Please Marry Me My Handsome CEO

Please Marry Me My Handsome CEO
Episode 12



“Kamu bilang kamu diajak untuk makan malam bersama Mr. Wilder?” Maria menatap Zoey dengan tatapan yang seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya. “Lalu kenapa kamu sekarang berada disini?!” Maria tiba-tiba meningkatkan volume suaranya.


“Aku tidak tahan dengan situasinya yang terlalu awkward itu… lagipula bukannya tadi kamu ingin menyuruhku pulang bukan?” Zoey memalingkan matanya dari Maria dan terlihat ragu-ragu untuk menjawabnya.


“Apa yang kamu lakukan bodoh?! Kamu akhirnya bisa makan malam bersama dengan laki-laki yang sangat kamu sukai itu, tapi kenapa kamu malah menjadikanku alasan untuk tidak jadi makan bersamanya?!” Maria mencoba untuk menahan amarahnya pada Zoey.


“Itu gara-gara kamu menelponku! Lagipula kenapa kamu tiba-tiba menelponku?! Biasanya kamu sangat jarang sekali mengangkat telponku ataupun membalas pesanku!” Zoey tidak ingin menerima bahwa alasan ia tidak jadi makan malam bersama Adriel adalah salahnya. “Itu memang salahku tapi kamu tidak usah mengucapkannya dengan sejelas itu bukan?! Dan aku benar-benar merasa bersalah saat melihat ekspresi Mr. Wilder yang terlihat sangat kecewa saat aku tidak jadi makan malam bersamanya!” Zoey berteriak dalam kepalanya sendiri.


“Aku menelponmu karena stok bir kaleng yang ada di kulkas sudah tinggal sedikit dan aku ingin menyuruhmu untuk membelinya karena aku sangat malas untuk pergi keluar.” Ucap Maria dengan santainya.


“Hanya itu…? Kamu menelponku hanya untuk hal seperti itu…?” Zoey memasang ekspresi yang seakan tidak percaya dengan alasannya menelponnya.


“Iya.” Jawab Maria dengan singkat.


Tes 


Tiba-tiba air mata jatuh dari kedua mata Zoey. “Dasar bodoh!” Teriak Zoey dengan sangat keras sambil menangis. “Harusnya aku tetap pergi makan malam bersamanya walaupun aku tidak suka dengan situasinya saat itu!” Zoey sangat menyesal karena dirinya yang sudah membuat alasan agar mereka tidak jadi makan malam bersama. 


***


“Zoey…” Panggil Maria dengan ragu-ragu saat mereka sudah mau berangkat bekerja.


“Apa kamu yakin kamu mau pergi dengan keadaan seperti itu? Aku bisa minta izin untukmu…” Maria mencoba untuk lebih memperhatikan kondisi sahabatnya itu.


“Lebih baik kamu tidak usah berpura-pura baik seperti itu…” Zoey menatap Maria dengan tatapan yang jijik.


“Terserahmu saja…” Maria tiba-tiba terpikirkan suatu ide yang menurutnya sangat bagus. “Lupakan saja apa yang baru saja kukatakan dan ayo kita segera berangkat bekerja.” Maria tersenyum usil kepada Zoey.


“A-Ada apa denganmu? Kenapa kamu tersenyum seperti itu…?” Zoey terlihat sedikit takut saat melihat Maria yang tersenyum usil kepadanya.


“Tidak. Tidak ada apa-apa.” Maria segera berjalan ke pintu keluar ruangan mereka masih dengan senyuman usilnya. “Hehehe, jika Mr. Wilder benar-benar menyukai Zoey, aku penasaran sekali ekspresi seperti apa yang akan dipasangnya saat melihat mata Zoey yang bengkak seperti itu hehehe.” 


“Maria… kamu terlihat sangat menakutkan… apa yang kamu sedang rencanakan…?” Zoey berjalan mendekati Maria dengan ragu-ragu.


“Kamu tidak perlu khawatir, aku hanya sedang bertaruh dengan diriku ekspresi apa yang akan diperlihatkan oleh orang itu hehehe.” Maria tertawa jahat sambil membayangkan beberapa ekspresi yang akan diperlihatkan Adriel saat melihat mata Zoey yang bengkak.


“Kamu benar-benar menakutkan…” Zoey tidak berani berjalan di dekat Maria saat melihatnya tertawa jahat seperti itu di sepanjang perjalanan mereka menuju ke kantor mereka.


Saat mereka berdua sampai di depan kantor mereka, Maria melihat ke arah Zoey dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa ia sangat mempercayainya dan mengacungkan jempolnya padanya. 


“Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu?” Zoey terlihat sangat kebingungan dengan sikap Maria, tapi Maria tidak menjawab Zoey dan langsung masuk ke dalam dan Zoey hanya bisa mengikutinya dengan pasrah.