
Saat Reza tiba di depan pintu kamar Putri, ia tak bisa mendengar apapun yang Putri obrolkan di dalam kamar. Reza bahkan nampak seperti orang bodoh yang hanya diam mematung di depan kamar tamu, yang beberapa bulan ini beralih fungsi menjadi kamar Putri.
Karena kesal tak bisa menguping, Reza membuka pintu kamar Putri dengan paksa. Saat melihat Putri hanya mengenakan minidress tanpa cardigan, entah mengapa dada Reza berdesir hangat. Nafasnya tertahan karena seluruh tubuhnya memanas melihat tubuh Putri nampak sangat seksi. Sejenak Reza bahkan lupa akan tujuannya memasuki kamar Putri. Ia gelagapan…
Semua kata-kata yang sudah Reza siapkan sejak suster Anis mendorongnya masuk ke dalam rumah tiba-tiba buyar. Ia tak lagi bisa fokus. Lekuk tubuh Putri mengalihkan amarahnya.
Bahkan hingga Reza sudah tiduran di kamarnya, bayangan Putri masih saja menghantui. Reza melempar gulingnya dengan jengkel, nafsu lelakinya tiba-tiba tak terkontrol. Bukankan Putri istrinya?? Jadi mengapa ia harus berdebar melihat tubuh seksi itu?? Dulu bahkan mungkin ia melihat lebih dari sekedar paha putih mulus dan buah dada montok itu bukan??
Reza beranjak duduk perlahan, 'miliknya' mengeras hanya dengan membayangkan Putri. Ini sungguh diluar kendalinya dan Reza benci karena ia kini tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Sebagian dari dirinya menginginkan Putri namun sebagian lagi membencinya. Sungguh Reza tersiksa dengan perasaannya!
Saat tiba waktu makan malam, Reza tak melihat Putri keluar dari kamar. Ia makan sendiri malam ini. Suster Anis sudah pulang sejak sore tadi. Reza makan malam hanya ditemani oleh beberapa orang ART yang stand by di belakangnya.
"Kemana Putri?" tanya Reza pada salah seorang ART yang berdiri tak jauh darinya.
"Sejak tadi sore kayanya Mbak Putri keluar Mas,” jawab ART itu sopan.
‘Keluar?? Kemana?? Dasar gadis bandel, bisa bisanya dia keluar rumah sendirian…’ Reza ngedumel dalam hati.
Ia lantas menghembuskan nafasnya pelan dan kembali melanjutkan makan malamnya. Sejak orang tuanya pergi sifat asli Putri mulai nampak, baru sehari mereka ditinggal dan Putri sudah berani keluar rumah tanpa seijinnya. Meski sebenarnya Putri ijin atau tidak tak akan mengubah apapun, namun Reza kesal saat tahu Putri keluar rumah tanpa sepengetahuannya. ‘Apa jangan jangan gadis itu kabur?? Coba saja kalau dia berani!’ Reza mendengus kesal.
Dikamar,
Reza sengaja tak langsung naik ketempat tidur dan lebih memilih melihat kearah pagar mansionnya dari jendela. Ia sedang menunggu seseorang, namun hingga jam 9 malam Putri belum juga pulang, ‘kemana gadis menyebalkan itu??’
Tiba tiba Reza teringat pada ponsel milik Putri. Bisa saja Reza menelefonnya tapi ia bahkan tak memiliki ponsel. Sepertinya besok ia harus meminta Pak Jodi membelikan ponsel untuknya agar bisa mengontrol Putri.
Jam 9 lewat 30 menit sebuah mobil berhenti di depan mansion Reza. Dari gerak-geriknya Reza bisa tahu siapa yang turun dari mobil hitam itu, Putri!
Reza mendengus kesal, darimana saja gadis itu pergi?! Awas saja besok pagi, Reza akan memarahinya habis habisan dan tidak ada ampun baginya.
Perlahan Reza memutar kursi rodanya dan mendekat ke tempat tidur. Ia ingin tidur lebih cepat agar bisa segera melihat pagi. Entah mengapa seharian ini ia banyak memikirkan Putri. Sejak insiden melihat tubuh Putri tadi pagi, pikiran Reza tak bisa lepas darinya. Sungguh Reza merasa tersiksa.
Keesokan pagi,
Reza bangun lebih cepat dari biasanya. Seolah ada alarm di otaknya yang memerintahkan Reza untuk segera bangun dan bersiap menemui gadis itu. Diam-diam Reza juga sudah rindu melihat wajah lugunya.
Dan akhirnya Reza tiba di meja makan lebih dulu, ia bahkan sudah lupa pada rencana awalnya untuk menghindari Putri saat makan seperti sekarang. Tak berapa lama beberapa orang ART menyuguhkan bermacam masakan di hadapan Reza. Saat sedang memilih dan menyendok makanannya, Putri muncul dan duduk di kursi yang agak jauh darinya.
Putri sudah tidak mengenakan arm slingnya lagi. Namun begitu ia masih belum bisa menggerakkan tangan kanannya dengan leluasa. Sesekali Reza memperhatikan Putri yang sudah mulai terbiasa makan menggunakan tangan kiri. Gadis itu sudah lebih lihai menyendok makanannya tanpa berantakan.
"Darimana kamu semalam??" tanya Reza saat Putri tak kunjung bersuara.
Biasanya setiap pagi, bila ada Mama dan Papanya di meja makan maka Putri akan menyapa mereka semua termasuk Reza dengan ramah. Tapi pagi ini Reza tak mendengar sapaan itu keluar dari mulut Putri hingga gadis itu melahap makanannya.
"Keluar.." sahut Putri singkat, ia menyendok sarapannya dengan tak bersemangat pagi ini.
Reza menatap Putri dengan kesal dan meletakkan sendoknya pelan.
"Apa tidak bisa kamu berpamitan sebelum keluar?? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kamu diluar sana?!" sungut Reza jengkel.
Putri menarik nafasnya keki, sepagi ini bahkan Reza sudah membuat moodnya semakin buruk.
"Iya maaf, Kak, lain kali aku akan pamit.”
"Nggak akan ada lain kali! Kamu dilarang keluar dari rumah ini apapun alasannya!!" bentak Reza keras.
Putri reflek menutup matanya takut saat Reza membentaknya, ia menahan nafasnya syok. Meski hampir setiap hari Reza mengucapkan kata kata yang menyakitkan dan membentaknya dengan kasar, namun Putri masih saja sering kaget bila tiba-tiba Reza marah seperti sekarang.
Reza membanting sendoknya dengan kesal dan memutar kursi rodanya pergi dari meja makan. Selera makannya sudah sirna. Beberapa ART yang berdiri di belakang mereka berdua sontak mundur karena takut.
"Tolong suruh Pak Jodi menemui saya secepatnya!!" perintah Reza pada seorang ART sebelum kemudian ia melajukan kursi rodanya keluar.
Sungguh Reza tidak berniat untuk membentak Putri seperti tadi, ia menyesal. Tadinya ia hanya ingin Putri menghormati keberadaannya. Dengan pergi tanpa pamit seperti semalam sudah membuat Reza merasa menjadi manusia yang tidak berguna. Apa salahnya berpamitan? Apa salahnya menemui Reza di kamarnya meski cuma sebentar? Toh jarak kamar Reza dan Putri hanya terpisah lantai, bukan terpisah benua!!
Reza sedang berjemur saat suster Anis datang dengan tergopoh gopoh.
"Mas Reza maaf saya terlambat," ucap Suster Anis dengan nafas terengah engah.
Reza melirik suster Anis dan tak bergeming. Ia membuka halaman buku bacaannya perlahan meski pikirannya sedang tak bisa fokus. Reza kesal, ia marah dan kecewa pada Putri. Rasa jengkelnya membuat wajah Reza menegang, lama lama ia bisa keriput lebih cepat bila setiap hari harus emosi seperti ini.
...****************...
Sudah hari ke-2 puasa, nih! Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ❤️
Jangan lupa tinggalkan jempol kalian ya, jadikan favorit dan Vote ❤️, terima kasih sister 🥰.