Please Marry Me My Handsome CEO

Please Marry Me My Handsome CEO
Episode 46



Zoey terkesiap dengan ucapan Adriel. Ia terdiam selama beberapa detik memandangi wajah Adriel. Walaupun ia hanya memandangi Adriel selama beberapa detik, di pikiran Zoey ia sudah memikirkan seribu pikiran yang tidak berguna di saat mendengar ucapan Adriel. 


“Zoey?” 


Adriel merasa khawatir saat melihat Zoey yang terdiam memandangi wajahnya, apakah dirinya baru saja meminta hal yang sulit bagi Zoey? Banyak pertanyaan negatif tiba-tiba muncul di pikiran Adriel.


Zoey bangun dari lamunannya dan berdeham. “B-Baiklah, aku rasa itu bukanlah hal yang buruk. Lagipula menggunakan bahasa formal pada saat tidak bekerja juga sedikit aneh.”


Zoey langsung berjalan kembali mendahului Adriel yang berdiri terpaku disana dengan senyuman lebar yang tergambar jelas di wajahnya.


Setelah berjalan beberapa saat, Zoey berhenti dan menolehkan kepalanya ke belakang melihat Adriel yang masih berdiri disana. “Apa yang kamu lakukan? Ayo kita segera pergi.”


“Um,” jawab Adriel masih dengan senyuman lebar yang ia tidak bisa sembunyikan.


Adriel kemudian berlari ke arah Zoey yang berada di depannya sambil melihat ke arahnya dengan wajah yang sedikit memerah. Semakin ia mendekati Zoey, jantung Adriel berdetak semakin kencang, dan saat ia sudah berdiri di samping Zoey jantung Adriel terasa seperti bisa meledak kapan saja.


Bukan hanya Adriel saja, Zoey juga merasakan hal yang sama. Sebelum mereka berdua berjalan kembali, Adriel dan Zoey saling memandangi satu sama lain dengan senyuman di wajah mereka dan kemudian mereka melanjutkan berjalan bersama.


“Aku mengira hari ini akan menjadi hari yang buruk juga. Tetapi… ternyata tidak seburuk itu. Aku selalu berpikir Mr. Adriel Wilder adalah orang yang tidak akan bisa kujangkau selama hidupku, dan ternyata aku salah.”


Zoey sedikit melihat ke arah Adriel dengan dugaan bahwa Adriel tidak akan menyadari tatapannya. Tetapi, ia salah, Adriel menyadari tatapan Zoey yang melihat ke arahnya. Tanpa mengatakan apapun, Adriel langsung tersenyum dengan penuh ketulusan saat melihat pandangan Zoey yang tertuju padanya.


“Zoey, apakah itu tempatnya?” tanya Adriel saat melihat sebuah toko yang dalamnya bisa dilihat dengan jelas karena sekitar toko itu dikelilingi dengan kaca yang besar.


Zoey berhenti melihat ke samping dan melihat ke arah yang dimaksud oleh Adriel. “B-Benar, itu tempatnya…”


“Ini pertama kalinya aku melihat sesuatu seperti ini,” ucap Adriel dengan ekspresi yang terlihat kagum sekali.


Zoey masih tidak terbiasa dengan ekspresi kagum Adriel saat melihat tempat yang hampir setiap hari ia kunjungi. Setidaknya orang yang bahkan sangat kaya sekalipun pasti pernah melihat atau mengunjungi tempat seperti ini sekali, tetapi bagaimana bisa ada seseorang seperti Adriel yang benar-benar tidak tahu tempat seperti ini.


Rasanya ingin sekali Zoey bertanya kepada Adriel bagaimana masa lalunya atau kesehariannya hingga ia tidak pernah pergi ke tempat seperti ini, tetapi ia mengurungkan niatnya karena mereka tidak sedekat itu sampai bisa membicarakan tentang masa lalu mereka.


“Zoey? Apakah kamu baik-baik saja?” Adriel melambaikan tangannya di depan wajah Zoey untuk membangunkannya dari lamunannya.


Zoey bangun dari lamunannya dan memaksakan senyumannya pada Adriel. “Maaf… ayo kita segera masuk.”


Adriel terdiam sesaat sambil melihat ke punggung Zoey yang berjalan di depannya dengan perasaan yang sedih. 


“Aku masih belum menjadi seseorang yang penting baginya…” gumam Adriel dalam hatinya sebelum ia kembali berjalan mengikuti Zoey.