Run Away

Run Away
31



Pertunjukan band Ibukota sebagai bintang tamu acara penutupan Pameran Budaya sudah berlangsung sejak satu jam yang lalu. Putri nampak sangat antusias dan bahagia bisa melihat mereka dari dekat, bukan lagi melihat melalui televisi atau media sosial.


Selama acara itu pula Reza berdiri di belakang Putri untuk menjaganya. Sejujurnya, sejak tadi Reza bahkan tak bisa menikmati acara musik yang sangat di gandrungi kaum remaja di sekelilingnya, Reza justru sibuk menutupi rok mini Putri dengan tubuhnya. Ia lupa memperhitungkan keramaian dan orang orang yang berdesakan.


Sesekali Putri ikut bernyanyi dan merekam pertunjukan di panggung dengan ponselnya. Reza lebih suka menikmati wangi rambut dan tubuh Putri yang kini berdiri tepat di depannya. Suara Putri cukup merdu, ia menyanyikan lagu lagu pop yang dibawakan Band itu dan sering Reza dengar di radio yang Kakek Nun putar setiap hari di Toko.


Hampir 2 jam berlalu, Reza mulai pegal sedari tadi berdiri di belakang Putri hanya untuk menutupi rok mininya. Ia tidak begitu suka keramaian tapi demi Putri apapun akan ia lakukan, terlebih di situasi yang penuh sesak seperti sekarang. Reza tidak mau Putri jadi bahan colekan laki laki usil. Tidak boleh ada siapapun yang menyentuh miliknya!


"Nonton dari stand yuk, Put," ajak Reza di telinga Putri, suara bising musik membuat ia harus sedikit berteriak.


Putri menolehi Reza dan merengut menolak.


"Kak Reza aja gih sana balik, aku nonton sendiri berani kok," teriak Putri juga di telinga Reza.


Reza menarik nafasnya gusar dan melupakan niatnya untuk kembali ke stand. Bagaimana mungkin ia meninggalkan Putri sendirian di tengah keramaian seperti ini?? Reza masih cukup waras untuk tidak meninggalkan Putri sendirian.


Putri menolehi Reza yang masih berdiri di belakangnya dan tak beranjak. Ia bahkan tak sadar bila sedari tadi Reza tak menikmati acara sama sekali. Reza lebih sibuk memperhatikan orang orang yang berhimpitan dengannya dan memperhatikan tangan mereka. Jangan sampai tangan tangan itu usil pada Putri.


Hingga tiba akhirnya, band idola para remaja itu menyanyikan lagu terakhir, Reza lega bukan main. Akhirnya ia bisa bebas dan kembali ke stand kakek Nun dalam hitungan beberapa menit kedepan.


"Terimakasih kalian! Sampai jumpa lagi di acara Pameran Kebudayaan tahun depan!! Semoga kami bisa mengisi acara disini lagi, okeee???!"


"Okeee!!"


Riuh sahutan hampir seisi gedung kota membuat telinga Reza sakit. Putri juga ikut berteriak tadi, dan melompat senang saat vokalis band di atas panggung melambaikan tangan padanya. Reza tersenyum kecut, ia hanya kalah populer dari vokalis itu. Kalau memakai baju bagus dan naik ke atas panggung juga, sudah pasti banyak yang ngefans juga padanya.


Lampu gedung kota menyala kembali saat band itu turun dari panggung, suasana kembali terang dan ramai. Reza menggandeng tangan Putri dan menariknya kembali ke stand. MC acara kembali membuat riuh suasana dengan mengajak beberapa orang yang masih berdiri di bawah panggung berinteraksi.


Sekilas Reza melihat beberapa orang yang tak asing baginya berdiri di pagar pintu masuk menuju panggung. Beberapa bodyguard bertubuh kekar berbaju safari. Apa Zeyna datang kemari lagi??


Lekas Reza menarik Putri untuk berjalan lebih cepat. Ia harus segera beres beres dan pergi sebelum Zeyna datang ke stand.


Setiba di stand, Kakek Nun terlihat sibuk mengobrol dengan beberapa pengunjung. Reza jadi merasa bersalah sudah meninggalkan Kakek Nun sendirian.


"Reza, kemari!" perintah Kakek Nun saat melihat Reza datang.


Reza menurut dan menghampiri Kakek Nun. Tapi, beberapa langkah kemudian ia terhenti saat menyadari Kakek Nun sedang berbincang dengan orang yang ia kenal. Pak Jodi, tangan kanan papanya!


Darah Reza membeku seketika, ia menolehi Putri yang berdiri jauh di belakangnya. Dunianya tiba tiba terasa kelam, apakah ini akhir dari pelariannya??


Pak Jodi menolehi Reza yang diam mematung dan menghampirinya.


"Halo, Mas Reza. Lama tak bertemu!" sapa Pak Jodi lugas, seraya mengulurkan tangannya pada Reza yang masih diam tak bergeming.


Reza menelan salivanya gugup, ia membalas uluran tangan Pak Jodi dan lekas melepasnya lagi.


"Kami semua merindukanmu, senang melihatmu masih sehat dan—"


"Kalau Pak Jodi kemari hanya untuk membawa saya pulang, lebih baik Pak Jodi tidak perlu jauh jauh datang kesini, " tukas Reza dingin.


Pak Jodi tersenyum dan melirik perempuan di belakang Reza. Ia mengawasi Putri lekat lekat.


"Ini perintah, Mas Reza, kamu harus pulang suka atau tidak suka."


Putri menolehi Reza bingung, ia kemudian mengawasi laki laki berumur dan berpakaian rapi di hadapannya dengan penasaran. Pulang?? Pulang kemana?? Bukankah Reza yatim piatu??


"Ini mandat, Mas Reza, tolong jangan membuat kami harus berbuat kasar padamu," cetus Pak Jodi tegas,


Kakek Nun yang sedari tadi mengamati Reza yang nampak tegang dari kejauhan bergegas mendekat.


"Ada apa ini?" tanya Kakek Nun bingung, seraya mengawasi Reza dan Pak Jodi bergantian.


Pak Jodi tersenyum dan menunduk sopan pada Kakek Nun.


"Mohon maaf, Kek, kami kemari untuk menjemput Mas Reza pulang."


"Loh, bukannya tadi anda bilang mau menanyakan barang yang ketinggalan di stand sini??"


Pak Jodi tersenyum dan menggeleng pelan, "Maaf, kami harus berdusta, semua demi kebaikan bersama.."


"Reza, siapa bapak ini? Apa kamu mengenalnya??" tanya Kakek Nun cepat saat Reza hanya diam mematung dengan wajah tegang.


Reza menggeleng berdusta, hanya agar ia bisa kabur secepatnya.


"Mas Reza, tolong, jangan paksa kami untuk berbuat kasar, ikutlah dengan sukarela,” pinta Pak Jodi sedih, ia tak sampai hati harus berbuat kasar pada tuannya yang sudah ia lindungi sejak bayi.


Putri menggenggam tangan Reza lebih erat, tiba tiba ia merasa khawatir. Reza menolehi Putri bimbang, bila harus pulang maka Putri harus ikut bersamanya.


"Baik, saya akan pulang, asal dia ikut bersama saya!" cetus Reza seraya menolehi Putri.


Pak Jodi tersenyum senang dan mengangguk. Ia memerintahkan pada beberapa laki laki yang berdiri di belakang Reza dan Putri untuk mundur dan menunggu di luar stand.


"Tapi sebelum itu, saya nggak bisa membiarkan Kakek Nun beres beres barang sendirian...!"


"Oh, tenang, Mas Reza, biar mereka yang membantu Kakek beres beres hingga kembali ke Toko dengan selamat, jangan khawatir. Kamu dannn siapa gadis ini??"


"Putri!, dia istri saya!" tukas Reza cepat,


Pak Jodi terperangah kaget, istri??!! Namun detik berikutnya ia bisa menguasai diri.


"Oke, Mas Reza dan mbak Putri, bisa pulang bersama saya lebih dulu, bagaimana??"


Reza mengawasi Kakek Nun yang mengangguk pelan, "Pulanglah Reza, Kakek akan baik baik saja," ucap Kakek Nun mantap,


Reza mendekat ke Kakek Nun dan memeluknya erat, "Saya pasti akan kembali dan sering mengunjungi Kakek," desis Reza sedih.


Kakek Nun menepuk bahu Reza yang bidang dan mengangguk, "Kakek akan menunggu hingga saat itu tiba.."


Usai mengurai peluknya, Putri berganti memeluk Kakek Nun dan berpamitan. Entah mengapa meski baru sehari bersamanya namun Putri merasa sudah amat dekat dengan Kakek Nun.


Reza kembali menggandeng tangan Putri dan mengikuti perintah Pak Jodi untuk mengikutinya. Saat sampai di depan stand, Pak Jodi memerintah beberapa bodyguardnya untuk membantu Kakek Nun beres beres, hingga mengantar beliau kembali ke toko dengan selamat.


Putri melirik Reza sesekali, ada banyak pertanyaan di benaknya namun tak mungkin ia menanyakan hal itu sekarang. Perlahan misteri tentang Reza yang selalu menghantuinya mulai terkuak meski masih seperti benang kusut baginya.


Pak Jodi membuka pintu mobil untuk Tuan Mudanya dan sang istri. Sebuah mobil SUV mewah yang hanya bisa Putri lihat di film Korea kini dinaiki olehnya. Siapa sebenarnya Reza? Apa dia putra konglomerat?? Lantas, mengapa ia kabur dari keluarganya yang kaya raya?