
“Kamu mempunyai orang tua yang baik…” Ucap Zoey yang tangisannya mulai berhenti.
“Tentu saja. Jika kamu sudah merasa baikan, bagaimana kalau kita pergi ke bangku yang ada disana?” Laki-laki itu tersenyum lembut kepada Zoey saat melihat Zoey yang sudah dapat lebih tenang.
“Um.” Zoey menganggukkan kepalanya sekali.
Laki-laki itu pun membantu Zoey pergi ke bangku yang berada tak jauh dari mereka. “Pelan-pelan saja.” Ucap laki-laki itu saat Zoey meringis kesakitan karena berjalan.
Saat mereka sampai pada bangku itu, laki-laki itu dengan perlahan membantu Zoey untuk duduk disana.
“Bisakah kamu menekan lukamu seperti ini sebentar? Aku akan pergi membeli salep dan perban untuk lukamu.” Ucap laki-laki itu sambil menekan luka di lutut Zoey dengan lembut.
“Kamu…”
“Daniel. Daniel Brown. Panggil aku Daniel saja.” Laki-laki itu menatap Zoey dengan tatapan yang sangat tenang.
“B-Baiklah, D-Daniel… apakah di dekat sini ada tempat untuk membeli hal seperti itu?” Tanya Zoey dengan ragu-ragu.
“Tenang saja, jaraknya tidak jauh, aku segera kembali secepat mungkin.”
Zoey menyeka air matanya dengan cepat hingga tidak ada air mata lagi yang tersisa, ia kemudian segera menyentuh sapu tangan Daniel yang ada di lututnya dan menekannya dengan pelan.
“Aku akan segera kembali.” Daniel kemudian segera berdiri dan berlari meninggalkan Zoey disana.
“Ini memalukan sekali… apakah dia berpikir aku sangat menyedihkan…?” Zoey berhenti menekan luka di lututnya dan melihat ke sapu tangan yang dilumuri darah itu.
Zoey kembali menekan lukanya dengan pelan dan melihat ke atas langit yang sudah sangat gelap. “Mungkin besok aku harus mencari pekerjaan baru lagi. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya lagi…” Zoey membayangkan wajah Adriel yang kecewa dan merasa sedih.
“Maaf karena sudah membuatmu menunggu…” Suara Adriel membangunkan Zoey dari lamunan panjangnya.
Zoey menurunkan kepalanya dan melihat ke arah Daniel yang berdiri di depannya dengan kelelahan. “Kamu cepat sekali…”
“Aku sudah bilang aku akan kembali secepatnya bukan…?” Daniel menyeka keringatnya dan memberikan satu botol air minum pada Zoey. “Aku pikir kamu haus… jadi aku membelikanmu minum.”
Zoey terkejut dengan kebaikan Daniel pada orang yang baru ditemuinya. “Bagaimana kamu bisa hidup di dunia ini dengan hati yang baik itu…?” Zoey mengambil satu botol air minum yang dibelikan Daniel.
“Dan aku sudah membukanya untukmu jadi tidak kamu tidak perlu terlalu memakai tenaga untuk membukanya.” Ucap Daniel dengan senyuman lembut di wajahnya.
Zoey membuka tutup botol air minum itu dan apa yang dikatakan oleh Daniel adalah benar, ia bisa membukanya dengan sangat mudah. “Kamu terlalu baik…” Zoey menatap Daniel dengan ekspresi yang khawatir.
“Hehe.” Daniel terlihat senang dengan pujian Zoey, kemudian ia mengambil salep dan perban yang sudah dibelinya dan mengobati luka Zoey.
“Harusnya sekarang sudah baik-baik saja.” Ucap Daniel setelah selesai mengobati luka Zoey.
“Terima kasih…” Zoey mencoba untuk menggerakkan lututnya, walaupun sudah diobati Daniel, Zoey masih merasakan sakit di lututnya.
“Tolong jangan terlalu memaksakan dirimu dulu, walaupun aku sudah memberikan salep pada lututmu bukan berarti itu akan langsung sembuh…” Daniel menceramahi Zoey yang seperti sudah siap untuk bangun dan berjalan dengan ekspresi yang khawatir.
“M-Maaf…” Zoey berhenti menggerakkan lututnya dan kembali duduk dengan tenang.