
“Kenapa kamu meninggalkan Luna sendirian?!” Teriak ibu Adriel padanya saat sedang menyetir di mobilnya.
“Dia bukan anak kecil lagi, untuk apa aku menemaninya?” Ucap Adriel tanpa terlalu memperdulikan ucapan ibunya.
“Kamu adalah tunangannya! Bagaimana kam-!”
Adriel langsung mematikan panggilan dari ibunya begitu saja. “Hm?” Adriel memelankan mobilnya saat melihat Zoey yang sedang berjalan di pinggir jalan.
Seketika sebuah senyuman muncul di wajah Adriel, ia segera meminggirkan mobilnya tepat di depan Zoey. Adriel segera menurunkan kaca mobilnya. “Zoey!”
Zoey yang sedang berjalan dengan kepala tertunduk terkejut saat mendengar panggilan itu, ia mengangkat kepalanya dan melihat ke depan. “Mr. Wilder…?” Gumam Zoey dengan suara yang sedikit ketakutan, seakan ingin menghindarinya Zoey kembali menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat ke arah Adriel.
Adriel yang menyadari Zoey yang berusaha untuk menghindarinya langsung membuka pintu mobilnya dan segera berlari ke arah Zoey.
“A-Ada apa Mr. Wilder…?” Zoey tetap menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat ke wajah Adriel.
“Masuklah ke dalam mobil, aku akan mengantarmu pulang. Ini sudah malam, tidak baik untuk perempuan sepertimu berjalan sendirian seperti ini.” Ucap Adriel dengan ekspresi yang sedih saat melihat Zoey yang tidak mau melihat ke wajahnya.
“T-Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri…” Zoey menolak ajakan Adriel dengan suara yang gemetaran.
Zoey tiba-tiba teringat kembali saat Adriel yang berjalan melewati dirinya dan berdiri bersama Luna tadi siang, ia menggenggam kuat tali tasnya dengan tangan yang gemetaran. “Tolong jangan melihat ke arahku… kumohon tinggalkan aku sendiri…”
“Zoey!” Adriel hanya bisa melihat ke punggung Zoey yang berlari menjauh darinya. “Aku ingin mengejarnya… tapi… apa yang harus kukatakan padanya…?” Adriel menggenggam tangannya sendiri dengan kuat, menyalahkan dirinya atas ketidakberdayaannya.
“Hah…hah…hah…” Zoey terus berlari tanpa memperdulikan hal yang ada di sekitarnya, ia terus berlari hingga kakinya sudah tidak ada tenaga lagi dan terjatuh.
Zoey segera bangun dan melihat kedua lututnya yang berdarah. “Menyedihkan… walaupun Maria buruk dalam olahraga, dia tidak pernah terjatuh saat berlari walaupun dia sangat lelah… Betapa menyedihkannya dirimu ini Zoey Everleigh…”
Air mata yang terus ia tahan kini jatuh dari kedua matanya, Zoey terus menyeka air mata itu dan berkali-kali menyuruh dirinya untuk berhenti menangis karena ia selalu berpikir walau dirinya menangis seperti ini pun tidak akan ada yang berubah. Tetapi air mata itu terus jatuh dan tidak bisa ia kendalikan sama sekali. “Berhentilah menangis dasar bodoh…”
Zoey berkali-kali menampar dirinya sendiri untuk menghentikan air matanya tetapi air mata itu terus mengalir. Dirinya semakin merasa hampa, bahkan lututnya yang awalnya terasa sakit kini rasa sakit yang dirasakannya mulai menghilang dengan perlahan.
“Apa kamu baik-baik saja?” Suara lembut dari seorang laki-laki membuat Zoey tersadar dari lamunan panjangnya. “Lututmu berdarah…” Laki-laki itu mendekati Zoey dan mencoba untuk membersihkan darah yang ada pada lutut Zoey.
Zoey yang melihat laki-laki itu yang sedang membersihkan luka pada lututnya hanya menatapnya dengan tatapan kosong. “Kamu siapa…?” Tanya Zoey dengan suara bergetar akibat menangis.
“Saya hanya seorang dokter yang kebetulan lewat sini.” Jawab laki-laki itu sambil melihat ke mata Zoey dengan tatapan yang lembut.
“Kenapa kamu membantuku?”
“Kamu butuh pertolongan bukan? ‘Jika kamu melihat orang yang sedang kesusahan, kamu harus segera membantunya’ Itu adalah hal yang sering dikatakan orang tua saya.” Laki-laki itu masih tersenyum lembut sambil membersihkan darah di luka Zoey.