Run Away

Run Away
52



Selama Putri tak sadarkan diri, Toriq dan Bu Mirna yang bergantian merawatnya. Dokter yang merupakan teman Toriq memasang infus agar Putri tak dehidrasi.


Menjelang subuh keesokan hari, Putri membuka mata saat tangan kanannya terasa nyeri. Ada jarum infus yang terpasang di pergelangan tangannya. Saat mulai sepenuhnya sadar Putri kaget bukan kepalang saat melihat Toriq sedang tertidur pulas dikursi. Apa yang telah terjadi dengannya? Mengapa ia sampai di infus? Putri membatin bingung.


Hal terakhir yang Putri ingat hanyalah ia menangis histeris ketika melihat karpet yang biasa digunakan Reza untuk tidur saat mereka berdua masih tinggal di Kos Pelangi. Setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi dan baru bangun, setelah entah berapa hari ia tertidur.


Tanpa di sadari Putri menangis lagi, entahlah air matanya kini gampang sekali menetes. Reza membuat seluruh hidupnya seolah hancur. Tak ada lagi manusia yang mencintainya dengan tulus.., Putri benar benar sendirian kali ini. Tanpa orang tua, tanpa kekasih yang sudah memporak porandakan hidupnya.


Toriq yang sedang tertidur pulas lamat-lamat mendengar suara isak tangis yang sedikit berisik mengganggu mimpinya, ia membuka mata dan reflek menolehi Putri di atas ranjang. Benar saja Putri sudah terbangun dan menatap kosong ke arah plafon. Toriq berdiri dan mendekat ke tempat tidur. Hatinya seperti tersayat-sayat melihat Putri menangis seperti itu, entah masalah apa yang sedang menimpanya. Rasanya Toriq ingin menghajar Reza yang sudah membuat Putri hampir gila seperti sekarang.


"Put ..." panggil Toriq lirih.


Putri menolehinya lemah dengan air mata menetes deras.


"Put, jangan nangis," pinta Toriq memohon seraya menarik tangan Putri lembut dan mengenggamnya erat.


"Tinggalin aku sendiri, Riq.." desis Putri diantara tangisnya, melihat Toriq berada di dalam kamarnya membuat Putri semakin merasa bersalah pada Reza.


Toriq menggeleng cepat, "aku disini sejak kamu nggak sadar dari kemarin, Put, dan sekarang kamu mau ngusir aku?"


"Aku pengin sendirian ... "


"Aku nggak akan ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini, jangan memaksaku!" tukas Toriq keukeh.


"Tolong, Riq, jangan buat aku merasa menjadi orang jahat buat Kak Reza hiks..."


Toriq menatap Putri kaget, bahkan disaat sakit seperti ini pun Putri masih saja memikirkan Reza?? Sialan!!


"Justru Reza yang sudah jahat sama kamu, Put, kalo dia sayang sama kamu dia nggak akan ngebiarin kamu pergi malam itu ..." sungut Toriq terpancing, ia sudah berkorban sejauh ini namun tak sekalipun terlihat oleh Putri.


Putri terdiam, air matanya masih menetes dan Toriq bingung harus bagaimana untuk menghentikan tangisan itu. Ia putus asa.


"Baiklah aku akan keluar, tapi janji jangan menangis lagi ..." pinta Toriq serius, sejujurnya ia benci melihat wanita menangis.


Putri menghapus air matanya dan mengangguk lemah. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tak pecah lagi.


Toriq menunduk sedih dan berdiri perlahan. Ia beranjak keluar dari kamar Putri dengan penuh rasa kecewa.


Matahari mulai muncul dari timur, sinarnya yang temaram membuat Kos Pelangi nampak suram pagi ini. Toriq melangkah kembali ke kamarnya dengan hati tak karuan. Setidaknya ia sudah berusaha meluluhkan hati Putri meski itu semua tak mudah. Toriq tak akan menyerah, ia bukan tipe manusia lembek yang gampang putus asa. Ini baru permulaan baginya karena setidaknya hati yang sudah di campakkan akan lebih mudah di pikat.


"Wanita macam apa kamu, Put!!"


"Jadi selama ini kamu menipuku??!"


Putri memejamkan mata menahan sakit di dadanya, bila ia tak mencintai Reza mengapa bisa sesakit ini rasanya?? Selama ini Putri pikir ia hanya bergantung pada Reza namun ternyata perasaannya tak bisa dibohongi. Ia sudah jatuh hati pada Reza..


Saat masih merenung mengingat Reza, tiba-tiba pintu kamar Putri dibuka dari luar. Putri menoleh lemah, sebuah wajah yang teduh muncul dan tersenyum padanya, Bu Mirna.


"Mbak Putri sudah bangun?? Makan yuk.. tadi ibuk sudah beliin bubur ayam buat Mbak Putri ..." ucap Bu Mirna seraya meletakkan sebuah kresek hitam diatas meja lantas mengeluarkannya perlahan.


Aroma khas bubur ayam semerbak memenuhi seisi kamar, Putri tiba-tiba merasa lapar.


Perlahan Bu Mirna membantu Putri untuk duduk bersandar pada bantalan tempat tidur lantas menyuapinya. Putri melahap bubur itu tanpa berkata apa apa, ia bersyukur masih ada yang peduli padanya.


"Mbak Putri mau nambah?" tanya Bu Mirna saat Putri antusias melahap bubur ayam hingga suapan terakhir.


Putri menggeleng dan tersenyum, "sudah Bu Mirna, terimakasih banyak ..." sahut Putri tak enak hati.


Ia sudah cukup banyak merepotkan Bu Mirna dan Toriq. Padahal mereka bukanlah keluarga maupun sanak saudara.


Dan yang lebih menyedihkan adalah bahkan disaat sakit seperti ini Putri masih saja merindukan Reza. Biasanya Reza lah yang lemah dan gampang sakit..


"Kalo Mbak Putri butuh apa apa jangan segan segan minta bantuan Ibuk ya? Kita semua yang berada di Kos Pelangi adalah keluarga, jangan merasa sungkan ..." terang Bu Mirna lugas seraya meletakkan bungkus bubur ayam yang sudah habis di meja.


"Baik, Bu Mirna," sahut Putri lirih.


Bu Mirna berbalik dan kembali duduk di samping Putri. Ia menatap wajah Putri lekat lekat. Ada gurat kesedihan dan rasa sakit di wajah itu.., Bu Mirna bisa melihatnya dengan jelas. Namun ia bukan tipe manusia kepo yang suka mencampuri urusan orang lain. Ia akan menahan diri untuk tidak bertanya dan membiarkan orang itu yang bercerita padanya.


"Nanti siang teman Toriq akan kembali kesini untuk melepas infusnya, kalo Mbak Putri merasa risih dengan Toriq biar Ibuk aja yang menemani, gimana?"


Putri tersenyum dan mengangguk setuju, meski Toriq sudah banyak membantunya namun Putri masih takut untuk terlalu dekat dengannya. Reza dulu selalu berpesan agar Putri tak dekat dekat dengan Toriq, meski pada akhirnya hanya Toriq lah yang bisa Putri hubungi untuk ia mintai bantuan. Hanya Toriq yang bisa ia andalkan.


Bu Mirna kemudian pamit untuk pulang ke rumahnya dan meminta Putri untuk menghubunginya bila membutuhkan sesuatu. Nanti sore ia pun sudah berjanji untuk menemani Putri melepas infusnya. Diam-diam Putri merasa terharu dengan perhatian Bu Mirna padanya, bahkan ibu kandungnya sendiri tak pernah menganggap Putri seseorang yang spesial.. ia tak lebih dari seorang pembantu di rumahnya sendiri.


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jempol kalian ya, sister πŸ₯°, boleh vote juga kok 😘