Run Away

Run Away
57



Sesampai di Kos Pelangi ternyata Reza tak menemukan Putri di sana. Bu Mirna pemilik rumah Kos nampak syok saat melihat Reza datang, ia menceritakan kehidupan Putri pasca pulang dari rumah Reza.


Reza benar-benar sedih saat Bu Mirna menjelaskan bahwa sejak dua bulan yang lalu Putri bekerja sebagai juru masak di sebuah Restoran di kota. Reza merasa bersalah sudah membiarkan Putri pergi malam itu. Tak seharusnya Putri bekerja dan hidup susah seperti ini.


Setelah berbincang cukup lama, Reza memutuskan untuk menjemput Putri ke tempatnya bekerja. Bu Mirna meminta Reza untuk menunggu saja di kamar tempatnya dan Putri dulu tinggal namun Reza menolak. Ia ingin segera bertemu Putri. Reza sudah sangat rindu pada senyuman gadis itu.


Tak sampai setengah jam perjalanan, mobil yang Reza tumpangi sampai di Restoran tempat Putri bekerja. Reza memanggil salah seorang waitress dan memintanya untuk memanggil Putri.


Melihat Putri muncul dengan wajah lelah membuat hati Reza sakit. Dan ditolak saat ia datang untuk menjemputnya ternyata jauh lebih sakit.


"Kita pulang Mas Reza??" tanya Pak Jodi bingung saat Reza tak berkata apapun sejak masuk ke dalam mobil satu jam yang lalu.


Reza menolehi restoran itu ragu, ia tak akan menyerah dengan penolakan Putri. Reza yakin Putri masih mencintainya.


"Kita nunggu sampai Putri pulang, Pak. Setelah itu Pak Jodi bisa tinggalin saya di kos pelangi."


"Tapi Mas Reza gak bawa baju ganti, kan??" tukas Pak Jodi gelisah.


"Pasti masih ada beberapa baju saya di sana, kalopun gak ada besok Pak Jodi tolong bawakan beberapa baju buat saya," jelas Reza lugas, tekatnya sudah bulat untuk membuat Putri mencintainya lagi.


"Saya gak akan pulang tanpa Putri!" lanjutnya mantap, lantas mengenakan earpodnya dan memejamkan mata sebentar.


Entah berapa lama Reza terpejam, ia terbangun saat Pak Jodi menepuk tangan Reza perlahan untuk membangunkannya.


"Mbak Putri sudah pulang, Mas. Itu lagi nungguin bis di sana,” terang Pak Jodi seraya menunjuk ke seberang jalan.


Benar saja, Putri sudah berdiri di halte sambil sesekali memperhatikan ponselnya. Reza menarik tongkat elbownya yang tadi ia lipat dan membuka pintu mobil. Saat Reza berdiri dengan tergesa-gesa seketika kakinya kram lagi, ia meringis menahan sakit.


"Mas Reza mau ke mana?? biar saya yang manggil Mbak Putri, Mas."


"Gak usah, Pak, percuma Putri gak akan mau, Pak Jodi pulang aja, sampaikan sama mama kalo saya gak akan pulang sebelum Putri mau ikut dengan saya,” tukas Reza cepat, ia mengawasi Putri yang kini duduk di kursi halte.


Pak Jodi menurut dan mengawasi Reza yang tertatih-tatih berjalan menggunakan tongkatnya. Jalanan cukup ramai dan ia khawatir pada tuan mudanya yang keras kepala itu.


Sementara itu, Reza berusaha berjalan lebih cepat untuk mencapai halte sebelum Putri menemukan bisnya. Putri masih belum menyadari bila di seberang jalan Reza sedang berusaha untuk menyeberang di tengah jalan yang padat kendaraan. Saat kendaraan di depannya mulai sepi, Reza segera menyebrang dengan cepat, namun secepat apapun ia melangkah tetap terasa lambat karena kakinya masih belum sempurna benar untuk dipaksa berlari. Reza berhenti sejenak di pembatas jalan sambil mengawasi Putri yang masih duduk tenang memperhatikan ponselnya. Peluh mulai menetes di kening Reza, saat melihat sebuah bis di kejauhan menuju halte tempat Putri menunggu, sontak Reza mencoba berlari untuk menyeberang.


'Dinnnnn Dinnnnnn!!!'


Reza menutup matanya dan bergegas menaiki trotoar halte. Saat ia membuka mata beberapa orang sudah mengawasinya dengan tatapan khawatir karena tadi hampir saja Reza tertabrak oleh mobil yang melintas.


"Ati ati, Mas!" seru seorang lelaki seraya menepuk pundak Reza kalem saat ia melewatinya.


Reza menunduk malu dan tersenyum, ia menolehi Putri yang ternyata sedang terbelalak mengawasinya. Reza mengayunkan tongkatnya ke tempat Putri berdiri dan tersenyum kikuk.


Sebuah bis berhenti, Putri menghembuskan nafasnya antara lega dan kesal lantas berpaling meninggalkan Reza. Ia bergegas masuk ke dalam bis tanpa memperdulikan Reza yang kebingungan.


Reza ikut naik ke dalam bis dan mengamati Putri yang kebingungan mencari tempat duduk penumpang. Ada tempat duduk kosong di belakang dan Putri bergegas mendudukinya. Saat sudah duduk dan mendongah pelan, Putri kembali terkejut karena melihat Reza berjalan tertatih menuju ke arahnya. Karena tak mendapat tempat duduk pada akhirnya Reza hanya bisa berdiri di samping kursi Putri.


Putri mendesah jengkel, mau apa lagi sih laki-laki ini!! Apa masih belum puas dia menghancurkan harga dirinya??


Reza menolehi Putri bingung, ia bahkan tak tau berada di kota apa dia sekarang!


"Mas.?"


"Turun di perempatan Kasturi, Pak. Nih, 2 ya!" sahut Putri seraya memberikan dua lembar uang sepuluh ribuan.


Kondektur itu menerima uang Putri dan memberi dua karcis sebagai gantinya.


Reza menghembuskan nafasnya lega dan membetulkan topinya yang miring karena tersenggol dan berdesakan dengan orang-orang saat naik bis tadi.


"Aku akan ganti uang kamu nanti,” janji Reza saat Putri meliriknya.


Putri memasang headphone dari ponselnya dan menyalakan musik agar bisa mengalihkan rasa gugupnya saat berada di dekat Reza. Perjalanan masih 20 menit lagi, Putri melirik Reza yang masih berdiri dan bersandar di kursi di seberangnya. Apa kakinya sudah sembuh? Apa Reza kuat berdiri selama hampir setengah jam? Putri mengamati kaki Reza yang tertutup celananya.. dulu posisi kaki itu sedikit bengkok karena kecelakaan, pasca terapi pun sekilas masih terlihat bekas operasi pemasangan pen nya. Putri penasaran apa kaki itu sudah cukup kuat sekarang??


Reza mengangkat kakinya sedikit dan menepuknya pelan begitu sadar Putri memperhatikan kakinya sedari tadi.


"Ini sudah sembuh kok, Put. Don't worry!" terang Reza riang, ia bersyukur Putri masih memperhatikannya.


Putri mendengus dan membuang muka, Reza tersenyum.


Bis melaju perlahan, Reza tak tahu seberapa jauh lagi ia akan tiba. Bila dirunut dari perjalanannya saat naik mobil tadi kurang lebih 15 menit ia sampai di restoran tempat Putri bekerja. Berarti kemungkinan nanti ia akan tiba di waktu yang sama.


Saat mengedarkan pandangannya keluar jendela, Reza memperhatikan setiap bangunan yang dilewati oleh bis yang ia tumpangi. Ia tak asing dengan toko-toko dan bangunan itu, dan tunggu!!


Reza menajamkan penglihatannya saat bis baru saja melewati sebuah toko buku, ia tak asing dengan toko itu. Ia pernah ke sana.


"Uhh.." Reza memejamkan matanya cepat saat kepalanya tiba-tiba pening. Rasanya ada sesuatu yang menegang di dalam kepalanya.


Benar, Reza familiar dengan toko buku itu!


Ia pernah mengunjunginya.


"Reza ..." sebuah suara yang berat tiba-tiba berdengung di telinganya, suara laki laki.


Reza membuka mata pelan, ia menolehi sekitarnya. Putri memejamkan mata sembari mendengarkan musik dari ponselnya. Ingin rasanya Reza bertanya pada Putri namun sepertinya mood gadis itu masih belum membaik. Terpaksa ia kembali bersandar dan menahan kakinya yang mulai pegal. 15 menit terasa sangat lama kali ini.


**********************


Hai, Sisters!


Long time no update, ada yang sudah kangen kelanjutan kisah cinta Putri dan Reza??


Setelah menimbang cukup lama, akhirnya author akan melanjutkan kisah mereka. Tapi sabar yah, updatenya akan menyesuaikan dengan jadwal author yang sedang fokus menggarap karya lain di Pf sebelah πŸ˜†


Yuk, jangan lupa klik ❀️ dan tinggalkan komentar kalian πŸ₯°