
“Jangan bercanda…!” Zoey tidak sengaja menggerakkan badannya dan kepala Adriel pun terjatuh dari depan Zoey dan Zoey menangkap kepalanya dengan kedua tangannya, kemudian ia letakkan ke pangkuannya dengan perlahan.
“Maria!” Teriak Zoey dengan suara kecil kepada Maria untuk meminta tolong padanya.
Maria malah mengabaikan Zoey dan terkekeh sendiri saat melihat Zoey yang menangkap kepala Adriel. “B-Berjuanglah…” Maria berusaha keras untuk menahan tawanya.
“A-Aku akan pergi untuk membeli beberapa makanan…” Maria benar-benar sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. “A-Aku akan segera kembali.” Maria langsung berlari ke luar dan tertawa lepas di sana.
“T-Tidak… Maria…!” Zoey melihat Maria yang sudah menghilang dari pandangannya, hanya bisa melihat pintu keluar itu dengan putus asa.
“A-Apa yang harus kulakukan?! Aku tidak mungkin membangunkannya bukan?” Zoey melihat ke wajah Adriel dengan gelisah.
Zoey tampak terdiam beberapa saat memandangi wajah Adriel. “Mau berapa kalipun aku melihat wajahnya, dia tetap tampan… sial ini bukan saatnya untuk mengagumi wajahnya…”
Zoey menutup matanya dan menggigit bibirnya sendiri. “Film yang kami tonton seru sekali tetapi…! Sejak Mr. Wilder tertidur, aku sama sekali tidak bisa fokus! Apakah aku harus menonton ulang?” Zoey menatap televisi yang terus menyala itu dan tidak bisa fokus sama sekali.
“A-Apa aku tidur saja? Tetapi aku tidak mengantuk sama sekali…” Zoey mencoba untuk menutup matanya dan seketika ia benar-benar tertidur.
***
Maria berjalan ke minimarket dengan kepala yang terus berdenyut. “Aku tadi seharusnya tidak menertawai mereka seperti itu, kepalaku sekarang tambah sakit…” Gumam Zoey dalam hatinya sambil memegang kepalanya dengan satu tangannya.
“Apa yang harus kubeli untuk mereka ya?” Tanya Zoey kepada dirinya sendiri dengan suara yang kecil.
“Daritadi aku hanya berbicara dengan diriku sendiri, aku rasa otakku sudah mulai tidak waras…” Maria melewati bagian dimana bir kaleng dijual dan meyakinkan dirinya untuk tidak membeli bir di pagi hari.
“Zoey akan marah jika aku meminum bir di pagi hari…” Maria berjalan menjauh dari bagian bir. “Tapi…!” Maria tiba-tiba berlari kembali ke bagian bir itu dan membeli lima kaleng bir. “Aku ingin meminumnya jadi aku tidak punya pilihan lain bukan? Hehehehe.”
Maria pun pergi membayar barang yang ingin sudah dipilihnya dengan senyuman gembira di wajahnya.
“Maria…?” Suara laki-laki yang tiba-tiba memanggilnya membuat Maria terkejut.
Maria langsung membalikkan badannya dan melihat ke arah suara itu berasal dan seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat dingin. “Kamu…”
“Kamu benar-benar Maria bukan? Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu lagi, apakah kamu masih tinggal di sekitar sini?” Laki-laki itu melontarkan banyak sekali pertanyaan kepada Maria dengan ekspresi yang sangat antusias.
“Lama tak berjumpa Gary Jorell, aku tidak menyangka kamu masih hidup ternyata.” Maria memasang senyum palsu untuk laki-laki itu.
“Kamu masih kejam seperti biasanya ya… hahaha.” Gary terlihat sedikit kesal saat mendengar ucapan Maria.
“Aku tidak punya waktu untuk orang sepertimu, kalau begitu aku permisi terlebih dulu.” Maria membalikkan badannya dan berjalan ke arah kasir dengan ekspresi yang sedikit kesal.
Gary tiba-tiba merasa sangat kesal saat Maria pergi begitu saja. “Tunggu!” Gary memegang tangan Maria dengan kesal dan menariknya dengan sangat kuat hingga membuatnya berdiri berhadapan dengannya lagi.