
Adriel mengikuti Zoey dan mengintip dari pintu dapur yang terbuka. “Apakah kamu perlu bantuan?” Tanya Adriel dengan ragu-ragu dan malu-malu.
“Tidak perlu, Anda lebih baik membantu Maria untuk menyiapkan alat makannya saja.” Jawab Zoey dengan senyuman di wajahnya sambil mengeluarkan bahan yang ingin dimasaknya.
“Baiklah.” Adriel kembali ke tempat Maria dan Maria ternyata sudah menyiapkan semuanya dan duduk disana sambil meminum bir yang baru dibelinya. Saat Maria melihat Adriel yang melihat ke arahnya ia langsung menyuruhnya untuk duduk.
“Duduk.” Ucap Maria dengan keseriusan yang tergambar di wajahnya.
Adriel pun langsung duduk tanpa mengatakan apapun mengingat tempat ini adalah milik mereka berdua. “Apakah ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan?” Tanya Adriel dengan bahasa yang sopan.
“Kenapa saat berbicara denganku kamu menggunakan bahasa formal dan ketika berbicara dengan Zoey kamu tidak menggunakan bahasa yang formal?” Tanya Maria sambil sambil memegang satu kaleng bir.
“Bukankah itu hal yang wajar untuk orang yang baru kenal seperti kita?” Ucap Adriel dengan dingin.
“Tapi kenapa saat berbicara dengan Zoey kamu sama sekali tidak menggunakan bahasa yang formal?” Tanya Maria sekali lagi dengan ekspresi yang sangat serius.
“I-Itu…” Adriel terlihat ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Maria. “Tidak mungkin aku bilang kalau aku menyukainya bukan?”
“Kamu menyukai Zoey bukan?” Ucap Maria sambil meneguk bir yang di pegangnya.
Adriel sangat terkejut dengan ucapan Maria dan terdiam selama beberapa saat. “B-Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Tentu saja aku tahu. Itu sudah sangat terlihat jelas saat Zoey menceritakan tentangmu beberapa hari ini.” Maria sedikit tersenyum saat melihat ekspresi Adriel yang sangat terkejut itu.
“Apakah kamu akan memberitahunya?” Tanya Adriel dengan tanpa ekspresi.
“Apakah ada sesuatu yang kamu inginkan?” Adriel tidak dapat mempercayai ucapan Maria dan mencurigainya.
“Kamu tidak perlu mencurigaiku seperti itu. Tenang saja, aku melakukan ini karena aku benar-benar ingin mendukung kalian dan juga kalian berdua terlihat sangat cocok.” Maria tiba-tiba tertawa saat membayangkan jika mereka berdua menikah.
“Apakah benar-benar tidak ada yang kamu inginkan sama sekali?” Adriel masih tetap mencurigai Maria.
“Jika kamu memaksa seperti itu… baiklah. Bagaimana jika kamu tidak menggunakan bahasa formal padaku juga? Sejujurnya melihatmu menggunakan bahasa formal kepadaku tetapi tidak kepada Zoey sedikit menyebalkan.” Ucap Maria masih dengan senyuman gembira di wajahnya.
Adriel yang mendengar itu terlihat tidak menyukainya, tetapi ia pasrah dan menyetujuinya karena menurutnya itu lebih baik daripada dia benar-benar memberitahu Zoey kalau dirinya menyukainya. “Baiklah, mulai sekarang aku akan tidak menggunakan bahasa formal kepadamu.”
“Hahaha. Bagus sekali! Itu yang selalu ingin kudengar dan ekspresi wajahmu yang berbeda benar-benar memuaskanku!” Maria tertawa puas sekali dan Adriel hanya memandanginya dengan tatapan yang tidak senang sama sekali.
“Oh ya… dan satu lagi.” Maria mendekatkan wajahnya ke Adriel. “Berjanjilah kamu tidak akan menyakiti Zoey.” Bisik Maria dengan senyuman di wajahnya.
Setelah berbisik pada Adriel, Maria langsung meregangkan badannya dan melihat ke arah dapur. “Zoey! Apakah makanannya belum siap?” Tanya Maria dengan setengah berteriak.
“Sebentar lagi!” Jawab Zoey sambil menuangkan makanan yang baru dimasaknya ke piring.
“Ya. Aku berjanji aku tidak menyakitinya.” Adriel menatap Maria dengan tatapan yang sangat percaya diri.
“Hm… Baguslah kalau begitu.” Maria kembali meneguk birnya sampai habis dengan senyuman yang tenang di wajahnya.