
Alexandria Zeyna Basuki.
Perempuan yang pernah singgah di hati Syahreza lebih dari 15 tahun yang lalu. Reza pernah tergila gila pada gadis yang saat itu adalah kakak kelasnya semasa SMP. Mungkin itu hanyalah cinta monyet namun cinta itu mengubah Reza yang introvert menjadi sosok yang semakin menutup diri dari sekitarnya.
Kisah cinta itu berawal dari Reza remaja yang kutu buku dan lebih suka menghabiskan waktu istirahatnya di Perpustakaan daripada di Kantin atau Lapangan Basket. Penampilan Reza yang cupu dan berkacamata tebal membuatnya minder untuk bergaul dengan teman teman sebayanya di sekolah. Adalah Zeyna, salah satu anggota dari genk gadis populer di SMP yang terkadang menghabiskan waktunya di perpustakaan dua sampai tiga kali dalam seminggu.
Saat Zeyna menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan maka beberapa laki laki keren juga akan menghabiskan waktunya disana. Awalnya Reza tak mengetahui siapa itu Zeyna sebelum kemudian penjaga perpustakaan bercerita padanya tentang seorang gadis populer yang hobi membaca dan datang ke perpustakaan tiga kali dalam seminggu.
Reza selalu membaca buku di kursi panjang di pojok dekat jendela. Dia akan betah duduk disana sampai bel masuk berdering. Kursi itu selalu di duduki sendirian olehnya, tak seorang pun mau duduk di kursi yang sama dengannya. Pun dikelas Reza lebih memilih untuk duduk sendiri daripada berdua dengan teman sekelasnya.
Zeyna adalah manusia pertama yang menduduki kursi panjang yang menjadi tempat favorit Reza. Tadinya Reza risih saat gadis itu selalu duduk di tempat yang sama dengannya, sempat terpikir untuk pindah namun tak ada kursi kosong lagi di perpustakaan. Semua sudah terisi oleh teman teman sebayanya. Bila Zeyna datang ke Perpustakaan dan duduk disitu maka beberapa laki laki berisik akan datang juga dan membuntutinya. Sungguh Reza merasa terganggu.
"Hay..." sapa sebuah suara lembut membuat Reza menghentikan kegiatan membacanya.
Zeyna muncul dengan senyum khasnya dan duduk di kursi panjang di hadapan Reza.
Reza membetulkan kacamatanya yang melorot dan kembali membaca buku di tangannya. Pasti sebentar lagi kegaduhan akan dimulai dan benar saja beberapa murid laki laki kemudian datang dan duduk di kursi panjang sederet dengan Reza. Bila sudah demikian maka Reza akan menulikan telinganya hingga bel masuk berdering.
Tapi entah mengapa kemudian hal itu tak berlangsung lama, beberapa bulan setelahnya para laki laki itu tak lagi menggoda Zeyna karena ada murid baru pindahan dari luar kota yang menjadi idola baru di Sekolah. Disaat itulah Zeyna seperti terbuang oleh para lelaki itu dan jadi lebih sering datang ke Perpustakaan seorang diri.
Reza yang tadinya cuek dengan siapapun pelan pelan jadi iba melihat Zeyna. Ia tak lagi acuh bila Zeyna menyapanya, kadang mereka berdiskusi tentang buku yang bagus dan saling merekomendasikan buku yang menjadi favorit masing masing.
Lambat laun Reza mulai nyaman mengobrol dengan Zeyna yang ramah, ia mulai rindu bila hari minggu datang dan membuatnya tak bisa bertemu Zeyna. Reza mulai mencari cari informasi tentang kakak kelasnya itu, tentang hobinya, tanggal lahirnya hingga alamat rumahnya.
Saat pulang sekolah, Reza selalu minta supir untuk melewati rumah Zeyna meski itu berarti mobilnya harus berputar arah. Bila beruntung maka Reza akan melihat Zeyna masuk kedalam rumahnya yang juga tak kalah megah dari rumah Reza dan rasanya melihat genteng rumahnya saja sudah membuat hatinya berbunga bunga. Reza suka memperhatikan Zeyna diam diam.
Saat valentine tiba ditahun terakhir Zeyna sekolah, Reza memberanikan diri mengungkapkan perasaannya. Ia datang kerumah Zeyna dan membelikan sebuah boneka teddy bear pink seukuran tubuhnya.
"Kamu suka aku??" Ulang Zeyna syok,
Reza mengangguk tak berani menatap Zeyna yang saat itu sangat cantik meski hanya memakai piyama tidur.
"Tapi aku nggak suka kamu Reza.., aku cuma nganggep kamu sama seperti temenku yang lain!"
Dan dunia Reza runtuh sejak mendengar kata kata itu, bagaimana bisa ia begitu percaya diri menyatakan perasaan pada kakak kelas yang sangat populer sementara dia hanya kutu buku yang introvert??
Besoknya, Reza tak pernah lagi melihat Zeyna datang ke perpustakaan. Reza merasa sangat bersalah karena sudah menghancurkan hubungan pertemanannya.
Namun dibalik itu yang lebih menyakitkan lagi bagi Reza adalah ketika semua teman teman perempuan Zeyna membullynya habis habisan dan Zeyna hanya diam saja tak membelanya. Reza menjadi bulan bulanan mereka kala itu.
"Heyyy pangeran kodok!!"
"Kak.., Kak Reza!!"
Reza membuka mata secepat kilat, matanya basah. Putri sudah duduk di sampingnya dengan wajah khawatir.
"Kak Reza mimpi apa sih.., sampe ngigau gitu.."
Reza beranjak duduk pelan dan mengusap air mata yang tersisa di pelipisnya. Mimpi paling buruk di masa lalunya entah mengapa bisa membuatnya serapuh ini.
"Jam berapa ini Put?" Tanya Reza mengalihkan topik, tak mungkin ia menceritakan mimpi buruknya pada Putri.
"Jam setengah tujuh, Kak Reza semalem pulangnya larut banget makanya aku gak berani bangunin takutnya Kak Reza masih capek.." sahut Putri seraya berdiri dan merapikan piring di meja. Ia bahkan sudah selesai memasakkan sarapan untuk Reza.
Reza menurunkan kedua kakinya lemas, ia seperti tak bertenaga. Sepertinya mimpi tadi benar benar menguras emosinya. Dan itu bukan mimpi, itu adalah kenyataan pahit di masa lalunya yang tiba tiba datang lagi.
"Kak Reza lagi nggak enak badan?" Tanya Putri khawatir saat Reza hanya duduk lemas.
Reza menggeleng dan mengawasi Putri, perlahan ia berdiri lantas menghampiri gadis itu dan memeluknya. Hanya Putri lah satu satunya yang Reza miliki saat ini. Andai Reza bisa menikahinya agar Putri benar benar utuh menjadi miliknya.
"Nikah yuk Put.." desis Reza ditelinga Putri,
Tubuh Putri menegang seketika dipelukan Reza, "Kak Reza nggak romantis banget sih ngelamarnya!!" Sungut Putri kesal,
Reza tertawa kecil dan mempererat pelukannya. Ia tak ingin kehilangan momen keberaniannya, belum tentu suatu saat Reza akan berani mengatakan kata kata ini lagi.
"Minggu depan selesai pameran kita pulang kerumahmu ya, aku akan minta ijin ke orang tuamu untuk menikahi kamu.."
Putri mengurai pelukan Reza dan mengawasi laki laki itu serius, apa Reza sedang mengigau?? Atau masih terbawa mimpinya??
"Aku serius.." terang Reza saat Putri masih tercengang menatapnya.
Putri tak menyahut namun kedua matanya berkaca kaca dan bibirnya bergetar haru. Reza menarik kekasihnya kedalam pelukan lagi dan membenamkan tubuh mungil itu di dadanya.
Reza ingin segera bertemu orang tua Putri agar bisa menghalalkan gadis di peluknya ini. Agar bila suatu saat nanti Reza bermimpi buruk lagi, ia tak takut menghadapinya seorang diri. Bagi Reza, seorang Putri sudah sangat cukup. Ia tak butuh Zeyna atau siapapun yang sempurna untuk menemani sisa hidupnya. Putri adalah satu satunya tujuan hidup Syahreza Purnama.
************************
Sisters, bila menikmati cerita ini mohon tinggalkan jejak dengan like, vote atau komentar yah 😊
Dukungan kalian adalah semangat author ❤️