
“Laki-laki itu bukannya orang yang waktu itu juga ya? Dan juga bagaimana dia bisa tahu kita bekerja di lantai ini?” Tanya Zoey kepada Maria dengan sedikit bingung.
“Entahlah, mungkin dia seorang stalker?” Maria fokus pada layar komputer di depannya.
“Jangan begitu dong, kamu membuatku takut.” Zoey melihat Maria yang sedang fokus bekerja dengan ekspresi yang kesal.
“Aku tidak begitu peduli dengan laki-laki itu, yang saat ini sangat kupedulikan adalah…” Maria berhenti mengetik dan menggenggam tangannya sendiri dengan kuat. “ORANG SIALAN ITU!” Teriak Maria dalam hatinya sambil membayangkan wajah Adriel.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu belakangan ini?” Tanya Zoey dengan kebingungan saat melihat Maria yang terlihat sangat kesal.
Maria berusaha sangat keras untuk menahan amarahnya. “Hah…” Maria menghela napas dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
Pandangan Zoey tiba-tiba tertuju pada pergelangan tangan Maria. “Apakah luka di pergelangan tanganmu sudah sembuh?”
“Hm? Tentu saja sudah, walaupun masih ada bekasnya sedikit, aku bisa menutupinya dengan jam tanganku.” Jawab Maria dengan senyuman di wajahnya sambil memamerkan tangannya kepada Zoey.
“Baguslah kalau begitu.” Zoey menghela napas dan kembali melihat ke layar komputer di depannya.
Maria tiba-tiba mengingat kembali saat Adriel bersama dengan Luna. “Zoey… Hari ini ayo kita makan di luar.” Ajak Maria dengan antusias.
Zoey berhenti mengetik dan melihat ke arah Maria yang menatapnya dengan tatapan yang sangat antusias. “Hah? Sebenarnya apa yang terjadi denganmu belakangan ini? Kamu membuatku sedikit takut.”
“Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang saja. Lagipula kita sudah lama tidak pernah makan di luar bukan?” Maria menatap Zoey dengan tatapan yang berbinar-binar.
“Hah… baiklah. Kamu sudah menyimpan uang untuk membayar tempat tinggal kita bukan?” Tanya Zoey sambil menyeruput kopi yang terletak di atas meja kerjanya.
“Tentu saja!”
“Baiklah…” Zoey pasrah terhadap keinginan Maria.
Zoey membenturkan kepalanya ke mejanya saat jam makan siang sudah tiba. Maria yang melihat itu terlihat sedikit khawatir.
“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Maria dengan ragu-ragu.
“Maria… aku sedang tidak ingin berjalan, bisakah kamu membantuku membelikan makananku?” Zoey masih tidak mengangkat kepalanya.
“B-Baiklah, aku akan membelikannya untukmu. Tapi, tolong jangan membenturkan kepala mu ke meja seperti itu lagi ya.” Maria mengambil handphone nya dan berdiri menghadap Zoey.
“Baiklah.” Jawab Zoey tanpa semangat.
Setelah mendengar jawaban Zoey, Maria langsung berjalan pergi untuk membelikan makanan untuk Zoey.
“Hah… apa yang sebenarnya terjadi padaku?” Tanya Zoey dengan suara yang kecil kepada dirinya sendiri.
“Zoey?”
Zoey terkejut saat suara yang seperti ia kenal memanggil namanya, ia segera bangun dan duduk dengan benar di bangkunya. “Ya?” Jawab Zoey dengan tidak bersemangat. “Kalau kamu sedang mencari Maria dia sudah pergi beberapa saat yang lalu.”
“Kenapa dia begitu cepat pergi?” Tanya Luna dengan ekspresi yang sedih.
“Tidak tahu, kenapa kamu tidak menyusulnya saja?” Zoey kembali menyalakan komputernya.
“Apakah Zoey tidak mau makan siang bersamaku?” Ajak Luna dengan mata yang memohon.
“Tidak, masih banyak pekerjaan yang harus kukerjakan.” Zoey tidak melihat ke arah Luna sama sekali dan hanya fokus pada layar komputernya.
“Tapi ini kan jam istirahat, kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu nanti.” Luna memegang lengan Zoey dengan kedua tangannya dan terus memaksanya untuk makan siang bersama.