
“Tunggu dulu!” Mata Zoey langsung terbuka lebar saat tadi ia melihat ruangan yang saat ini ia tempati sedikit berbeda dari ruangan apartemen tempatnya tinggal.
Zoey langsung bangkit dari tempat tidur yang sedang ia gunakan dan melihat kembali sekitarnya sekali lagi. “Ini… benar-benar bukan kamarku!” Teriak Zoey dalam hatinya dengan ekspresi yang sangat panik.
“Kemarin… Daniel menggendongku pulang… lalu apa yang terjadi selanjutnya? Aku benar-benar tidak dapat mengingatnya…” Zoey berusaha sangat keras untuk mengingat semua hal yang terjadi kemarin malam.
“Selamat pagi.”
Zoey tersentak saat mendengar suara laki-laki yang sepertinya ia kenal, kemudian Zoey langsung melihat ke arah suara itu berasal dengan secepat mungkin dan betapa terkejutnya dia saat Daniel yang berdiri di sana dengan senyuman di wajahnya sambil memegang segelas kopi di tangannya.
“Kemarin kamu tertidur pulas sekali, aku jadi tidak tega membangunkanmu… jadi aku pikir aku membawamu ke tempat tinggalku saja.” Ucap Daniel sambil berjalan mendekati Zoey.
“Apa aku harus berterima kasih…?” Tanya Zoey dengan wajah yang masih kebingungan.
“Hahahaha tentu saja tidak perlu. Bagaimana dengan lukamu? Apakah sudah merasa lebih baik?” Daniel memberikan segelas kopi itu pada Zoey.
“Terima kasih.” Zoey menerima kopi itu masih dengan ekspresi yang kebingungan. “Aku rasa aku sudah bisa berjalan.” Zoey menggerakkan lututnya dan tidak merasakan sakit lagi.
“Baguslah kalau begitu…” Daniel menghela napas lega saat melihat Zoey yang sudah bisa menggerakkan kakinya seperti biasa.
Zoey menatap ke arah luar jendela dan melihat hari yang terlihat sudah semakin siang, dan kemudian ia melihat ke arah Daniel yang masih disana. “Apakah kamu tidak pergi bekerja?”
“Kalau itu…” Daniel kemudian menceritakan jika tadi pagi ia merasa sangat bingung dan panik karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Daniel bilang jika dirinya tidak bisa meninggalkan Zoey di ruangan apartemennya sendirian dan pada saat yang sama ia juga mencemaskan para pasiennya yang ada di rumah sakit.
“Tidak… aku rasa aku harus kembali sekarang.” Zoey segera berdiri dari tempat tidur itu dan menatap Daniel dengan sangat serius. “Aku benar-benar berterima kasih atas bantuanmu.”
“Hahaha, santai saja. Bolehkah aku mengantarmu ke depan pintu ruang apartemen mu?” Daniel tersenyum sebentar kepada Zoey dan kemudian memasang tatapan yang memohon kepadanya.
“T-Tidak perlu, lagipula itu tidak jauh, aku hanya perlu berjalan beberapa langkah saja.” Zoey mencoba untuk menolak permintaan Daniel dengan sopan.
“Aku mohon…” Daniel semakin memohon kepada Zoey.
Zoey menatap mata Daniel yang memohon itu selama beberapa saat sebelum menghela napas dengan pasrah. “Baiklah…”
“Yay!” Daniel langsung terlihat sangat senang saat Zoey mengizinkannya untuk mengantarnya ke depan pintu ruang apartemennya. “Ayo segera pergi!” Daniel langsung berjalan lebih dulu dari Zoey.
“Hah… Baiklah.” Zoey langsung meminum habis kopi yang dibuatkan Daniel dan meletakkan gelas itu di atas meja yang ada di dekatnya dan segera berjalan menyusul Daniel.
“Ini tasmu.” Daniel mengambil tas Zoey yan ada di meja dekat pintu keluar dan memberikannya pada Zoey.
“Terima kasih.” Zoey mengambil tasnya dari Daniel dan membukanya untuk mencari kartu ruangannya.
Ekspresi Zoey tiba-tiba berubah menjadi panik. “Aku tidak bisa menemukannya…” Tangan Zoey menyusuri seluruh isi tasnya dan masih tidak bisa menemukan kartu ruang apartemennya.