Please Marry Me My Handsome CEO

Please Marry Me My Handsome CEO
Episode 32



“Kamu tidak ada disana bukan? Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku melukainya tanpa sengaja.” Zoey terlihat sangat ingin menangis, tetapi ia tetap menahannya.


“Entahlah, tapi walaupun kamu benar-benar melukainya dengan sengaja, pasti ada alasan di balik itu bukan?” Maria tersenyum tenang.


“Kamu selalu saja begitu.” Zoey memberanikan dirinya melihat ke wajah Maria dengan mata yang sangat ingin menangis.


“Kalau perusahaan ini mengeluarkanmu, aku juga akan keluar, dan kita akan mencari pekerjaan baru lagi dan jika mereka memasukkanmu ke jeruji besi… aku juga akan melakukan kejahatanmu sepertimu dan mungkin mereka akan memasukkan kita di tempat yang sama bukan? Hahahaha. Karena itu jangan terlalu menyalahkan dirimu seperti itu.” Maria berjalan mendekati Zoey dan mengelus-elus kepala Zoey.


Zoey langsung memeluk Maria dan menangis tersedu-sedu. Maria membalas pelukan Zoey dengan senyuman di wajahnya. “Kita adalah sahabat bukan?”


Hari semakin sore. Setelah menangis selama beberapa saat, Zoey akhirnya merasa lebih baik dan sudah berhenti menangis.


“Apa kamu sudah lebih baik? Anak cengeng.” Tanya Maria dengan senyuman mengejek di wajahnya.


“Um.” Jawab Zoey sambil menganggukkan kepalanya.


“Baiklah. Aku akan mengambil tas kita terlebih dahulu, kamu mau ikut atau tinggal disini saja?” Maria bangun dari tempat duduknya.


“Aku akan menunggu disini saja.” Ucap Zoey dengan suara yang kecil.


“Baiklah. Aku akan segera kembali, setelah ini ayo kita makan makanan yang enak!” Maria melambaikan tangannya pada Zoey sebentar dan kemudian segera berlari ke kantor mereka untuk mengambil tas mereka.


Zoey ikut melambaikan tangannya kembali pada Maria dengan sedikit senyuman. Saat Maria sudah menghilang dari pandangannya Zoey tiba-tiba menjadi sedih lagi, tetapi ia segera menampar pipinya dengan kedua tangannya. “Aku tidak boleh seperti ini terus, walaupun aku terus memikirkannya… pasti tidak akan ada yang berubah…”


“Coklat?” Zoey terkejut dengan kehadiran laki-laki yang menyodorkan satu bungkus coklat di depannya itu.


“Tenang saja, aku tidak mencampuri apapun pada coklat ini. Ini hanya coklat biasa yang kubeli dari minimarket.” Ucap laki-laki itu tanpa ekspresi.


“K-Kalau begitu saya akan mengambilnya dengan senang hati…” Zoey mengambil coklat itu dan menatap coklat itu dengan ekspresi yang serius. “Apakah coklat ini benar-benar aman…?”


Setelah Zoey menerima coklatnya, laki-laki itu langsung duduk di samping Zoey sambil memakan coklat lain yang berbungkus sama dengan coklat yang diberikannya pada Zoey.


“Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak suka coklat? Saat sedang bersedih, coklat bisa menjadi salah satu obat yang kamu butuhkan.” Ucap laki-laki itu sambil melihat Zoey yang menatap coklat yang baru saja diberikannya dengan tatapan yang serius.


“Apa itu benar?” Zoey terlihat mempercayai hal yang baru saja dikatakan orang itu.


“Tentu saja.”


Setelah mendengar jawaban laki-laki itu, Zoey langsung membuka bungkus coklat itu dan memakannya. “Enak…” 


“Apakah kamu merasa lebih baik?” Laki-laki itu tersenyum saat melihat Zoey memakan coklat yang baru saja diberikannya.


Zoey terus memakan coklat itu dan menganggukkan kepalanya saat laki-laki itu bertanya kepadanya apakah dirinya merasa lebih baik. “Apa karena aku belum makan sejak pagi tadi? Aku tidak menyangka coklat seperti ini bisa terasa enak seperti ini…” Zoey merasa air matanya sedikit keluar dan ia langsung menggunakan lengan bajunya untuk menghapus air matanya hingga tidak ada satupun air matanya yang keluar lagi.