Run Away

Run Away
39



Hari berganti minggu dan Putri tetap setia menemani Reza setiap hari di Rumah Sakit. Meski tangannya masih dalam keadaan terluka namun tak sehari pun Putri absen menemaninya.


Sikap Reza masih acuh dan dingin pada Putri. Ia bahkan tak mengijinkan Putri menginap di Rumah Sakit karena tak ingin tidur di dalam kamar yang sama dengannya. Untuk melayani makan dan membersihkan lukanya, Reza lebih memilih di layani oleh suster.


Putri hanya sekedar menemani Reza dan menghabiskan waktunya menonton tivi. Reza bahkan menolak bila Putri ingin menyuapinya atau sekedar mengajaknya jalan jalan menggunakan kursi roda. Putri ibarat pajangan yang tak berguna, namun ia tetap berusaha sabar menghadapi Reza. Ia tahu Reza yang sekarang ia hadapi bukanlah Reza yang dulu, Reza miliknya terjebak dalam suatu tempat entah dimana…


Hampir dua bulan sejak Reza masuk rumah sakit, tiba waktunya ia diperbolehkan untuk pulang. Putri dan Shelomita menjemput Reza dengan suka cita. Meski awalnya mereka berdua pesimis bisa melihat Reza sembuh namun nyatanya kekuatan doa dan cinta menepis semua keraguan itu.


Setiba di rumah, Reza berusaha keras mengingat setiap sudut yang ia lihat, namun masih tak ada memori apapun yang terlintas. Masih satu bulan ia pulih dari komanya, sangat tidak mungkin bila Reza akan ingat apapun secepat ini.


"Mama sudah siapin makanan kesukaan kamu, yuk, kita langsung makan,” ajak Shelomita seraya mendorong kursi roda Reza ke ruang makan.


Reza hanya bisa pasrah saat Mamanya membawa dia ke sebuah ruangan luas yang berhadapan dengan taman, ada meja makan mewah dan masakan yang beraneka ragam.


Shelomita mendorong kursi Reza mendekat ke meja dan meminta Putri untuk duduk di samping suaminya. Saat sadar Putri duduk di sampingnya, raut Reza berubah dingin dan ketus.


"Aku ambilin nasinya, ya? Kak Reza mau makan sama lauk ap—"


"Nggak usah, aku nggak laper! Kalian aja yang makan." potong Reza cepat.


Putri melirik Shelomita yang juga sedang meliriknya keki.


"Mama yang ambilin ya, Nak? Ini kesukaan kamu, kan?" Shelomita berdiri dan mengambil piring di tangan Putri.


Reza tak menyahut. Ia membiarkan Shelomita mengisi piringnya dengan makanan dan mengembalikannya di hadapan Reza.


Putri mendesah sedih dan kembali duduk di kursi. Bukan sekali dua kali Reza menolaknya tapi sudah berkali-kali.


Shelomita yang melihat raut sedih di wajah Putri langsung mengambil piringnya dan menyendokkan makanan juga untuk menantunya itu. Ia paham betul bagaimana perjuangan Putri agar Reza tak menolaknya. Dan seringkali ia mendengar Putri menangis setiap malam.


"Yuk, makan!" ajak Shemolita saat ia sudah menyendokkan makanan untuk dirinya sendiri.


Putri meraih sendok dengan tangan kirinya dan melahap makanan di hadapannya dengan khusyuk. Ia selalu suka makan meski dalam keadaan sedih sekalipun. Sejak tangan kanannya terluka Putri membiasakan diri menggunakan tangan kiri untuk beraktifitas. Meski untuk menyendok makanan terasa sulit namun ia tak menampakkannya di hadapan orang-orang.


Reza melirik makanan di piring Putri yang berantakan tak beraturan. Ia baru sadar bila tangan kanan Putri terluka dan memakai arm sling seperti dirinya. Hanya saja Reza terluka di tangan kiri sementara Putri di tangan kanan. Pasti ia kesulitan makan dengan memakai tangan kiri…


Wajah Reza berubah melunak, ia menolehi Putri yang melahap makanannya dengan wajah berbinar. Apakah gadis ini tak pernah susah? Mengapa Reza selalu melihatnya berbinar-binar dan tersenyum setiap saat…


"Kak Reza, nggak makan??" tanya Putri saat ia menyadari Reza sedang mengawasinya.


Reza membuang muka dan memungut sendok di hadapannya, lantas memakan masakan buatan mamanya perlahan. Saat ia menyendok dan mengunyah makanannya, Reza seperti familier dengan rasa masakan ini.


"Makanan apa ini?" tanya Reza seraya mengawasi mamanya penasaran.


"Kamu suka?? Ini opor ayam, kamu dulu sangat suka makan ini, bahkan hampir setiap hari minta Mama masakin opor ayam."


Reza mengawasi piringnya lama, mungkin karena Reza suka, maka dari itu ia seperti familiar saat melahapnya.


"Aku juga pernah masakin ini buat Kak Reza pas kita masih di Kos Pelangi," ucap Putri memecah lamunan Reza.


"Oh ya? Waaah, kayanya kapan-kapan Mama harus nyicipin opor ayam buatan kamu, Put," sahut Shelomita cepat.


Putri tersenyum dan menolehi Reza, " besok aku masakin opor lagi mau, Kak??"


Reza tak menyahut, ia melahap makanan di piringnya lagi dan tak menjawab Putri.


"Reza, tuh ditanyain Putri kok malah diem, sih!" panggil Shelomita tak enak hati.


Reza menghembuskan nafasnya kesal dan meletakkan sendoknya.


"Bisa nggak sih, Ma, dia nggak berisik?!" sungut Reza jengkel.


Putri menelan makanannya cepat dan menolehi Shelomita ragu. Ia memberi isyarat mata pada Shelomita untuk diam dan tak memaksa Reza meresponnya.


"Aku sudah cukup stress dengan masalahku. Dengerin dia bersuara malah menambah stressku!!" lanjut Reza lagi.


"Iya maaf, Kak, aku nggak akan—"


"Diam! Aku kan sudah bilang, aku nggak suka denger suara kamu!! Brisik!!" sentak Reza keras.


Putri terlonjak kaget saat melihat kedua mata Reza menatapnya penuh amarah. Matanya mulai memanas, nafasnya tertahan oleh sesak. Air matanya menggenang hendak meringsek keluar..


Shelomita berdiri dari kursinya dan menghampiri tempat duduk Putri, namun gadis itu lebih dulu berdiri dan berlari naik ke kamar atas.


Reza menghembuskan nafasnya yang memburu dan melempar sendoknya ke meja. Melihat Putri seperti itu entah mengapa membuatnya merasa puas.


"Reza! Kamu boleh depresi dengan penyakit yang sekarang kamu alami, tapi kamu nggak sopan kalau berbicara seperti itu pada Putri!" jelas Shelomita menasehati.


Reza meneguk air di gelas dan menarik nafasnya dalam dalam.


"Dia istri kamu, Reza! kamu suka atau tidak dia tetap istri kamu," tukas Shelomita tegas.


"Selama kamu koma, dia yang setiap hari datang menemani kamu, mengajak kamu mengobrol, menangis mendoakan kesembuhan kamu, bahkan tetap sayang sama kamu meski kamu acuh."


Reza menolehi Mamanya ragu, " kalau gitu aku mau cerai, Ma, aku nggak mau hidup sama dia."


"Reza!! Kamu jangan sembarangan bicara seperti itu, kamu sekarang masih nggak ingat apa-apa tentang masa lalu kamu! Suatu saat kalau kamu sudah ingat, pasti kamu menyesal sudah berbuat jahat sama Putri."


Reza mendengus jengkel, sekarang pun ia tak bisa menyukai gadis itu, lalu bagaimana mungkin di masa lalu ia menyayanginya??


"Aku mau istirahat, dimana kamarku, Ma??"


"Kamarmu diatas sama Putri."


"Ma!! Aku nggak mau sekamar dengan dia."


"Lalu kamu mau bagaimana?? Kamu mau tidur sendiri di kamar tamu??"


"Dia aja suruh tidur di kamar tamu, aku akan kembali ke kamarku."


"Reza!!"


"Ma, plis, aku capek. Aku pengin tidur,” potong Reza jengkel, mengapa mamanya justru membela gadis itu?? Memangnya siapa yang jadi anaknya??


"Yaudah, kamu aja yang bilang sana sama Putri, Mama nggak mau terlibat dengan masalah kalian berdua.”


Reza mendengus kesal dan meminta seorang pegawai untuk mendorong kursinya kembali ke kamarnya.


Sejak tahu Reza harus menggunakan kursi roda untuk bisa bergerak, Rizal membuatkan lift khusus untuk aksesnya keluar masuk kamar. Jadi Reza tak perlu lewat tangga dan hanya perlu naik lift untuk sampai ke kamarnya.


Setiba di kamar,


Reza menemukan Putri berdiri di dekat jendela sambil memandang keluar. Reza memutar roda di kursinya untuk mendekat ke tempat tidur. Sesekali ia melirik Putri yang tak bergeming dari tempatnya berdiri, seolah-olah tak ada siapapun yang masuk ke dalam kamar.


Perlahan Reza mendekatkan kursinya ke tempat tidur, mencoba untuk meraih kasurnya sebagai pijakan agar Reza bisa berdiri dan berpindah tempat. Tadinya Reza ingin mengusir Putri tapi sepertinya ia kini terlalu lelah untuk berselisih. Mungkin besok saja ia akan meminta Putri untuk pindah kamar.


Dengan sekuat tenaga Reza berusaha untuk berpijak pada pinggiran kasurnya, namun sepertinya tubuhnya terlalu berat untuk diangkat. Biasanya di rumah sakit ia akan dibantu suster untuk berpindah dari kursi roda ke tempat tidur ataupun sebaliknya. Reza mendengus jengkel. Betapa tidak berdayanya ia sebagai lelaki, bahkan untuk memindahkan tubuhnya sendiri saja ia butuh bantuan orang lain.


Reza menolehi Putri yang masih tak bergerak dari tempatnya. Ia tidak sedang menangis, tapi ia pun tak memperhatikan Reza sedari tadi. Apa salah bila Reza mengungkapkan isi hatinya? Ia hanya tidak suka berpura pura…


Karena kesal dan lelah, Reza memaksakan diri untuk berdiri dan bertopang pada kursi rodanya. Ia sudah setengah berdiri dengan menahan sakit di kakinya yang patah sebelum kemudian kursi rodanya tiba-tiba oleng. Reza tersentak kaget, tubuhnya sudah hampir terjerembab sebelum kemudian Putri menahan tubuh Reza yang jauh lebih besar darinya agar tak terjatuh.


Reza menahan nafasnya gugup saat ia melihat Putri meringis kesakitan, arm slingnya terlepas karena menahan tubuh Reza. Tangan kanannya bergetar memegang lengan Reza. Lekas Reza merobohkan tubuhnya ke tempat tidur dan berbalik mengawasi Putri yang memegang tangan kanannya dengan tubuh bergetar menahan sakit yang amat sangat.


"Bodoh! Ngapain kamu bantuin aku, kamu jadi terluka sendiri kan!!" rutuk Reza jengkel.


Putri mengawasi Reza dengan nafas tertahan, air matanya menetes seketika. Antara menahan sakit di tangannya dan sakit di hatinya.


"Lebih baik aku yang sakit, Kak, daripada harus ngeliat Kak Reza—" desis Putri serak tak bisa melanjutkan kata katanya, air matanya menetes deras tak terbendung.


Reza menghembuskan nafasnya kesal dan beranjak duduk perlahan.


"Kamu bukan cuma bodoh, tapi juga bebal ya ternyata…"


Putri menghapus air matanya dan memakai kembali arm slingnya yang terlepas.


"Kak Reza bebas menghina aku, karena memang aku yang salah sudah membuat Kak Reza jadi kaya sekarang, aku akan tetap menemani Kak Reza sampai sembuh, meski dengan begitu aku harus sakit hati setiap hari," ucap Putri sepenuh hati.


Reza membuang muka dan merebahkan dirinya perlahan.


"Mulai malam ini kamu tidur di kamar tamu, aku nggak mau sekamar denganmu!"


"Terus kalo Kak Reza butuh sesuatu gimana??"


"Aku masih punya uang buat bayar suster untuk merawatku 24 jam, itu lebih baik daripada aku harus melihatmu disini!"


******************************


Alhamdulillah, tadi malam jam 11.OO WIB dapat kabar via email kalau ternyata karya recehan ini lulus kontrak 🙏🏻


Meski peminatnya sedikit, yang ngasi like dan baca juga dikit tapi pencapaian kali ini bener-bener membuat saya terharu 🥺


Terima kasih pembaca setia yang selalu ngasi jempolnya ( I see you 😘) dan kasi komentar yang mensupport, saya doakan di manapun kalian berada, meski kita berjumpa hanya lewat aplikasi semoga selalu di beri kesehatan (biar nggak telat baca update’an) dan kelancaran rejeki (biar tetep bisa baca tanpa takut habis kuota)


I Love You!! 🥰😘