Run Away

Run Away
41



Reza mematut kartu identitas di tangannya lama, Syahreza Purnama nama lengkapnya. Usianya sudah 28 di tahun ini. Terpaut hampir 10 tahun dengan gadis itu, Reza masih ingat saat Putri memperkenalkan dirinya ketika di Rumah Sakit, usianya baru akan memasuki 19 tahun di tahun ini. Pantas saja Reza merasa gadis itu terlalu belia untuknya.


Entah bagaimana dulu ia bisa mencintai Putri dan menikahinya. Apa yang telah membuat Reza dulu memutuskan untuk memilih gadis yang seharusnya menjadi adiknya. Sungguh ia tak habis pikir..


Sejak pulang ke rumah dua bulan yang lalu Reza masih saja menghindarinya. Entah mengapa Reza selalu emosi bila melihat Putri. Ia bahkan mengumpat tanpa bisa dikontrol bila Putri berada di dekatnya. Kadang Reza merasa bersalah, namun rasa benci di hatinya tak bisa ia kendalikan.


Beruntung Suster Anis selalu sigap membantu Reza. Suster Anis seusia Mamanya, ia selalu menjadi teman Reza berkeluh kesah. Perlahan Reza mulai berdamai dengan penyakitnya, ia memulai hidupnya dari awal seperti yang Suster Anis sarankan. Mulai bulan depan ia akan berlatih untuk menggunakan tongkat, Dokter bilang proses recovery Reza terbilang cukup cepat. Mungkin karena vitamin, obat dan intensitas berjemur Reza yang rutin.


Seperti pagi ini, Reza kembali berjemur usai sarapan. Suster Anis akan menemani dan berteduh tak jauh darinya. Biasanya Reza akan menghabiskan waktu berjemurnya dengan membaca. Ada banyak sekali buku-buku di kamarnya, sepertinya Reza yang dulu sangat menyukai buku.


Di kejauhan Reza bisa melihat Putri mengamatinya. Setiap hari Putri selalu duduk di bangku taman, menemani Reza meski dari jauh. Hanya saja Reza selalu berpura-pura tak melihatnya, entah mengapa ia tak keberatan dengan hal itu. Selama Putri tak berada di dekatnya, maka ia akan menahan amarahnya sebisa mungkin.


"Mas Reza, sudah waktunya masuk," Suster Anis muncul seraya bersiap mendorong kursi roda Reza.


Reza menutup bukunya dan membiarkan suster Anis mendorong kursinya perlahan. Sekilas Reza bisa melihat Putri beringsut sembunyi di balik semak-semak, kadang Reza tak bisa menyembunyikan senyumnya bila melihat gadis itu kelabakan bersembunyi. Hiburan bagi Reza bila melihat Putri seperti itu.


Saat hampir melewati tempat Putri bersembunyi sayup-sayup Reza mendengar suara nada yang tak asing di telinganya. Reza menahan kursinya untuk berhenti, suara itu...


"Uhhhh..." kepala Reza tiba tiba pening, ia memejamkan matanya sesaat. Nada itu masih berbunyi, suara apa itu??


"Siapa disana??!" sentak Reza seraya mengawasi semak-semak tempat Putri bersembunyi.


Putri berdiri perlahan dan menyembunyikan tangan kirinya di belakang tubuhnya.


"Ngapain kamu disitu? Bunyi apa itu?"


"Oh eh, ini nada dering ponselku, Kak, maaf," sahut Putri seraya menunjukkan ponselnya pada Reza.


Reza mendengus kesal, " ngapain kamu disitu??!" tanyanya berpura pura.


Putri menunduk malu dan takut, " emm…tadi aku cuma ngeliat Kak Reza dari jauh, maaf."


Reza tak menyahut, nada itu terdengar lagi dari benda yang Putri pegang. Reza seperti pernah tahu bunyi nada ini dan ia kesal mendengarnya.


"Ayo balik, Sus!" perintah Reza cepat, seraya mengawasi Putri tajam. Ia melirik benda itu lagi, telefon? Seperti yang di pakai Suster Anis kemarin?


Selama perjalanan kembali ke kamar tiba tiba perasaan Reza tak tenang. Ia benci nada telefon itu tapi ia penasaran mengapa??


Sejak kembali ke rumah, baru kali ini Reza mendengar dan melihat Putri memegang telefon.


Saat masuk ke dalam lift, sebelum pintu lift tertutup Reza melihat Putri berbicara dengan seseorang melalui telefon itu. Raut wajah Putri tampak tegang dan serius. Dengan siapa dia berbicara?? Reza tiba tiba menjadi penasaran.


Saat makan siang dan makan malam tiba, Reza menyadari telefon itu tak lepas dari samping Putri. Ia selalu membawa ponsel itu kemanapun ia pergi. Reza menjadi semakin penasaran.


"Enak masakannya, Reza??" tanya Shelomita saat menyadari sedari tadi wajah Reza nampak suntuk.


Rizal, Papa Reza, ikut makan malam bersama kali ini. Jarang-jarang Reza melihat Papanya bisa makan malam dirumah. Reza juga jarang mengobrol dengannya, sepertinya mereka dulu tak akrab.


"Besok Papa dan Mama akan ke luar negeri selama beberapa minggu, kamu nggak papa kan di rumah aja bersama Putri??" Rizal mulai bersuara.


Reza mengawasi Papanya syok, apa-apaan dia ditinggal berdua selama beberapa minggu.


"Biar Suster Anis nanti menginap disini, Ma,” pinta Reza cepat.


" Reza, suster Anis punya keluarga, mana bisa kita berbuat seenaknya seperti itu."


"Kita kan membayar suster Anis, jadi nggak ada salahnya kita meminta dia untuk menginap."


"Reza, Putri itu istrimu! Belajarlah untuk menerima keadaan ini meski kamu nggak suka," potong Rizal tegas.


Reza membuang nafasnya berat, bagaimana ia bisa menerima keadaan ini, bila berada di dekat Putri selalu membuat tekanan darahnya naik.


"Putri sudah bersabar dengan keadaanmu, jadi belajarlah juga untuk menerima dia."


Reza menolehi Putri yang hanya menunduk tak bersuara. Putri cantik, sangat cantik malah tapi mengapa Reza membencinya?? Apa yang sudah Putri perbuat padanya sebelum ia kecelakaan, hingga Reza bisa sebenci ini padanya.


Semalaman Reza tak bisa tidur memikirkan hari-harinya yang akan selalu di kelilingi oleh Putri. Tanpa orang tuanya entah apa yang akan Reza obrolkan dengan gadis itu saat bertemu di ruang makan atau mungkin Reza makan di kamar saja?? Biar ART yang membawakan makanan Reza ke kamar.Benar!! Begitu lebih baik daripada ia harus makan berdua dengan Putri.


Esoknya,


Usai sarapan, Papa dan Mamanya berpamitan untuk berangkat. Reza melepas kepergian mereka dengan berat hati. Ia sungguh tak bisa membayangkan hari-harinya yang pasti akan penuh emosi bersama Putri.


Saat sedang berjemur usai Mama dan Papanya berangkat, sayup sayup Reza mendengar nada ponsel Putri berdering. Ia menarik nafasnya perlahan dan menutup bukunya. Reza memutar kursinya untuk melihat kursi taman tempat Putri biasa mengamatinya dari jauh namun tak ada siapapun disana. Reza mengerutkan keningnya sesaat, kemana gadis ingusan itu pergi?? Tadi jelas sekali Reza mendengar ponsel itu berdering.


"Ada apa, Mas Reza?" tanya suster Anis bingung saat Reza nampak mencari seseorang.


Reza menolehinya, "Apa suster Anis ngeliat Putri?"


"Tadi sih Mbak Putri duduk disana tapi kayanya barusan pergi sambil lari-lari," sahut Suster Anis lugu.


Reza mendengus jengkel, mengapa Putri pergi sebelum ia menyelesaikan kegiatannya berjemur?? Harusnya Putri tetap duduk di sana sampai Reza selesai!


"Apa perlu saya panggil Mbak Putri, Mas?"


"Nggak usah, Sus! biarin aja," sahut Reza cepat.


Ia kembali membuka buku di tangannya dengan perasaan tak menentu. Antara marah, kesal dan penasaran kemana Putri pergi. Apa ia pergi karena ada telefon tadi??


Reza menutup bukunya lagi dan meminta suster Anis untuk mendorongnya masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba Reza menjadi penasaran dengan siapa selama ini Putri mengobrol di telefon? Mengapa ia selalu membawa ponselnya kemanapun ia pergi?? Apa ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan dari Reza?? Putri pasti telah merencanakan sesuatu padanya…