
Sebulan pasca kejadian penuh air mata itu, Putri mulai menata kembali hidupnya. Meski tadinya ia berharap Reza akan datang untuk menjemputnya, namun kini harapan itu kandas setelah ia menunggu cukup lama.
Toriq menunjukkan sebuah foto di mana Reza sedang makan siang bersama Zeyna. Tanpa sengaja Toriq bertemu dengannya ketika sedang mengantar bu Mirna ke kota untuk membeli beberapa perabotan rumah kos. Reza tak mengenali Toriq, berarti benar perkataan Putri bila Reza amnesia.
Saat melihat foto itu hati Putri hancur, ia menangis semalaman. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Reza hanya ingat pada Zeyna namun melupakan dirinya. Seolah Putri tak pernah ada dalam kisah hidupnya.
Dan beberapa bulan setelahnya, Putri memulai kembali hidupnya yang berantakan. Ia bekerja paruh waktu di sebuah restoran di kota. Putri butuh uang untuk bertahan hidup dan satu satunya jalan ialah bekerja. Ia punya skill memasak jadi ia memilih untuk bekerja di restoran kecil di tengah kota.
Hari ini ia kebagian shif pagi, sejak datang pukul 7 tadi hingga hampir siang tak sekalipun Putri sempat beristirahat. Ia memasak berbagai menu pesanan orang, di restoran tempatnya bekerja semua masakan fresh dimasak saat ada pesanan datang.
"Putri, ada yang nyari tuh!" panggil Feni, teman satu shifnya yang stand by sebagai waitress.
Putri menolehi Feni cepat, ia memberi kode pada Feni agar tamunya menunggu. Dua menu lagi dan pesanan keenam belasnya hari ini selesai.
Tak sampai 15 menit Putri sudah selesai memasak dan meminta Jeje, koki lain, untuk menggantikan pekerjaannya sebentar.
Saat melihat Putri keluar dari dapur, Feni segera menunjuk pada seorang yang duduk di luar restoran.
Putri memicingkan matanya penasaran, siapa laki-laki bertopi itu??
Ia tak punya teman laki-laki selain Toriq dan laki-laki diluar itu jelas bukan dia. Stylenya berbeda dengan Toriq.
Putri berjalan dengan tergesa-gesa dan sedikit penasaran, ia mulai menebak-nebak siapa kira-kira yang datang menemuinya. Saat sampai di pintu, jantung Putri seolah berhenti berdetak ketika laki-laki bertopi itu menoleh padanya, Reza!!
Putri melepas celemeknya dan menunduk keki. Tak seharusnya Reza melihatnya kucel dan bau asap seperti ini.
Perlahan Reza berdiri dari kursinya dengan sedikit bersusah payah, terlalu lama duduk di mobil tadi membuat kakinya sedikit kram. Ia tersenyum lega saat melihat Putri muncul, namun ada gores sedih melihat gadis yang ia sayangi nampak sangat lusuh. Reza merasa berdosa.
"Hai, Put," sapa Reza kelu saat sudah berdiri di hadapan Putri.
Putri yang sedari tadi menahan nafasnya tak menyahut, ia masih syok dengan kedatangan Reza.
"Aku senang bisa melihat kamu lagi," ucap Reza lirih, ia malu karena Putri hanya diam dan menatapnya tajam.
"Mau apa kak Reza kemari?" tanya Putri tanpa basa-basi, hatinya masih terluka.
Reza membuang tatapannya gugup, ia kehabisan kata kata.
"Aku.., kita.., aku mau menjemputmu pulang," terang Reza lirih, ia menggenggam tongkatnya lebih erat.
Putri tersenyum kecut, pulang?? Setelah sekian lama ia di acuhkan??
"Aku nggak punya rumah lain selain Kos Pelangi, kak, sepertinya kak Reza salah orang kalo tujuannya mau menjemput pulang."
Reza mengawasi Putri sedih, ia tak menyangka Putri akan menolak. Tadinya ia berpikir Putri akan senang melihatnya datang, namun Reza salah. Justru raut wajah Putri menampakkan sebaliknya.
"Kita pulang kerumahku, Put, rumahmu juga." Reza mencoba meraih tangan Putri namun dengan cepat gadis itu menepisnya.
"Pulanglah, nggak ada lagi yang bisa Kak Reza lakukan di sini, aku bukan lagi Putri yang dulu," terang Putri kelu, hatinya sakit saat mengatakan itu.
"Lagi pula apa yang bisa kak Reza harapkan dari wanita macam aku? Wanita murahan, ya, kan?? Yang tidur dengan laki-laki yang bukan suaminya—"
"Put, aku minta maaf, tapi seharusnya dari awal kamu jujur sama aku tentang pernikahan itu!" tukas Reza cepat.
Putri tersenyum masam, " lalu setelah aku jujur maka kak Reza akan ingat sama aku?? Nggak kan?? Yang ada mungkin aku akan di usir saat itu juga!" cecar Putri emosi.
Reza menghembuskan nafasnya bimbang.
"Sudahlah, kak Reza pulang aja, jangan membuang waktu datang kemari hanya untuk menemui gadis murahan," lanjut Putri dingin.
Reza tak menyahut, hatinya sakit saat Putri menyebut kata 'gadis murahan', yang ia umpatkan padanya ketika mereka bertengkar kali terakhir.
Putri berpaling dan kembali masuk ke dalam restoran tanpa menoleh lagi. Reza mengawasi gadis itu pergi tanpa bisa berkata apapun.
Dengan sedikit gontai Reza berbalik dan mengayunkan tongkat menuju mobilnya yang terparkir. Sesekali Reza menoleh pada Putri dan berharap gadis itu mengejarnya, namun ia kecewa karena hingga sampai di mobil pun Putri tak lagi nampak.
Sementara di dapur restoran, Putri tak bisa menahan air matanya yang langsung tumpah saat ia sudah berada jauh dari Reza. Melihat Reza yang nampak sangat kurus dan tak terawat membuat hati Putri sakit, ia sedih harus memilih jalan ini namun justru inilah yang terbaik untuk mereka berdua. Derajatnya jauh berbeda dibanding Reza yang memiliki segalanya. Putri bukan gadis tamak yang haus akan gelimang harta, ia sudah terbiasa untuk bekerja dan hidup susah.
Cukup lama Putri menangis hingga bel tanda ada nota pesanan baru membuatnya terkejut dan menghapus air matanya cepat. Feni mengawasi wajah Putri yang sembab dengan penasaran, namun Putri berpaling agar Feni tak curiga.
"kamu habis nangis, Put??" tanya Feni basa basi, meski tanpa bertanya pun, ia tau Putri beberapa menit yang lalu sedang menangis.
Putri menggeleng dan tersenyum, "habis ngupas bawang tadi Fen, perih, " sahut Putri mengelak sambil pura-pura membaca nota menu pesanan yang tadi dibawa Feni.
Feni masih mengawasi Putri penuh selidik, namun ia sadar bila Putri tak mungkin akan terbuka. Selama ini mereka hanya berkomunikasi untuk pekerjaan, selebihnya hanya basa basi singkat tentang alamat rumah masing-masing atau sekedar bertanya resep.
Sejak pertama masuk dua bulan yang lalu Feni dan Putri kerap kali berada di shift yang sama. Feni sudah dua tahun bekerja di restoran. Usianya tak berbeda jauh dengan Putri. Meski bekerja di restoran kecil namun Feni tak pernah mengeluh dengan gajinya yang tak seberapa, ia hidup berdua dengan ibunya yang juga bekerja sebagai ART panggilan.
Dua jam lagi waktu shift mereka akan berakhir. Putri biasanya pulang dengan menaiki kendaraan umum seperti saat ia kuliah dulu.
Toriq beberapa kali mengajak Putri untuk membeli motor agar ia tak perlu naik bis namun selalu ditolak olehnya. Toriq sudah membelikan ponsel untuk Putri sebagai hadiah ulang tahunnya, entah dari mana Toriq bisa tau tanggal lahirnya namun Putri benar-benar terharu saat malam itu Toriq datang ke kamarnya dengan membawa cake dan hadiah.
Saat itu Putri masih berharap Reza akan datang di hari ulang tahunnya, namun nyatanya ia tak pernah muncul. Dan ketika siang ini ia datang, rasanya sudah terlambat bagi Reza untuk memulai hubungan mereka lagi seperti dulu.
...****************...
Sisters…
sepertinya cerita ini akan stop dulu sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.
Ada kebijakan dari NT yang membuat author sedikit kecewa ☹️..
Akan update lagi setelah ada kejelasan dari pihak NT, entah kapan tapi doakan saja secepatnya yah 😊
Salam sayang dari author, Reza, Putri dan Toriq ❤️❤️