
Tempat yang pertama kali Reza datangi adalah Toko Buku Kakek Nun. Ia tak sabar ingin bertemu dan mengobrol dengan Kakek Nun tanpa ada rahasia lagi diantara mereka. Begitu sampai, Toko Kakek Nun ternyata tutup. Reza dan Putri mengetuk pintu berkali kali namun tak ada sahutan, pintunya pun terkunci. Entah mengapa, Reza jadi khawatir.
"Apa Kakek Nun masih di tempat pameran??" tanya Putri bingung.
Reza mengangkat kedua bahunya tak tahu, ia mencoba menghubungi nomor Kakek Nun namun nomor itu tidak aktif.
"Kita ke kos dulu aja yuk, nanti kita balik lagi kesini," cetus Reza seraya menggandeng tangan Putri dan mengajaknya masuk ke dalam mobil lagi.
Di dalam mobil.
Reza masih penasaran kemana Kakek Nun pergi. Ia tak punya sanak saudara, pun tak ada tempat yang bisa Kakek Nun datangi.
"Kak Reza, masih kepikiran Kakek Nun??" tanya Putri saat wajah Reza nampak kusut,
Reza menoleh sekilas dan tersenyum mencoba untuk mencairkan suasana,
"Aku cuma kepikiran aja, takut Kakek Nun sakit, beliau sendirian, kasihan," desis Reza sedih,
Putri mengelus lengan Reza untuk menenangkannya. Meski tak begitu lama mengenal Kakek Nun namun kedekatan Reza dengannya sepertinya cukup kuat.
Mobil hitam Reza memasuki area parkir kos Pelangi. Tak ada mobil Toriq di sana, Reza bisa sedikit bernafas lega. Saat Reza turun, Pak Ali datang tergopoh gopoh mendekat.
"Mas Reza toh, ternyata! Saya pikir mas Toriq beli mobil baru lagi," tawa Pak Ali sumbang,
Reza tersenyum keki dan melirik Putri yang sudah berdiri di sampingnya.
"Bu Mirna ada kan, Pak Ali??" tanya Putri mengalihkan topik, ia paham Reza tak suka bila membahas Toriq.
"Ada kok, Mbak Putri, masuk aja ke dalam," sahut Pak Ali sambil menunjuk rumah Bu Mirna dengan jempolnya sopan.
Putri mengangguk dan segera menarik Reza untuk mengikutinya. Hari ini mereka akan berpamitan pada Bu Mirna dan membereskan semua pakaian.
Saat Putri dan Reza baru menaiki tangga teras, Bu Mirna muncul dari balik pintu.
"Loh, Mbak Putri, Mas Reza, ada apa nih??" tanya Bu Mirna bingung.
"Kami ingin bicara sebentar, Bu, apa Bu Mirna ada waktu??"
"Ada apa ya, Mbak Putri?? Yuk masuk yuk ke dalam," tawar Bu Mirna seraya mempersilahkan Putri untuk masuk, Reza mengekor di belakang.
Begitu mereka sudah duduk di sofa, Bu Mirna nampak serius mengawasi Putri dan Reza bergantian. Tadi Bu Mirna sempat melihat Reza turun dari sedan hitam mewah itu, ia jadi sedikit kepo sekarang.
"Begini, Bu, kami mohon maaf sebelumnya, hari ini kami kemari untuk berpamitan."
"Loh, kalian mau kemana??" potong Bu Mirna kaget.
"Kami akan pulang kerumah orang tua saya, mohon maaf, bila selama saya dan Putri tinggal disini, kami sudah banyak merepotkan, Bu Mirna, " jelas Reza lugas, ia tak suka berbasa basi.
"Tapi kan, kalian baru 2 bulan disini, terus uang yang kalian bayarkan?"
"Gapapa, Bu Mirna, saya nggak akan meminta uang saya untuk kembali kok."
Putri menolehi Reza kaget, uang yang ia bayarkan bukan cuma bernilai ratusan ribu tapi puluhan juta, dan itu Reza ikhlaskan hilang begitu saja??
"Nggak bisa gitu, Mas Reza, nanti uang itu tetap akan saya transfer balik," ucap Bu Mirna serius.
"Nggak usah, Bu, anggap saja itu sebagai balas budi kami atas kebaikan Bu Mirna selama ini, saya berterimakasih banyak karena tempat Kos ini membawa cerita tersendiri di kehidupan saya," tolak Reza cepat, ia melirik Putri yang tak bergeming.
" Ya tuhan, suatu saat kalo kalian butuh sesuatu jangan sungkan datang lagi kemari ya, saya nggak akan memberikan kamar kalian ke siapapun sampai kontrak kalian habis," terang Bu Mirna sedih,
Reza tersenyum dan menarik tangan Putri untuk ia genggam.
"Kami mohon pamit, Bu, kami akan membereskan barang barang kami sekarang.”
Bu Mirna berdiri saat Reza dan Putri beranjak dari kursi tamu.
"Nanti kami akan kembali kemari saat selesai beres beres, untuk berpamitan sebelum pergi," terang Reza seraya menarik tangan Putri untuk keluar dari rumah Bu Mirna.
Di dalam kamar,
Reza membereskan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam travel bag. Putri masih duduk di ranjang dan memandangi kamar kos tempatnya yang penuh kenangan.
"Apa nggak sebaiknya kita nyisain beberapa baju kita disini? Kapan kapan aku pengin nginep disini kalo kangen sama kamar ini, boleh kan??" tanya Putri memecah sunyi.
"Boleh, kapan saja kamu kangen sama tempat ini nanti kita akan tidur disini," sahut Reza ikut sedih.
Kamar kos yang selama ini membuat perasaannya campur aduk, yang memberinya banyak pelajaran hingga akhirnya menyerah pada perasaannya.
Reza mengeluarkan kembali baju-bajunya dan memilih untuk membawa dokumen penting milik mereka berdua, termasuk amplop cokelat berisi surat perjanjian mereka.
"Kita sobek aja ya surat ini, toh sudah gak berlaku lagi, kan?" tanya Reza meminta persetujuan.
Putri tersenyum dan mengangguk, Reza menyobek amplop itu menjadi 2 dan melemparnya ke tempat sampah. Ia lantas mendekat ke ranjang tempat Putri duduk.
"Habis ini kita kerumah orang tuamu, ya? Aku pingin ketemu mereka," ucap Reza lirih sambil duduk di samping Putri.
Putri melirik Reza gugup, selama ini ia tak pernah bercerita mendetail tentang keluarganya. Ia bahkan pesimis Ibunya akan menerima lamaran Reza.
"Anggep aja aku nggak punya orang tua, Kak, selama ini aku merasa seperti itu."
"Jangan begitu, Put, sejahat jahatnya Ibumu, dia tetap wanita yang melahirkan kamu," tukas Reza tak suka,
Putri menunduk sedih, Reza hanya belum tahu bagaimana Ibunya memperlakukan Putri selama ini. Ia bahkan merasa seperti bukan anak kandung.
"Aku hanya akan minta ijin sama mereka, setelah itu kita pergi apapun respon Ibumu nanti, oke??" lanjut Reza menguatkan Putri.
Putri mengangguk dan menghembuskan nafasnya berat. Reza tersenyum dan mendekat ke bibir Putri. Ia rindu menciumi gadisnya ini dengan hangat. Gadis miliknya yang akan Reza perjuangkan sampai mati.
Pada akhirnya Reza dan Putri keluar dari kamarnya hanya membawa satu travel bag, berisi beberapa pakaian dan dokumen penting mereka. Usai berpamitan pada Bu Mirna yang nampak sedih, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Putri.
Perjalanan masih jauh dan Putri mulai mengantuk. Ia terlelap saat mobil Reza baru saja keluar dari kota pelariannya.
Separuh perjalanan, ponsel Putri berdering di dalam tasnya. Reza yang tadinya tak bergeming lantas mulai penasaran, ponsel itu tak berhenti berdering sedari tadi. Ia menepikan mobil dan mengeluarkan ponsel Putri dari dalam tasnya. Putri masih terlelap, tak bergerak.
Nomor asing.
Nomor siapa ini? Mengapa memaksa untuk menelefon Putri?
"Hallo," sapa Reza tak enak hati,
Tak ada sahutan, Reza mengernyitkan keningnya bingung.
"Hallo, siapa ini??" tanya Reza penasaran,
"Dimana Putri? Kenapa bukan dia yang ngangkat telefonnya??"
Jantung Reza berdetak kencang, suara lelaki. Toriq!!
"Mau apa kamu menelfon Putri??" tanya Reza dingin.
"Aku mau bicara sama Putri."
"Aku, suaminya!!, beraninya kamu telefon istri orang kaya gini!" sentak Reza marah.
Terdengar tawa Toriq di ujung sana, darah Reza semakin mendidih marah. Ia menutup sambungan telefon itu dan melempar ponsel Putri ke kursi belakang.
Reza mengatur nafasnya yang sempat tertahan dan memburu karena emosi, ia menolehi Putri yang masih tertidur. Beraninya Putri memberikan nomor ponselnya pada Toriq!! Bahkan Reza sendiri tak punya nomor gadis itu!
Reza mendadak sakit hati, ia menginjak pedal gasnya lebih dalam dan melajukan mobilnya kencang. Sayup-sayup terdengar ponsel Putri kembali berdering di kursi belakang. Emosi Reza tersulut lagi. Ia melirik Putri yang masih tertidur lelap. Bisa bisanya Putri bermain api di belakangnya!
Bahkan Reza sudah menjaga dirinya dari godaan Zeyna, tapi Putri sendiri malah memberikan nomor ponselnya ke orang yang paling Reza benci.
Tak terasa mobil Reza melaju di kecepatan penuh, emosi membuat kakinya reflek menginjak pedal gas lebih dalam. Jalanan di hutan yang sepi membuat Reza semakin leluasa bermain dengan kecepatan.
Namun Reza tak sadar, beberapa meter di depannya ada truk yang sedang parkir di tengah jalan untuk mengganti ban. Sepersekian detik ia masih bisa menghindar dan membanting stir ke kanan, namun kecepatan yang diluar batas membuat mobilnya terpelanting dan berguling tiga kali.
Reza masih sempat sadar dan membuka mata saat mobilnya sudah terbalik, ia masih sempat menolehi Putri yang berdarah dan menangis meraung raung memanggil namanya. Tapi beberapa detik kemudian semua menghitam. Reza terkulai lemah di air bag mobil yang sudah berlumuran darah.
“Kak Reza!!! Huhuhuhu…,Kak.”
*******************************
Sekali lagi terima kasih untuk sister yang masih setia membaca cerita ini, love banyak banyak buat kalian di manapun berada ❤️
Seperti biasanya, kasi saya semangat dengan klik favorit dan suka pada kisah Reza dan Putri ini yah, kalo mau komen juga boleh banget 🥰 pasti saya balas nanti ❤️