Run Away

Run Away
33



Putri reflek menarik bibirnya dari ciuman Reza dan menolehi pintu, seseorang mengetuknya dari luar.


“Yaaaa…?” tanya Reza sambil mengurai pelukannya.


“Mas Reza, dua jam lagi ditunggu untuk makan malam di bawah,” sahut suara di luar.


Reza tak menyahut, ia menolehi Putri yang masih mematung di sampingnya. Wajah gadis itu seketika pucat saat pintu di ketuk tadi. Reza tertawa geli.


“Kenapa ketawa?” tanya Putri sewot.


“Kamu seperti habis di grebek, tiba-tiba ketakutan begitu.”


Putri merengut, jelas saja ia ketakutan!


“Kak, gimana kalau orang tua Kak Reza tahu tentang pernikahan pura pura kita?” desis Putri bergidik, ia tak bisa membayangkan bagaimana murkanya orang tua kekasihnya ini.


“Nggak akan ada yang tahu, kamu bisa mengandalkan aku, Put. Lagian bulan depan kita sudah menikah betulan,kan?”


Putri mengangguk cepat, menikah betulan? Apakah ia sudah benar benar siap menjadi Nyonya Syahreza?? Putri tersipu.


“Kamu mandi dulu, gih! Sebentar lagi kita turun buat makan malam,” perintah Reza sambil menunjukkan kamar mandinya.


Putri mengekor dan terkesima melihat kamar mandi itu. Ia melangkah ragu ke dalam, luasnya mungkin dua kali kamar kosnya. Ada bathtub dan shower, wastafel yang terbuat dari marmer dan cermin super besar berbingkai besi berwarna gold. Putri menyentuh tiap detail di kamar mandi itu dengan penuh haru, entah kebaikan apa yang sudah ia perbuat, hingga balasan seindah ini bisa ia dapatkan sekarang. Bahkan memimpikannya saja tak pernah.


“Mau aku temani?” Reza tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Putri terbelalak, “Kak Reza!!!”


Saat makan malam.


Semua keluarga inti berkumpul di meja. Reza duduk bersebelahan dengan Putri. Tadi sebelum keluar dari kamar, Reza sudah terlebih dahulu membriefing Putri dan memintanya untuk tidak banyak bicara. Putri cepat akrab dengan siapapun dan Reza tak mau gadis itu keceplosan.


“Putri, teman kuliah Reza di kampus?” tanya Rizal seraya menatap menantunya itu.


Putri melirik Reza keki, “Iya, Om,” sahutnya.


“Panggil kami Papa dan Mama, kamu kan sudah jadi bagian dari keluarga kami, Put,” perintah Shelomita lembut.


Putri mengangguk pelan, “I-iya,Ma,” sahutnya lagi.


Reza menolehi Putri dan tersenyum, berusaha menenangkan ketakutan kekasihnya.


“Putri itu adek tingkat Reza di kampus, Ma, Pa.” Reza menggenggam tangan Putri erat.


“Orang tua Putri bekerja dimana?” tanya Shelomita,


“Ayah saya seorang Pelaut, Ma.”


“Oh ya, wah, kita akan berbesan dengan nahkoda nih, Pa.” Shelomita berdecak senang.


“Apakah Putri juga anak tunggal?”


Putri menggeleng dan menunduk sedih. Sebenarnya ia tak terlalu suka membahas keluarga yang sudah mengacuhkannya.


Saat melihat gadisnya tertunduk sedih, reflek Reza memberi isyarat telunjuk di hidung pada mamanya agar tak melanjutkan pertanyaan mereka. Shelomita mengangguk paham.


Acara makan malam pun kembali mereka lanjutkan tanpa banyak pertanyaan. Sesekali, Reza menolehi Putri untuk memastikan gadis itu nyaman berada di tengah-tengah keluarganya.


“Kalian ingin konsep apa untuk pernikahan kalian nanti?” Shelomita membuka perbincangan lagi.


“Kalau Reza sih, terserah Putri.”


“Putri juga, terserah, Kak Reza” tukas Putri cepat.


“Loh, kalian nggak punya wedding dream, gitu?” tanya Shelomita heran,


Kompak Putri dan Reza menggeleng. Shelomita menggaruk keningnya yang tak gatal, Rizal hafal betul kebiasaan itu dilakukan bila istrinya sedang kehabisan kata kata.


Tampak Shelomita mendesah, Rizal tersenyum melihatnya. Ini akan menjadi pesta besar bagi keluarga Purnama. Bahkan mungkin pesta terakbar diantara pesta pesta yang diadakan sebelumnya. Tentu Shelomita tak akan membiarkan pesta pernikahan putranya menjadi pesta yang biasa biasa saja.


“Baiklah, lanjutkan makan kalian, kita bahas ini besok saja,” putus Rizal seraya menunjuk piring istri dan anaknya.


Paginya,


Putri terbangun dan masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia membuka mata di ranjang yang sangat empuk dan hangat, Reza tidur tepat di sampingnya. Bila ini semua hanya mimpi rasanya Putri tak ingin terbangun.


Perlahan Putri beranjak duduk dan menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Reza menggeliat dan membuka mata saat ia merasa Putri menggeser tangannya yang memeluk tubuh mungil gadisnya tadi.


"Mau kemana, Put??" tanya Reza bingung saat Putri tergopoh gopoh bangun dan mengikat rambutnya yang panjang terurai.


"Mau masak buat Kak Reza, dapurnya dimana ya??" jawab Putri polos,


Reza beranjak duduk pelan, bertopang pada kedua tangannya dan tertawa, 


" Nggak usah masak, sudah ada yang masakin kita di bawah."


Putri merengut kecewa, " tapi kan aku sungkan, Kak ..."


"Kamu menantu keluarga Purnama, kamu nggak boleh menyentuh dapur kecuali aku yang minta kamu masak, paham??" terang Reza serius, lantas mencubit hidung Putri gemas.


"Tugas kamu disini cuma nemenin aku, ngelayanin aku, selain itu kamu nggak boleh ngapa ngapain" lanjut Reza lugas, Putri tak menyahut.


"Mandi gih, nanti habis sarapan, kita ke kos untuk mengambil barang barang kita," perintah Reza cepat,


Saat sarapan di ruang makan keluarga, Rizal sudah berangkat ke kantornya, hanya Shelomita yang menemani Reza dan Putri sarapan.


"Kalian diantar supir saja, ya? Biar nggak capek capek nyetir."


"Nggak usah, Ma, lagian cuma 2 jam perjalanan kok," tolak Reza halus seraya menyantap sarapannya.


Ada banyak menu sehat tersaji di meja, apalah Putri yang hanya bisa memasak satu menu untuk sarapan Reza setiap harinya saat masih tinggal di Kos Pelangi. Putri jadi minder sendiri..


"Putri, suka makanan apa? Biar nanti Mama masakin buat makan malam ya."


"Putri juga pinter masak loh, Ma! Masakan dia 11-12 dengan masakan Mama"


"Oh ya???! Waaah, beruntung sekali kamu, Reza" sahut Shelomita takjub,


Putri tersenyum malu, ia tak berani beradu tatap dengan Shelomita.


"Nggak usah repot, Ma, Putri bisa makan apa aja kok,"


Shelomita tersenyum, memperhatikan dua makhluk kesayangannya menyantap masakan buatannya dengan lahap.


"Jangan pulang malam malam yah, papamu nanti sudah janji mau makan malam dirumah bersama, " pinta Shelomita memohon,


Reza mengangguk dan melahap suapan terakhirnya. Ia lantas meneguk habis minumannya dan mendorong gelas milik Putri lebih dekat ke arahnya.


"Mama ingin mengobrol banyak dengan kalian berdua, tapi mungkin nanti malam saja ya, " lanjut Shelomita sambil memandang Putri dan Reza bergantian.


"Iya, Ma, sore kami usahakan sudah dirumah, " sahut Reza tak enak hati. Mamanya pasti masih rindu ingin mengobrol banyak dengannya.


Shelomita tersenyum senang, ia lantas memerintahkan asisten rumah tangga yang stand by di ruang makan agar menghubungi supir, memintanya menyiapkan mobil yang akan Reza bawa.


Sebuah sedan hitam sudah siap di teras saat Putri dan Reza berjalan keluar, Shelomita masih betah mengekor dan menemani Reza kemana pun putranya itu melangkah.


"Hati hati ya, Nak, jangan ngebut! Mama dan Papa akan nunggu kalian untuk makan malam bareng."


Reza tersenyum dan menatap Shelomita setelah memasang seatbeltnya.


"Iya, Ma, Reza akan nyetir sehati hati mungkin, karena sekarang ada princess yang harus Reza lindungi." goda Reza sambil melirik Putri yang masih ribet untuk memasang seatbelt nya.


Reza terkekeh dan membantu Putri dengan sigap, Shelomita tersenyum senang melihat putranya kini terlihat lebih ceria setelah menikah.


Reza menyalakan mesin dan menutup kaca mobil usai melambaikan tangan pada Mamanya. Sudah lama ia tak mengendarai sedannya, mobil ketiga yang Reza miliki setelah SUV yang ia jual dan sebuah sedan sport. Sejak dulu Reza termasuk laki laki yang tidak begitu menyukai dunia otomotif, semua mobil mobil itu ia dapatkan sebagai kado dari orang tuanya.


Putri melirik Reza sesekali, entah mengapa Reza nampak begitu keren saat sedang menyetir. Putri seolah sedang bermimpi dengan semua kejadian kejadian ini. Sedikit banyak ia masih syok dengan kenyataan bahwa Reza yang nampak sederhana ternyata bukan berasal dari kelas ekonomi menengah kebawah seperti dirinya.


"Melamun apa sih?" tanya Reza penasaran saat Putri hanya diam membisu sepanjang perjalanan.


Putri melirik Reza lagi dan tersenyum, "Semua ini kaya mimpi," desis Putri lirih,


Reza meraih tangan Putri dan menggenggamnya erat, "Maaf ya, Put, aku nggak pernah bercerita tentang latar belakangku."


Putri menolehi Reza dan tersenyum lagi, "Pantesan waktu itu Kak Reza ngelunasin uang kos buat setahun, aku pikir Kak Reza beneran punya banyak tabungan"


"Tabunganku memang banyak!" potong Reza cepat, menyombongkan diri.


Putri mencibir, " iyaaa, percaya!!" sahut Putri.


"Tapi aku masih penasaran, kenapa Kak Reza dulu kabur dari rumah?? Orang tua Kak Reza kaya raya, mereka juga sayang banget sama Kak Reza, terusss masalahnya dimana??" lanjut Putri penasaran,


Reza tersenyum sumbang dan menolehi Putri sekilas, " Papaku nggak suka dengan hobiku menulis, dulu aku menolak saat Papa memintaku untuk meneruskan bisnis keluarga, aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan menulis, bahkan bercita cita jadi penulis," terang Reza lugas,


Putri menyimak dengan serius, Reza terkekeh melihat ekspresi Putri yang nampak seperti murid mendengarkan penjelasan gurunya.


"Terus aku kabur, aku jual mobilku buat bekal dan tabungan selama aku kabur, " lanjut Reza menerawang.


"Terus, Kak Reza ketemu aku, terus kita kabur bareng …. terus Kak Reza jatuh cinta sama aku terusss—"


"Sok tau, kamu!!" potong Reza cepat, " aku masih sendiri selama setahun, sebelum kemudian tahun berikutnya ketemu gadis paling cerewet dan nyusahin."


Putri melotot kesal, " nyusahinnn??! Lebih nyusahin Kak Reza, tahu!" gerutu Putri kesal,


Reza tertawa dan mencium tangan Putri di genggamannya. Meskipun selalu menyusahkan namun Reza tergila gila pada gadis di sampingnya ini. Gadis yang perlahan sudah merubah sifatnya menjadi lebih baik, gadis yang membuat Reza menjadi laki laki bertanggung jawab.


"Apa Kak Reza yakin, mau berhenti menulis demi di ijinin menikah sama aku??" tanya Putri merasa bersalah.


Menulis adalah hobi Reza, ia bahkan kabur dari orang tuanya karena tak direstui menjadi penulis. Dan kini, Reza rela memilih menjalankan perusahan keluarganya dan melepas hobinya demi seorang Putri.


"Aku lebih takut kehilangan kamu, daripada harus kehilangan impianku menjadi penulis Put.”