Run Away

Run Away
54



Sudah hampir seminggu berlalu sejak Putri kembali ke Kos Pelangi. Putri masih sering murung dan lebih sering mengurung diri di kamar. Bahkan untuk makan ia tak berselera. Toriq lah yang mengirimkan makanan ke kamar Putri melalui pak Ali setiap hari, karena ia masih menolak untuk bertemu dengannya.


Namun sore ini, saat Putri sedang termenung menatap jalanan di sore hari dari loteng Kos Pelangi, tanpa sengaja ia melihat Toriq memberikan sebuah tas plastik berisi makanan pada pak Ali. Tadinya Putri pikir bu Mirna lah yang selama ini mengiriminya makanan, namun ternyata ia salah. Lelaki yang ia benci dan jauhilah yang justru peduli padanya. Dada Putri tiba-tiba berdesir sedih, betapa ia sudah jahat pada Toriq.


Perlahan Putri beranjak turun dari tempatnya merenung, setidaknya ia harus berterimakasih pada Toriq bukan?? Sejak awal dialah yang merawat Putri..


Saat sudah sampai di lantai 1 tempat kamar kos pria berjejer, Putri mencari sosok Toriq yang tadi ia lihat baru keluar dari mobilnya dan memberikan bungkusan pada pak Ali. Toriq sudah tak ada, sepertinya sudah kembali ke kamarnya. Ragu Putri melangkahkan kakinya ke kamar Toriq. Sesampai di depan pintu kamar bercat coklat perlahan Putri mengetuknya ragu, tak ada sahutan namun terdengar langkah mendekat dan membuka pintu.


"Putri??" seru Toriq kaget melihat Putri sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Lekas Toriq keluar dan menutup pintunya lagi.


"Ada apa Put? Tumben?" tanya Toriq bingung.


Putri mengawasi Toriq keki, "Aku kesini cuma mau bilang terima kasih."


Toriq menatap Putri heran, " makasih buat??"


"Makasih buat makanan yang selama ini kamu kirim melalui pak Ali."


Toriq menahan nafasnya gugup, ia tertangkap basah sekarang.


"Oh, itu, hehe..." gumam Toriq seraya menggaruk keningnya yang tiba-tiba terasa gatal.


Putri menatap Toriq penuh selidik, dia tampak lucu saat sedang gugup.


"Kamu gak perlu sampai sebaik itu sama aku, Riq."


"Emangnya salah ya kalo baik sama orang??" tukas Toriq cepat.


"Kamu boleh baik sama siapapun, kecuali sama aku," jelas Putri


Toriq membalas tatapannya tajam, " kenapa begitu? Sejak kapan aku harus memilih orang untuk berbuat baik?"


"Sejak sekarang. Stop peduli padaku, kamu membuatku semakin merasa bersalah, aku jadi seperti orang jahat.."


"Apa karena Reza? Apa kamu masih belum sadar bila kamu sudah di campakkan?"


"Dia gak mencampakkan aku, Riq, aku yang memutuskan untuk pergi."


Toriq terkekeh mendengar pernyataan Putri,


"Dan ngdia gak menghalangimu pergi kan? Itu nggak ada bedanya dengan dia membuang kamu, Put."


Putri tak menyahut, ia sibuk mengatur nafasnya yang mulai naik turun tak beraturan.


"Sadarlah! Jangan buang waktumu mengharap orang yang sudah membuangmu untuk kembali."


"Dia nggak membuangku, Riq!! Dia hanya kehilangan semua memorinya tentang aku!!"


Toriq terbelalak, " maksud kamu??"


Putri menahan air matanya yang hampir menetes, " kami kecelakaan beberapa bulan yang lalu dan kak Reza amnesia," desis Putri di akhir kalimat. Tangisnya pecah.


Toriq mengawasi sekeliling dan membuka pintu kamarnya dengan sigap. Ia lantas menarik Putri masuk ke dalam, ia tak ingin memancing kegaduhan.


Putri mengusap air matanya dan mengamati seisi kamar Toriq yang suram. Gelap dan bau manis menyengat hidungnya.


"Jelaskan sama aku, Put, apa karena itu kalian berpisah?" tanya Toriq penasaran.


Putri menggeleng, ia tertunduk sedih dan tangisnya pecah lagi. Toriq mendekat dan memeluk Putri ragu, saat Putri tak memberontak ia mempererat pelukannya dan membenamkan kepala Putri di dadanya. Hangat, Toriq bahkan sudah lupa bagaimana rasanya berpelukan, dadanya berdegub aneh.


Cukup lama Putri menangis di pelukan Toriq, pelukan yang tak pernah lagi ia rasakan setelah Reza amnesia. Mendengar degup jantung Toriq yang berirama membuat perasaan Putri sedikit tenang, namun kemudian ia mengurai peluknya dan mendorong Toriq untuk sedikit menjauh darinya.


Putri menggeleng tak tau, ia sendiri tak paham akan berapa lama terpuruk menunggu Reza kembali. Separuh hidupnya sudah mati bersama perginya Reza yang dulu.


"Aku akan menunggu kamu membuka hati, selama apapun itu."


"Jangan, Riq, jangan menungguku. Aku nggak sebaik yang kamu pikir."


"Buatku cuma kamu yang terbaik! Cuma kamu yang bisa merubahku menjadi lebih baik!" seru Toriq keras, ia beranjak dari hadapan Putri dan bergegas menyalakan sakelar lampu.


Seketika kamarnya menjadi terang benderang.


Putri memicingkan matanya karena silau,


"Lihat! Kamu lihat lemari itu, kan??" Toriq menunjuk sebuah lemari kaca yang berisi berbotol-botol minuman.


"Sudah beberapa bulan ini, aku stop meminumnya karena aku mau berubah! Aku pengin berubah menjadi sebaik Reza hanya agar kamu menyukaiku, Put," jelas Toriq tulus.


Putri terhenyak, ia tak tau harus berkata apa melihat puluhan botol minuman memabukkan di dalam lemari. Ada sebagian yang sudah kosong dan sebagian besar lagi masih utuh.


Toriq berpaling lagi dan membuka laci lemari nakas di samping tempat tidurnya. Ia meraih sebuah kunci dan mengambilnya, lantas kembali berdiri di depan Putri seraya menarik tangannya.


"Nih! Kamu yang pegang kunci lemariku sekarang, agar kamu percaya kalo aku sudah berubah dan ingin terus berubah menjadi lebih baik!" cecar Toriq seraya memberikan sebuah kunci di tangan Putri.


Putri masih terdiam, ia mengawasi Toriq dan kunci itu bergantian.


"Hanya agar kamu percaya kalo aku sayang sama kamu, Put. Aku ingin kamu membuka hatimu buat aku sedikit saja!"


Putri menggenggam kunci di tangannya dan menunduk sedih.


"Aku nggak peduli kamu sudah jadi istri orang atau apapun itu! Aku sayang sama kamu dan hatiku gak pernah salah!" ucap Toriq meyakinkan Putri.


Istri orang?? Putri tersenyum kecut..


"Setidaknya jangan menghindariku, meski kamu nggak sepenuhnya membuka hati, tolong jangan menolakku.." pinta Toriq memelas, ia menggenggam dua tangan Putri dengan erat.


Putri memberanikan diri menatap Toriq, ia tak tau harus menjawab apa. Ada gurat penuh harap dari tatapan itu. Namun ia sendiri tak ingin memberi harapan pada Toriq. Hatinya sudah mati, semua itu karena Reza.


"Plis, kasih aku kesempatan untuk membuktikan sama kamu kalo aku pasti bisa jadi lebih baik dari Reza."


Putri diam, bibirnya kelu. Tubuhnya kaku mematung tak tau harus berbuat apa. Selama ini Putri bisa mengelak karena Toriq mengira ia dan Reza sudah menikah, namun sepertinya hal itu tak akan berlangsung lama karena kini pun Toriq tetap memaksanya untuk membuka hati.


"Beri aku waktu, Riq, aku masih takut gagal lagi.."


"Aku akan menunggu, Put, selama apapun kamu butuh waktu, aku akan menunggu."


...****************...



Nah loh, Toriq mulai meresahkan πŸ˜†!!


Kalian lebih setuju Putri berpindah haluan nggak nih??


Betewe..


Sisters, jangan lupa like dan votenya πŸ₯°


Author lagi bikin cerita baru nih, pastinya lebih seru donk πŸ˜†, inbox aja yaaa yang pengen tahu judulnya 😘