Run Away

Run Away
37



Sunyi..


Tubuhnya sudah lelah berjalan kesana kemari, namun tak kunjung menemukan yang ia cari. Saat sebuah suara memanggilnya dengan nama Reza, sejak saat itu ia menyebut dirinya Reza.


"Selamat pagi, Kak Reza! Semalam aku mimpi Kak Reza, tahu!! Aku kangen bangettt pengen liat Kak Reza natap mata aku kaya dulu, bangun, yuk!"


Suara itu entah mengapa membuat Reza selalu emosi namun ia menyukainya. Bila suara itu menghilang, maka Reza akan kembali berjalan menyusuri sebuah jalanan sepi yang tak pernah ada ujungnya. Bila suara itu muncul, Reza akan duduk tenang mendengarkan cerita-cerita dari suara indah itu.


"Kak Reza, inget nggak waktu Kak Reza salting sampe baca buku yang terbalik, hahaha..."


Reza ikut tertawa mendengar suara itu tertawa renyah, ia tak bisa ingat apapun. Wajah si pemilik suara bahkan tak tahu seperti apa..


"Pernah suatu malam aku nunggu Kak Reza pulang dari toko Kakek Nun, waktu itu kita lagi berantem, aku nungguin Kak Reza bahkan rela nggak makan malam demi bisa makan bareng, tapi ternyata Kak Reza pulangnya larut banget sampe aku marah tapi gengsi mau ngajak ngomong duluan."


Reza menyimak cerita itu dengan seksama, berharap ia ingat sesuatu apapun itu.


"Aku kangen sama Kak Reza, bangun yuk! aku janji nggak akan ngambekan lagi."


"Tadi Mama dateng loh, Kak, Kak Reza bisa denger suara Mama, kan?!"


Mama??


Reza memejamkan mata mencoba mengingat apa itu Mama??


Siapa itu Mama??


Seperti apa wujud Mama itu??


Namun semakin ia berusaha mengingat semakin ia kelelahan. Saat suara itu menghilang, maka Reza tak akan sanggup lagi berjalan. Ia hanya akan tiduran dan menghabiskan waktunya menunggu hingga suara itu datang lagi.


"Nanti kalo Kak Reza bangun, kita nginep di Kos pelangi, yah!? Aku sudah kangen sama suasana di sana."


Kos pelangi?


Dimana itu??


"Aku nyesel kenapa waktu kejadian itu malah tidur bukannya nemenin Kak Reza ngobrol,maaf ya, Kak. Gara-gara aku, Kak Reza jadi begini…" suara itu bercerita lagi dengan  sedih.


Reza mendesah pelan, ia tak paham mengapa hanya mendengar suara suara tapi tak bisa melihat siapapun. Ia sudah lelah berjalan kesana kemari, memanggil siapapun yang terlintas di otaknya namun tidak ada siapapun yang bisa ia ingat.


"Kak Reza, besok aku sudah boleh pulang.”


Reza terhenyak, pulang?? Kemana?? Apa ia akan di tinggal sendiri??


"Kak Reza, bangun yuk, biar kita bisa pulang bareng. Aku janji seperti apapun Kak Reza nanti, aku akan tetep nemenin Kak Reza."


"Heiiiiiii...!!!!" teriak Reza menggema, suaranya menggelegar hingga membuat bising telinganya.


"Kak Reza bisa dengerin suaraku kan, Kak?? Kalo kak Reza bisa denger aku gerakin mata Kak Reza, plisss…"


Reza memejamkan dan membuka matanya berkali-kali, mengusapnya hingga matanya mulai perih, berharap pemilik suara itu melihat responnya. Reza bisa mendengarnya!! Ia menikmati setiap cerita dan kisah yang diceritakan suara itu.


"Kak Reza, ayo bangun, di mana pun Kak Reza sekarang, plisss aku mohon Kak Reza pasti bisa bangun."


Reza menarik nafasnya gugup, ia menolehi sekitarnya berharap melihat apapun yang bisa membawanya kembali pulang. Sudah sekian lama ia terjebak di tempat ini sendiri, tak ada siapapun selain suara itu.


"Heiii, aku bisa denger kamu!! Jangan pergi!!" teriak Reza hingga tenggorokannya perih, kedua matanya memanas. Ia tak mau ditinggal sendiri.


Namun tak ada siapapun yang muncul. Reza terduduk lemas lagi. Suara itu menghilang.


"Heiiiii!!!" Teriak Reza kesal, "tolong aku."


Sakit...dingin…silau!!


Reza memejamkan matanya lagi saat sebuah sinar menembus retinanya. Sekujur tubuhnya kaku dan sakit.


"Reza, kamu bisa dengar saya?!"


Reza membuka matanya lagi perlahan, seorang lelaki berpakaian serba putih dan berkacamata menatapnya tajam. Siapa??


Ada juga beberapa perempuan di belakang laki-laki itu, mereka mengenakan pakaian yang sama. Apakah Reza sudah mati??


"Reza?? Welcome back, boy!!" ucap lelaki itu lagi sumringah, lantas mengecek beberapa kabel yang terpasang di dada Reza.


"Saya Dokter Steven, senang melihatmu kembali, Nak!" lanjutnya seraya menatap Reza lekat lekat.


Reza mengawasi sekelilingnya yang nampak asing, ia sedang bertelanjang dada. Kakinya kanannya di bungkus perban putih, oh, tangan kirinya juga! Seluruh tubuhnya terasa kaku dan sakit. Lehernya di pasangi penyangga yang membuat Reza tak bisa menoleh.


"Apa yang terjadi, Dok?" tanya Reza serak.


"Kamu kecelakaan sebulan yang lalu, istrimu sudah pulang tapi kami sudah menghubungi keluargamu dan memberi kabar kalau kamu sudah sadar dari tidur panjangmu," jelas Dokter paruh baya itu lugas.


Istri?? Kapan ia menikah??


"Apa yang kamu rasakan sekarang, Reza??" tanya Dokter Steven penasaran karena Reza nampak kebingungan.


"Apa saya sudah menikah, Dok??" Reza balik bertanya, ia sungguh tak bisa mengingat apapun.


Dokter Steven menolehi perawat di sampingnya dan menarik nafasnya dalam.


"Apa kamu tidak bisa mengingat apapun?"


Reza menerawang sejenak, " tidak," sahutnya kelu.


Dokter Steven menurunkan stetoskopnya dan mengawasi Reza serius.


"Begini, Reza, saat kecelakaan kepalamu cidera, kami harus mengoperasi gumpalan darah di otakmu. Resiko paling ringan adalah kamu akan amnesia dan terburuk adalah kamu akan lumpuh."


Reza menahan nafasnya yang tiba tiba terasa sesak. Amnesia? Dia kehilangan semua memorinya??


"Sampai kapan, Dok??" tanya Reza lirih.


Dokter Steven menganggkat bahunya pelan, "Tidak ada yang bisa memastikan, tapi dengan rutin ikut terapi mungkin kamu bisa lekas ingat semua memorimu.”


Reza mengawasi luka di tangan dan kakinya dengan sedih. Bagaimana bisa ia kecelakaan hingga separah ini?? Siapa yang telah menabraknya?? Kehilangan memori bagaikan tivi tanpa channel-channel pilihan, bukan?? Lalu ditambah lagi ia cacat! Lantas apalagi yang bisa ia banggakan dari dirinya?


"Kenapa saya nggak mati aja, Dok," desis Reza kelu.


Dokter Steven terbelalak mendengar ucapan Reza, "Apa kamu menyesal karena sadar? Bahkan keluarga dan istrimu sabar menanti kamu untuk bisa kembali bangun."


"Lebih baik saya mati sekalian, Dok! Buat apa saya sadar tapi bahkan nggak inget apa apa, apalagi ditambah sekarang saya cacat! Buat apa saya hidup??"


"Buat keluargamu tentu saja! Buat istrimu juga! Dia setiap hari datang kemari menemanimu," jelas Dokter Steven menghibur.


Reza membuang muka kesal, keluarga?? Istri?! Persetan!!


"Sepertinya kamu masih perlu istirahat, suster Renita akan menemanimu sampai keluargamu datang.”


Reza mengawasi Dokter Steven yang melenggang keluar dari ruang ICU dengan tatapan nanar. Seharusnya ia mati saja, daripada harus menderita seperti ini..