
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kehidupan Putri akan berubah 360 derajat setelah ia tahu latar belakang keluarga Reza. Baru saja ia bahagia setelah bisa menikmati hidup yang mewah bersama Reza, namun secepat kilat semua itu menjadi simalakama untuknya.
Andai saja Reza tak terluka sedemikian parah, mungkin Putri bisa pergi saat Reza tak menginginkannya lagi. Perlakuan Reza padanya sejak amnesia membuat Putri selalu sedih dan sakit hati. Bukan sekali dua kali, namun setiap kali melihat Putri seolah Reza tak puas bila tak menyakitinya.
Seperti pagi ini, seorang suster benar benar datang untuk merawat Reza. Putri hanya bisa melihat Reza dari kejauhan tanpa bisa mendekatinya. Kata-kata makian dan umpatan selalu saja keluar bila Putri muncul di hadapannya. Andai saja Reza tak cacat, andai ia hanya sekedar amnesia..
"Putri, kok melamun??"
Putri tersentak dan menoleh cepat, Shelomita sudah duduk di sampingnya di kursi taman.
"Sampe nggak sadar kalau Mama udah duduk disini dari beberapa menit yang lalu." tawa Shelomita renyah.
Putri tersenyum kikuk dan kembali mengawasi Reza yang sedang berjemur di tengah rerumputan. Rutinitas setiap pagi Reza usai sarapan adalah berjemur untuk mempercepat proses recovery tulangnya.
"Kangen ya sama Reza?" tanya Shelomita menebak.
Putri menolehi Shelomita dan mengangguk sedih, " Putri kangen sama Kak Reza yang dulu, Ma…" desis Putri lirih,
"Mama juga kangen, Reza yang usil, Reza yang baik dan penurut," sahut Shelomita seraya menatap Reza dari kejauhan.
"Kalau Kak Reza seperti ini gimana Putri bisa membantu dia untuk sembuh, Ma??"
"Pasti bisa!" tukas Shelomita cepat, " sabar ya, Nak, Mama yakin Reza yang sekarang sedang berjemur itu bukanlah Reza yang kita kenal, dia hanya sedang frustasi karena tidak bisa mengingat masa lalunya, pasti akan tiba saatnya nanti Reza akan mencintai Putri lagi seperti dulu."
Putri menunduk sedih dan menarik nafasnya berat. " Kadang Putri pengin nyerah, Putri pengin menuruti kemauan Kak Reza untuh enyah dari hadapannya tapi—"
"Jangan lalukan itu, Putri. Reza hanya sedang frustasi, jangan dengarkan apapun yang ia katakan bila itu menyakitimu, demi Mama... demi Papa juga..., kami hanya ingin menikahkan Reza sekali seumur hidup dan itu cuma dengan kamu."
Putri menolehi Shelomita yang nampak serius memohon, pelupuk matanya mulai memanas dan air matanya menetes. Putri lekas menyekanya karena malu.
"Menangislah, Nak, Mama yakin setelah ini kamu akan lebih kuat! Buatlah Reza yang sekarang menyukaimu seperti dulu,” Shelomita menarik Putri dalam peluknya dan menepuk punggungnya lembut.
Putri kembali menangis sedih. Namun dalam hati ia berjanji mulai besok ia akan membuat Reza menyukainya lagi.
Keesokan harinya,
Putri sengaja bangun lebih pagi untuk memasak sarapan Reza. Sehari-hari biasanya Shelomita atau chef yang memasak sarapan, namun kali ini Putri bertekat untuk membuatkan setiap masakan yang akan Reza makan.
Saat masakannya selesai, Putri akan membiarkan Shelomita menghidangkannya pada Reza seperti biasa.
Reza melirik Shelomita sekilas, sepiring nasi goreng selimut tersaji di meja. Reza seperti tidak asing dengan pemandangan nasi goreng di hadapannya. Reza menolehi Putri yang duduk jauh di meja ujung. Tidak biasanya Mamanya masak makanan seperti ini??
"Ini siapa yang masak, Ma?" Reza balik bertanya.
Shelomita mengawasi Reza heran, " kenapa? Memangnya kamu nggak suka? Kalo nggak suka biar Mama masakin—"
"Bukan, Reza hanya merasa pernah tahu masakan seperti ini..." potong Reza cepat.
Putri terhenyak, ia menolehi Reza cepat. Ada secercah harapan di hatinya bila Reza masih ingat beberapa momen indah mereka.
"Oh, itu chef yang masak, Nak, makanlah," ucap Shelomita keki, lantas melirik Putri yang tersenyum senyum senang.
Reza meraih sendoknya dan memakan nasi gorengnya perlahan. Rasa gurih dan manis terasa oleh indra pengecapnya. Reza menolehi Putri lagi, entah mengapa feelingnya berkata gadis itulah yang memasak makanan yang pagi ini tersaji untuknya. Reza menghabiskan sarapannya tanpa berkata apa-apa lagi. Entah mengapa ia tak punya kata-kata buruk untuk dilontarkan pada Putri pagi ini.
Usai sarapan, suster mendorong kursi roda Reza menuju taman untuk berjemur. Sesekali Reza melirik Putri yang masih melahap sarapannya dengan bersusah payah menggunakan tangan kiri. Kadang Reza merasa beruntung ia hanya cidera di tangan kiri, bukan di tangan kanan seperti Putri.
Saat Reza telah pergi dari ruang makan, Putri dan Shelomita tersenyum senang. Ide Putri untuk membuat Reza ingat beberapa memori dari masakannya sepertinya berjalan lancar. Ia tak sabar untuk memasakkan menu makan siang nanti. Namun terlebih dahulu seperti biasa Putri akan menemani Reza berjemur dari kejauhan. Ia sudah cukup senang melihat Reza menikmati waktu berjemurnya dengan membaca buku. Selama satu jam Reza akan duduk di halaman luas dan berjemur, sebelum kemudian ia akan mengikuti terapi dari suster.
Putri memperhatikan Reza tanpa bosan sedikit pun, ia malah rindu meski setiap hari sudah melihatnya. Putri rindu kebucinan Reza padanya, pelukannya, sikap over protektif dan cemburunya.. .
Diam-diam Putri tersenyum sendiri, ia sendiri tak paham apakah ini rasa cinta atau hanya rasa ketergantungannya pada Reza??
Saat sesi berjemur selesai, Putri akan bersembunyi di semak-semak dekat kursi agar Reza tak melihatnya. Selama hampir sebulan cara ini cukup berhasil untuknya, Reza tak tahu jika Putri mengintainya dari jauh hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.
Pun saat sesi terapi, biasanya Putri akan mendengarkan pembicaraan Reza dari balik pintu kamar. Ia bukannya cemburu pada Suster Anis namun Putri hanya ingin terlibat dalam setiap kegiatan Reza. Putri tak ingin kehilangan satu momen pun.
Meski status pernikahan mereka hanya pura-pura tapi entah mengapa Putri seperti terbawa perasaan bahwa Reza adalah benar benar suaminya. Meski sering tidur seranjang berdua namun Reza tak pernah sekalipun menjamahnya. Reza menjaga Putri dengan baik hingga hari pernikahan itu benar-benar tiba.
"Maaf Mas Reza, saya ada telefon, saya ijin mengangkat telefon sebentar ya," terdengar suara suster Anis di dalam.
Putri terhenyak, telefon??
Betewe di mana ponselnya?? Sudah lama sejak Pak Jodi berjanji akan memberi telefon baru untuk Putri namun sampai sekarang ia tak mendapatkannya.
Putri beranjak dari tempatnya menguping dan bergegas turun ke lantai bawah untuk menemui Shelomita dan meminta pak Jodi untuk mengantarkan ponselnya. Tak harus ponsel yang baru karena di ponsel lama masih banyak memori yang belum terpakai, toh hanya LCDnya saja yang rusak karena benturan. Putri tak ingin merepotkan keluarga Reza yang sangat baik padanya, bahkan memperlakukan Putri seperti anaknya sendiri.