
Toriq baru saja membuka pintu mobilnya saat ia melihat Putri baru masuk ke halaman kos Pelangi sambil menenteng sebuah kresek hitam. Ia urung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu yang ia buka tadi.
"Put ..." panggil Toriq cepat.
Putri menoleh dan menghentikan langkahnya, ia tersenyum kikuk saat Toriq berjalan menghampirinya.
"Aku pengin bicara sesuatu sama kamu, besok kamu masuk kerja pagi atau sore?" tanya Toriq serius.
"Aku masuk pagi, Riq, emang mau bicara apa? Ngomong sekarang aja gapapa.." sahut Putri lirih, sesekali melirik ke kamarnya di lantai 2 khawatir Reza tiba-tiba muncul.
Toriq menggeleng pelan, wajahnya nampak lesu. "Besok aja, aku jemput kamu pulang kerja, ya?!"
Putri membuang muka, ia tak tau harus menjawab apa.
"Sampai jumpa besok! malam ini aku menginap dirumah orang tuaku. See you!" pamit Toriq sebelum kemudian berbalik dan kembali ke mobilnya.
Putri menghembuskan nafasnya bimbang, tak seharusnya ia memberi harapan pada Toriq. Meski ia tak pernah benar-benar menikah dengan Reza namun merespon perhatian dari Toriq bukan pilihan yang tepat.
Sambil merenung Putri kembali ke kamarnya, ia harus menyiapkan kata-kata terbaik untuk Toriq besok. Putri membuka pintu kamar dan mendapati Reza duduk di tempat tidur sambil bertelanjang dada. Putri menutup matanya cepat.
"Apa di sini ada bajuku, Put?" tanya Reza malu saat Putri langsung menutup mata begitu melihatnya tadi.
Putri meletakkan kresek berisi makanannya di meja dan bergegas membuka lemari pakaian, ia tak berani melirik Reza. Begitu menemukan kaos milik Reza lekas ia melemparnya tanpa menoleh.
Reza tersenyum lega,ia memungut kaosnya yang jatuh di lantai dan lekas memakainya.
Putri beringsut membuka kresek tadi dan menyiapkan nasi bungkus untuk Reza. Ia membuka karetnya dan memberikan piring berisi nasi uduk padanya.
Reza menerima piring itu dan memperhatikan Putri yang kini membuka bungkus makanan miliknya sendiri. Perlahan Putri menarik kursi dan melahap makanannya tanpa menolehi Reza lagi. Reza menarik nafasnya kecewa dan menyendok makanannya pelan.
Cukup lama Reza menghabiskan makanannya, berbeda dengan Putri yang tak sampai 10 menit sudah selesai dan merapikan piringnya.
Suasana yang hening membuat Reza serba salah, ia bahkan tak tau harus memulai obrolan dari mana. Hanya suara denting sendok dan piring yang terdengar. Reza tak menghabiskan makanannya dan membungkus lagi nasinya. Ia sungguh tak berselera.
"Gak enak yah?" tanya Putri dari meja rias.
Reza menoleh cepat, ia menggeleng.
"Maaf, di sini gak ada makanan mewah seperti di rumahmu, adanya cuma makanan pinggir jalan yang—"
"Aku lagi gak berselera buat makan Put, bukan karena makanannya gak enak," tukas Reza lirih, ia jadi merasa bersalah karena Putri sudah repot membelikan makanan untuknya namun Reza tak melahapnya hingga habis.
"Lalu sampai kapan kak Reza akan tinggal di sini?" tanya Putri lugas, ia membuka ikat rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai.
"Aku gak tau," desis Reza serak.
Putri berdiri dan menghampiri Reza yang duduk di ranjang. Saat tatapan mereka beradu, Reza menunduk keki.
"Terus Kak Reza mau tidur berdua dengan gadis murahan?? Yakin?"
"Put, aku minta maaf sudah mengatakan kata-kata itu sama kamu."
"Aku akan lebih menghormati Kak Reza kalo Kak Reza segera pulang, hubungan kita sudah selesai, kan? Toh gak ada ikatan apapun di antara kita, ya, kan?" cecar Putri dingin.
Reza menatap Putri tajam, wajahnya berubah kaku.
"Lalu mengapa Toriq masih mengira kamu istriku? Apa kamu gak menceritakan kejadian yang sebenarnya sama dia?"
"Besok aku akan cerita sama dia, kita sudah janjian buat ketemu sepulang aku kerja, jangan khawatir, status Kak Reza aman kok!" sahut Putri cepat.
Reza menahan nafasnya sedih, janjian bertemu?? Sedekat itukah mereka? Apa sudah tidak ada tempat untuk Reza??
"Aku sudah berencana untuk jujur sih sama Toriq, karena memulai hubungan dari suatu kebohongan itu terbukti gak baik!"
"Apa kamu menyukai Toriq??" tanya Reza getir, ada sakit yang ia rasakan di hatinya.
"Apa Kak Reza mau jawaban jujur??" sahut Putri menantang tatapan Reza.
Reza menghembuskan nafasnya sedih dan menunduk. Ia lebih memilih untuk tak mendengar apapun dari mulut Putri, ia tak yakin bisa kuat bila mendengarnya.
Putri menggigit bibirnya sekuat tenaga menahan air matanya agar tak tumpah. Melihat Reza terpuruk adalah hal yang tadinya ingin ia lakukan namun entah mengapa baru begini saja rasanya sungguh sakit. Ia tak tega melihat Reza terluka. Tatapan Reza tadi sangat menusuk hatinya.
"Apa di kos sini masih ada kamar kosong Put?" tanya Reza mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin melanjutkan pertengkaran mereka. Reza lelah seharian ini.
"Ada sih, kamar Toriq kosong. Apa Kak Reza mau numpang tidur di sana?"
Reza mendongah cepat, ia menatap Putri yang masih berdiri di depannya.
"Atau biar aku aja yang tidur di kamar Toriq gimana??"
"Cukup, Put! Aku ke sini bukan untuk bertengkar dengan kamu, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita!" tukas Reza seraya berdiri.
Putri mundur selangkah agar tak terlalu dekat,
"Hubungan apalagi yang mau diperbaiki?"
Reza menarik tangan Putri dan mencekalnya erat. "Setidaknya kembalikan ingatanku seperti semula! Baru setelah itu kamu bisa ninggalin aku dan pergi dengan Toriqmu itu!!" sentaknya emosi, mendengar nama Toriq disebut sedari tadi membuat darahnya mendidih.
Putri menatap Reza dingin, ia sadar bila emosi Reza mulai tersulut.
"Aku gak akan pulang sebelum ingatanku kembali, dan kamu harus bertanggung jawab atas itu!" lanjut Reza mulai tenang.
Putri tak menyahut, toh ia sendiri bersyukur bila Reza mempertahankan dirinya. Namun yang jadi masalah sekarang adalah bagaimana menjelaskan pada Toriq bila ia dan Reza sudah baikan, ia harus mencari alasan yang tepat agar Toriq tak mengharapkan Putri lagi.
Reza mengawasi Putri yang nampak berpikir dan melepas cekalannya perlahan. Setidaknya Reza punya alasan untuk lebih lama tinggal bersama Putri, ia akan merebut Putri lagi dari Toriq apapun caranya.
Saat memalingkan wajahnya kesal tanpa sengaja Reza melihat sebuah gulungan karpet di samping lemari baju. Mungkin lebih baik bila ia tidur di bawah beralas karpet daripada harus bersitegang dengan Putri. Reza beringsut mengambil gulungan karpet tadi dan menggelarnya di bawah jendela. Posisi yang dulu Reza pilih bila ia sedang bertengkar dengan Putri.
Putri mengawasi Reza dengan hati hancur, terlebih saat Reza menggelar karpet itu dan mulai berebah. Putri seperti dejavu, dan tak menyangka bila akhirnya ia harus kembali bersama Reza di kamar ini dalam keadaan yang berbeda. Saat air matanya hampir tumpah bergegas Putri beringsut masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Ia memutar kran wastafel dan menangis sejadi-jadinya sambil terduduk lemas. Sebisa mungkin Putri menahan suara tangisnya agar tak terdengar oleh Reza di luar. Dadanya terasa sesak, menghianati perasaannya sendiri ternyata tak mudah. Putri tak tega bila harus menyakiti Reza namun ia juga tak mungkin menyerah di pelukan Reza secepat ini. Reza harus merasakan sakit yang selama berbulan-bulan ini Putri rasakan!!