
Putri diberi ponsel baru oleh Pak Jodi keesokan hari, usai Putri menghubunginya. Ia mendapat ponsel keluaran terbaru yang bahkan memimpikannya saja Putri tak pernah. Ia jadi semakin merasa bersalah pada keluarga Reza yang memperlakukannya dengan sangat baik.
Meski Reza masih sering memperlakukannya semena-mena namun Putri masih terus mengalah. Ia hanya akan menunggu sampai Reza bisa berjalan dan hidup normal, setelah itu Putri akan pergi bila Reza masih membencinya hingga saat itu tiba.
Sejak ponselnya kembali aktif, ada sebuah nomor asing yang sering menghubungi Putri. Ia tak pernah mengangkat telefon dari nomor itu karena takut bila ternyata orang tuanya lah yang menghubunginya. Beberapa kali nomor itu menelfon membuat Putri penasaran. Hingga akhirnya ia terpaksa mengangkatnya saat Reza memergokinya sembunyi pagi itu.
"Hallo...!" Sapa Putri ragu,
Tak ada sahutan,
"Hallo siapa ini??!" Tanya Putri lagi penasaran,
"Ini aku Put, Toriq..!"
Putri terkesiap, seluruh sendi di tubuhnya menegang seketika mendengar nama Toriq. Ia mengamati sekitarnya yang sepi. Reza sudah masuk ke dalam rumah bersama suster Anis.
"Ada apa? Jadi ini nomor kamu?!" Tanya Putri lagi,
"Iya.., kenapa telefonku nggak kamu angkat..,nomor kamu juga lama sekali nggak aktif.." Toriq bertanya balik,
Putri menghembuskan nafasnya keki, "ada apa kamu menelefonku? Tahu nomorku dari siapa!?"
"Aku nyuri nomor kamu dari ponsel Tante Mirna.., nggak boleh ya aku nelefon kamu gini??"
"Toriq, jangan berbuat seperti ini lagi... aku nggak nyaman dengan semua ini.."
"Kenapa? Reza melarang kamu ya?"
Putri menolehi Reza yang sudah masuk ke dalam lift, ia mendengus kesal.
"Kak Reza suami aku, wajar dia nggak suka aku dihubungi laki laki lain kaya gini.."
Terdengar suara Toriq tertawa, Putri semakin emosi mendengar suara tawa itu.
"Suami?? Siapa yang menikahkan kamu Put?? Aku pengin tahu siapa penghulunya..!"
"Mau kamu apa sih, Riq??"
"Aku mau kamu! Titik."
"Kamu gila!!" Sungut Putri kesal sebelum kemudian memutuskan sambungan telefonnya. Ia lantas kembali masuk kedalam rumah dengan tubuh bergetar menahan emosi.
Setiba di dalam rumah, Shelomita menghadang Putri yang hendak masuk kedalam kamarnya. Putri menelan salivanya gugup, apa Mama Reza mendengar semua percakapannya dan Toriq??
"Putri, Mama ada ide untuk membuat hubungan kamu dan Reza membaik lagi..!" Ucap Shelomita berbinar.
Putri menghembuskan nafasnya lega, tadinya ia pikir Shelomita akan memarahinya.
"Ide apa, Ma??" Tanya Putri bingung,
Shelomita menarik tangan kiri Putri untuk duduk di ruang keluarga.
"Begini, Papa dan Mama akan berpura pura pergi ke luar negeri selama beberapa minggu.., nanti kami akan tinggal di apartemen untuk sementara waktu sampai hubungan kamu dan Reza kembali membaik.."
"Kenapa harus begitu, Ma? Kalau Kak Reza nggak mau gimana??" Tukas Putri khawatir,
Shelomita menggeleng percaya diri, " Reza paling takut dengan Papanya, biar nanti Papanya yang bicara dan berpamitan seolah olah kami akan benar benar pergi besok.."
Putri menunduk pasrah, meski ia ragu rencana ini akan berhasil.
"Selama masih ada Mama dan Papa disini, Reza akan terus bergantung pada kami... tapi bila Mama dan Papa pergi pasti tak ada jalan lain untuk dia meminta bantuan selain sama kamu..." terang Shelomita menjelaskan.
Putri mengangguk dan tersenyum menurut, ia akan mencoba usaha apapun agar Reza menyukainya lagi.
Dan keesokan hari usai Papa dan Mamanya berpamitan setelah mereka sarapan bersama, Putri menemani Reza seperti biasa dari kejauhan. Sesekali Putri memotret Reza yang nampak semakin kurus sejak kecelakaan. Bila suatu saat Putri harus meninggalkan Reza setidaknya ia sudah mencoba untuk membuat Reza kembali jatuh hati padanya..meski itu sulit.
Saat sedang asyik memperhatikan foto Reza di ponselnya tiba tiba ada panggilan masuk mengagetkan Putri. Nomor Toriq!!
"Hallo!!" Sapa Putri saat sudah berada di dalam kamarnya. Kamar tamu yang ia gunakan untuk tidur selama dua bulan belakangan ini.
"Lama sekali ngangkat telefonnya? Kamu sembunyi dulu ya sebelum ngangkat telefonku??" Jawab Toriq santai,
Putri mendengus kesal, " ini terakhir kali aku ngangkat telefon dari kamu ya Riq.., aku cuma nggak ingin semakin memperkeruh suasana dengan bertelefon diam diam kaya begini.."
"Emangnya kamu lagi ada masalah sama Reza??" Tukas Toriq cepat,
"Nggak ada! Kami baik baik aja asal nggak ada kamu!" Sungut Putri.
"Selama kalian belum menikah wajar dong aku godain kamu, ya kan??"
"Aku sudah menikah! Kamu nih bebal ya!" Potong Putri cepat,
"Mana buktinya? Siapa penghulunya? Aku akan menjauh dari kamu kalau kamu bisa menunjukkan bukti bukti itu.."
"Buat apa aku nunjukin sama kamu? Apa untungnya buat aku??" Potong Putri lagi,
"Yaudah kalo gitu jangan marah dong kalo aku nganggap kalian belum menikah!" Bela Toriq santai,
"Ah taulah, ngobrol sama kamu lama-lama aku bisa ikut sinting!"
"Tapi kamu seneng kan bisa ngobrol sama aku..," goda Toriq terkekeh,
Putri mendengus lagi hingga hembusan nafasnya terdengar oleh Toriq.
"Kamu tau nggak, Put, denger suara nafas kamu gini aja, rasanya aku semakin sayang sama kamu.."
"Toriq stop, cukup! Aku ngangkat telefon dari kamu karena aku masih menghormati Bh Mirna sebagai Tante kamu.. tapi kalau kamu ngomong ngelantur kaya gini aku jijik tau nggak!" Sentak Putri marah,
"Iya maaf, Put, aku cuma kangen pengen ketemu kamu, beberapa bulan kemarin aku hampir sekarat nggak bisa denger dan ketemu kamu.”
"Kamu gila! Jangan pernah telefon aku lagi!" Rutuk Putri kesal sebelum kemudian ia memutuskan telefonnya. Rasanya bulu kuduknya merinding geli mendengar Toriq merayunya tadi.
Putri melempar ponselnya ke tempat tidur dan melepas arm slingnya pelan. Ia sudah mulai bisa meluruskan tangannya meski terkadang masih terasa nyeri. Sepertinya beberapa bulan ke depan ia pasti sembuh.
Saat hendak meletakkan arm slingnya di meja tiba tiba pintu kamar Putri dibuka secara paksa dari luar. Putri menoleh kaget, Reza muncul dari balik pintu dengan wajah dinginnya.
"Kak Reza…" desis Putri syok, "ada apa, Kak?"
"Dengan siapa kamu berbicara di telefon tadi??" Tanya Reza ketus,
Putri terhenyak, apa Reza menguping??
"Oh, itu teman kita sewaktu di kos pelangi.." sahut Putri beralasan,
"Teman kita?? Atau temanmu??" Tanya Reza lagi,
Putri mengamati raut Reza yang selalu menyeramkan saat ia marah.
"Kalau dia temanku kenapa dia nggak datang kemari menjengukku?" Lanjut Reza dingin, "kamu juga nggak perlu bicara sembunyi sembunyi, kan??"
"Kak Reza tumben kaya gini?" Desis Putri bingung,
Reza mengerutkan keningnya ragu, ia juga bingung mengapa tadi tiba tiba merasa kesal saat Putri mengobrol di telefon dengan seseorang selain dirinya. Ia tak suka.
Putri mengawasi Reza yang nampak keki, ia bahkan bingung mengapa Reza tiba tiba peduli padanya..
"Apa Kak Reza sudah mulai ingat sama aku??"
" hah, jangan mimpi kamu! Aku cuma nggak suka orang lain menyembunyikan sesuatu dariku...!" Tukas Reza cepat,
" owh, okey.., tadinya aku pikir Kak Reza sudah mulai peduli dan mau membuka hati.." desis Putri kecewa,
Reza mendengus kesal dan memutar kursinya untuk pergi. Ia menutup pintu kamar Putri dengan kasar hingga Putri bergidik kaget.