
Hari pertama pembukaan Pameran Budaya ternyata sangat meriah. Baru kali ini Reza melihat secara langsung acara kebudayaan yang biasanya hanya ia lihat di televisi atau koran. Sedikit menyesal mengapa tadi Reza tak mengajak Putri kemari, dia pasti senang melihat keramaian.
"Reza..." panggil Kakek Nun seraya menepuk bahu Reza pelan,
Reza menoleh sebentar tapi kemudian sibuk lagi menonton Pawai baju daerah yang di bawakan oleh beberapa model di panggung utama.
"Ada apa Kek??" Tanya Reza sambil melirik Kakek Nun sesekali.
"Kamu kesini mau lihat pawai atau mau bantuin Kakek jaga stand??"
Reza tertawa, "sebentar Kek, tanggung.."
"Dasar kamu itu ya! Nggak bisa liat wanita bening.."
Reza terkekeh dan menggeleng cepat, " bukan lihat ceweknya Kek, tapi lihat baju bajunya.., baru kali ini saya lihat secara real baju adat.."
"Alasannn!!" Tukas Kakek Nun sebelum kemudian berlalu dan kembali ke standnya yang kebetulan berhadapan dengan panggung utama.
Reza berbalik dan mengikuti Kakek Nun yang sudah lebih dulu sampai. Secantik apapun model model itu berjalan di atas panggung, tetap di mata Reza hanyalah Putri yang paling cantik. Tidak ada yang lain..
Beberapa orang terlihat mulai mengerumuni stand buku Kakek Nun, ada yang melihat lihat, ada yang membaca dan ada juga beberapa yang membeli. Reza lumayan sibuk dan kewalahan melayani mereka. Sementara Kakek Nun bertugas menjaga meja kasir, Reza kebagian mengawasi orang orang yang masuk dan membereskan buku buku yang berceceran usai dibaca dan di obrak abrik pembeli.
Jam 3 sore, Reza baru bisa istirahat dan duduk santai setelah hampir 7 jam berdiri dan beres beres. Ia bahkan tak menikmati acara pembukaan dan pidato beberapa orang petinggi daerah. Sepertinya tadi Reza juga sempat mendengar perwakilan dari Kementrian Pariwisata juga datang dan mengisi pidato. Sayang Reza tidak bisa menyimak banyak karena orang orang datang silih berganti.
"Kamu nggak makan Reza?? Jangan telat makan lagi!!" Cecar Kakek Nun sambil memberikan sebotol air mineral.
Reza mengambil botol itu, membuka lantas menghabiskan isinya. Ia hampir dehidrasi. Meski pameran berada di dalam gedung kota yang besar namun sirkulasi udara tidak maksimal karena di dalam penuh sesak oleh manusia. Reza merasa pengap untuk beberapa saat.
"Saya keluar beli makan dulu ya Kek.., Kakek mau makan apa??"
"Terserah kamu sajalah.." sahut Kakek Nun pasrah,
Reza meraih tasnya dan segera pergi keluar dari gedung untuk membeli makan. Meski telat namun ia harus mengisi perutnya agar tidak drop lagi.
Saat Reza sedang menikmati Sotonya, beberapa mobil berplat merah dan di kawal polisi berhenti di depan gedung kota. Sepertinya orang penting yang datang. Kalau bukan Kepala Daerah mungkin orang orang dari Kementrian yang sedang dijemput untuk pulang.
Reza pernah menaiki mobil mewah seperti itu sebelum kemudian menjualnya 2 tahun yang lalu. Ia sudah pernah menikmati fasilitas fasilitas nomor satu yang membuatnya nampak seperti orang penting. Padahal ayahnya lah orang penting itu, bukan Reza.
Saat Soto di mangkuknya sudah habis, lekas Reza berdiri dan membayar makanannya. Kakek Nun pasti kelaparan di dalam. Sedikit berlari Reza kembali ke gedung kota yang hanya terpisah jalan raya dari tempatnya makan tadi.
Kerumunan beberapa orang dan polisi nampak keluar dari gedung bersamaan dengan Reza menaiki tangga lobi. Reza menepi dan membiarkan kerumunan itu lewat. Penampilan mahal beberapa orang yang terlihat diantara kerumunan itu menyita perhatian Reza, dari kepala hingga ujung kaki semua bermerk. Reza tersenyum masam dan membuang muka. Ia sudah pernah berada di 'sana'.
Rombongan orang orang yang ternyata dari pejabat tinggi Kementrian Pariwisata masuk ke mobil dinas berplat merah. Ada 3 mobil yang berjejer rapi dan 2 mobil polisi yang mengawal. Reza mengawasi mobil mobil itu sebentar. Salah satu mobil membuka kaca jendelanya pelan tepat saat Reza mengawasinya. Seorang perempuan berkacamata hitam muncul dari balik jendela itu dan mengawasi Reza.
Reza memicingkan matanya mencoba mengingat ingat siapa wanita itu, ia seperti pernah melihatnya tapi Reza lupa dimana..
Sirine mobil polisi menyala mengagetkan Reza, tak berapa lama mobil mobil itu melaju dengan cepat sebelum Reza ingat dan melihat dengan jelas siapa wanita itu.
Lekas Reza berbalik dan bergegas kembali ke stand Kakek Nun. Standnya mulai ramai lagi, beberapa orang nampak sedang membaca sambil berdiri. Reza menghampiri Kakek Nun dan memberikan Soto yang ia bungkus tadi.
"Biar Reza yang jaga kasirnya, Kakek makan dulu aja.." saran Reza seraya membantu Kakek Nun berdiri dari kursi.
Pameran tutup jam 8 malam, otomatis semua stand pun tutup pada jam itu. Padahal tadinya Reza ingin mengajak Putri jalan jalan sepulang dari kerja, tapi sepertinya ia sangat lelah hari ini. Mungkin di hari kedua atau ketiga nanti stand tidak akan seramai hari pertama pembukaan, jadi Reza bisa mencuri waktu untuk istirahat agar tak terlalu lelah.
Tepat sebelum jam 8 malam, Reza sudah selesai membereskan buku buku yang tercecer di meja dan merapikannya kembali. Ia sudah rindu pada Putri. Sepertinya malam ini Reza ingin tidur disamping Putri lagi seperti kemarin malam. Rasanya sangat tenang dan nyaman.
"Yuk kita pulang.." ucap Kakek Nun sambil terlebih dahulu berjalan keluar dari stand. Reza mengekor di belakangnya.
Belum sampai 10 menit perjalanan Kakek Nun sudah tertidur di dalam mobil. Reza mengawasi Kakek Nun iba, harusnya di usia senja Kakek Nun hanya perlu beristirahat dan bersenang senang. Kakek Nun pasti lebih lelah darinya. Terlebih ia hidup sebatang kara.
Reza sengaja memperlambat laju mobilnya agar Kakek Nun bisa beristirahat lebih lama. Tak mengapa bila nanti Reza sampai di kos lebih malam, Putri pasti akan mengerti.
Jam 10 malam Reza baru sampai di kos Pelangi. Lampu di kamarnya sudah mati, sepertinya Putri sudah tidur. Dengan menahan lelah Reza berjalan pelan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2. Langkahnya terasa semakin berat disaat tubuhnya kelelahan..
Putri sudah terlelap ketika Reza sampai di kamar. Ragu Reza mendekat ke ranjang tempat gadisnya memejamkan mata, meski dikamarnya hanya ada bias sinar yang temaram dari lampu di balkon namun Reza bisa melihat dengan jelas betapa polosnya wajah Putri ketika sedang tertidur. Diam diam Reza merasa bersalah sudah membawa Putri masuk kedalam kisah hidupnya yang rumit. Ini bahkan masih belum memasuki babak awal.. Putri masih belum tahu siapa Reza sebenarnya..