
Zoey berdiri di depan pintu ruangan apartemen nya dengan tatapan kosong, ingatannya seakan mengulang semua kejadian yang terjadi hari ini.
“Zoey?” Maria terkejut saat membuka pintunya dan mendapati Zoey yang berdiri di depan pintu itu tanpa bergerak sama sekali. “Apa kamu lupa membawa kartu untuk membuka pintu ini atau semacamnya?” Tanya Maria dengan ragu-ragu.
“Aku…” Zoey kini menatap Maria dengan tatapan yang menyeramkan.
“A-Apa? Jangan menatapku seperti itu. Tenang saja aku akan membantumu mencari pekerjaan baru, jadi jangan diam disana dan segera masuk.” Maria terlihat ketakutan saat melihat tatapan Zoey.
Zoey menuruti permintaan Maria dan masuk ke ruangan apartemennya. Zoey berjalan seperti zombie dan duduk di kasurnya tanpa mengatakan apapun.
“Kamu tidak perlu bersedih seperti itu, nanti kamu pasti akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di masa depan.” Maria mencoba untuk menyemangati Zoey yang duduk terdiam itu.
“Maria…” Zoey memanggil Maria dengan suara yang menyeramkan.
“I-Iya?” Maria mundur beberapa langkah menjauhi Zoey yang terlihat menakutkan itu.
“Ini bukan mimpi bukan?” Tanya Zoey masih dengan suara dan ekspresi yang menyeramkan.
Maria tidak berkata apa-apa saat Zoey bertanya seperti itu, kemudian ia mengambil sebuah bantal yang tak jauh darinya dan memukul Zoey dengan bantal itu sekuat tenaga. “Jangan menakutiku seperti itu! Kamu membuatku kesal!” Maria terus memukul Zoey dengan bantal itu.
“M-Mau bagaimana lagi?! Apa yang kualami hari ini sangat tidak nyata!” Zoey menggunakan lengannya untuk melindungi wajahnya dari serangan bantal Maria.
“Ayo cepat ceritakan apa yang sebenarnya terjadi! Kamu membuatku kesal tahu!” Maria masih memukul Zoey dengan kuat hingga akhirnya ia merasa kelelahan dan berhenti menyerang Zoey. “Hah…hah…hah… ayo sekarang cepat ceritakan apa yang sebenarnya terjadi…” Ucap Maria sambil mencoba mengendalikan napasnya.
“L-Letakkan bantal itu terlebih dahulu, aku takut kamu menghancurkan wajahku yang sangat berharga ini.” Zoey masih menggunakan lengannya untuk menutupi wajahnya, walaupun Maria sudah tidak memukulnya dengan bantal itu, ia masih takut jika Maria tiba-tiba memukulnya lagi.
Zoey yang melihat Maria kini duduk di di sampingnya sambil meminum bir dengan tenang segera menurunkan lengannya dan menghela napas lega.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Maria setelah selesai meneguk habis bir kaleng yang ada di tangannya itu.
“Kamu… lebih baik jangan meminum terlalu banyak bir. Jika kamu mati nanti aku harus bersusah payah untuk membayar ruangan apartemen ini…” Zoey terlihat sedikit khawatir saat melihat Maria yang langsung meneguk habis satu kaleng bir itu.
“Jangan mengubah topik, Cepat ceritakan sekarang juga!” Maria membentak Zoey yang merubah topik awal mereka.
“Hah… baiklah. Tapi, jangan menertawakanku ya…” Zoey pun menceritakan apa yang terjadi pada saat ia pergi ke ruangan Adriel.
Saat Zoey selesai menceritakan semuanya, Maria terlihat berusaha keras untuk menahan tawanya. “Jadi…kamu…diantar…pulang…oleh…Mr. Wilder?” Tanya Maria dengan suara yang gemetaran karena menahan tawanya.
“Padahal aku sudah bilang untuk tidak menertawakanku.” Zoey terlihat kesal saat melihat Maria yang sangat ingin tertawa.
“Maaf maaf. Habisnya itu terdengar seperti lelucon.” Maria berhasil menahan tawanya dan hanya tersenyum kepada Zoey.
“Gaya bicaranya juga seperti sedikit berbeda dari biasanya, seperti…lebih santai?” Zoey mencoba mengingat kembali saat Adriel memanggilnya ke ruangannya dan pada saat mereka berbicara dalam ruangan dan dalam mobilnya, cara bicaranya benar-benar berbeda.
“Sudahlah, jika kamu berbicara lebih dari ini aku benar-benar tidak akan bisa menahan tawaku lagi. Coba lihat besok saja, apakah orang yang kamu lihat ini benar-benar sama dengan CEO kita.” Maria bangkit dari tempat tidur Zoey dan pergi membuang kaleng birnya.
“Kamu benar…” Zoey tiba-tiba membayangkan wajah Adriel yang tersenyum dan tersipu malu. “Besok…”