
“Apa yang kamu cari?” Daniel melihat ke arah Elyana yang terlihat panik.
“Kartu ruanganku… tanpa itu aku tidak masuk ke ruangan apartemenku…” Zoey terus berusaha mencari kartu ruangannya.
“Itu… ada di bagian depan tasmu.” Daniel menunjuk ke arah sebuah kartu yang berada di bagian depan tas Zoey yang sangat terlihat.
Zoey melihat ke arah depan tasnya dan benar-benar menemukan kartu ruangannya disana.
“Kamu memang ceroboh hahaha.”
Zoey merasa malu saat Daniel menertawakannya, ia segera berjalan mendahului Daniel dan pergi keluar terlebih dahulu.
“Apa kamu malu?” Daniel segera berjalan menyusul Zoey yang berjalan keluar dengan cepat.
“Berisik.” Zoey tidak berani melihat ke arah Daniel dan terus berjalan.
“Zoey?”
Panggilan dari suara yang tidak asing bagi Zoey membuatnya berhenti berjalan. Zoey dengan ragu-ragu melihat ke arah suara itu berasal.
“A-Apa yang Anda lakukan disini… Mr. Wilder…?”
Adriel terdiam sejenak saat melihat Daniel yang berdiri di belakang Zoey dan kemudian kembali melihat Zoey dengan senyuman yang sedih.
“Aku kesini untuk menjemput seseorang yang kukenal.”
“Seseorang yang Anda kenal? Di tempat tinggal saya?” Zoey terlihat kebingungan karena yang tinggal di ruang apartemen itu hanyalah dirinya dan Maria saja.
“Seseorang bernama Calvin, Apakah kamu mengenalnya?”
“Calvin…” Zoey kembali teringat dengan Calvin dan Maria yang kemarin malam meminum wine sampai mabuk. “Jangan-jangan.”
“Sepertinya kamu tahu… aku sudah mencoba untuk memanggil, tetapi tidak ada yang membukakan pintunya.”
“Oh… saya akan segera membukakan pintunya.” Zoey langsung berjalan ke pintu itu dan memasukkan kartu ruangannya.
Zoey melihat ke arah Daniel sebentar. “Baiklah, terima kasih karena sudah mau mengantarku.”
Daniel menganggukkan kepalanya sekali dan melihat tajam ke arah Adriel sebelum berjalan kembali ke ruangannya. “Namanya Zoey ya… nama yang imut… hehehe.”
Adriel terlihat kesal saat melihat Daniel yang berjalan menjauh dari mereka dengan ekspresi yang senang.
“Zoey, apakah kamu mengenal laki-laki itu?” Adriel merasa hatinya sangat gelisah saat tadi melihat mereka bersama.
“Dia adalah orang yang menolongku.”
Zoey selesai memasukkan kartunya dan pintunya pun terbuka. “Ayo masuk.”
“Menolongmu? Apakah terjadi sesuatu padamu?” Adriel menatap Zoey dengan tatapan yang khawatir.
“Tidak, saya hanya terluka sedikit saja.” Zoey tersenyum dingin pada Adriel dan langsung segera berjalan masuk ke ruangan apartemennya. Adriel pun mengikuti Zoey masih dengan rasa khawatir.
“T-Tungg-!”
Maria tiba-tiba berlari ke arah Zoey dan memeluknya dengan erat. “Zoey! Kamu kemana saja?! Aku sangat mengkhawatirkanmu!”
Maria kemudian memasang ekspresi yang sangat dingin saat melihat Adriel yang berdiri di belakang Zoey. “Dan kamu… apa yang kamu lakukan disini?”
“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan disini saat jam kerja seperti ini?” Adriel merasa kesal dengan Maria yang masih memeluk Zoey.
“Maria, aku baik-baik saja. Maaf karena membuatmu khawatir…” Zoey membalas pelukan Maria dengan senyuman di wajahnya.
“Tidak! Seharusnya aku yang meminta maaf karena meninggalkanmu begitu saja!” Maria semakin erat memeluk Zoey dan mengabaikan Adriel yang masih berdiri di sana.
“Kam-!”
Calvin tiba-tiba muncul dan menutup mulut Adriel yang ingin marah itu. “Shh!”
“Kamu… apa yang sebenarnya kamu sedang lakukan disini?” Adriel sangat terkejut dengan kehadiran Calvin yang tiba-tiba itu.