar dengan laki-laki yang bukan suami kamu??!"


Putri menunduk sedih, harga dirinya memang sudah hilang sejak ia memutuskan untuk tinggal sekamar dengan Reza kala itu.


"Wanita macam apa kamu, Put??! Kenapa kamu ....?" Reza mengusap setetes air mata yang lolos dari pelupuknya, sungguh ia kecewa. "Gadis murahan!" desisnya penuh emosi.


Putri memberanikan diri menatap Reza yang nampak sangat frustasi. Wajahnya memerah karena marah. Putri bergidik melihat ekspresi menakutkan itu..


"Aku nggak perlu jelasin apa-apa sama kak Reza karena pasti Kak Reza nggak akan percaya sama aku, jadi mari kita selesaikan semua ini baik-baik," ucap Putri bergetar menahan tangis.


" rasanya sudah cukup aku mendampingi Kak Reza sampai hari ini, sesuai janjiku, aku akan pergi setelah Kak Reza pulih dan bisa berjalan lagi."


Reza menarik nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak, ia kecewa, marah, sedih dan terluka mendengar semua pengakuan Putri. Tadinya ia pikir, dirinyalah yang jahat karena sudah memperlakukan Putri dengan semena-mena selama ini, namun ternyata Reza hanyalah korban kebodohan. Ia tak sadar bila Putri sudah menipunya sejauh ini…


Perlahan Putri bangkit dari ranjang  dan merapikan roknya. Reza berpaling dan beringsut menjauh.


"Aku akan membereskan baju-bajuku dan pergi, maaf bila selama ini aku sudah menyusahkan Kak Reza..." desis Putri sedih.


Meski ini adalah konsekuensi yang harus ia tanggung namun Putri tak pernah menyangka semua akan terasa sangat menyakitkan seperti ini.


Saat Reza tak bergeming dan masih memunggungi Putri, perlahan ia beringsut keluar dari kamar. Air matanya seketika tumpah saat ia menutup pintu kamar yang penuh kenangannya bersama Reza. Dengan berurai air mata Putri bergegas turun ke kamar tamu dan membereskan semua pakaiannya. Ia akan pergi, ia harus pergi! Ia sudah tidak dibutuhkan lagi di rumah ini.


......................


Selamat berpuasa 🥰