
Zoey duduk terdiam di mobil Adriel. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Zoey perlahan melihat ke arah Adriel. “K-Kita akan pergi kemana?” Tanya Zoey dengan ragu-ragu.
“Sebentar lagi kita akan sampai.” Adriel memfokuskan dirinya untuk menyetir.
“Oh…” Zoey merasa sangat tidak nyaman dengan suasana yang begitu awkward ini. “Seharusnya tadi aku menolaknya saja! Kenapa aku malah tergiurkan dengan hal seperti ini?! Maria… tolong aku!” Zoey terlihat seakan ingin menangis.
Kriiing
“Maaf, itu bunyi hp saya.” Zoey segera mengambil hpnya yang berada di kantong celananya dan melihat nama Maria tertulis disana. “Maria… kamu memang terbaik!” Zoey langsung menerima panggilan itu.
“Maria? Ada apa? Kamu ingin aku pulang sekarang? Baiklah, aku akan segera pulang sekarang juga.” Zoey berbicara sendiri tanpa memberikan kesempatan pada Maria untuk berbicara. Setelah mengatakan hal yang ingin dikatakannya, ia segera menutup telepon itu dengan ekspresi yang senang sekali.
“Maaf Mr. Adriel, teman saya menyuruh saya untuk segera pulang karena ada hal serius yang ingin dibicarakan.” Zoey berpura-pura sedih karena ia tidak bisa makan malam bersama Adriel.
“Apakah hal itu sangat serius? Baiklah aku akan mengantarmu pulang. Makan malam nya kita tunda saja.” Adriel terlihat sedikit kecewa saat melihat Zoey yang terlihat senang saat mereka tidak jadi untuk makan malam bersama.
Zoey menganggukkan kepalanya dengan rasa bersalah saat melihat Adriel yang terlihat kecewa. “Apa aku sudah melakukan hal yang jahat padanya…?” Zoey melihat Adriel dengan ragu-ragu.
“Belakangan ini sikap Mr. Wilder sedikit aneh. Tapi harus kuakui saat melihatnya tertawa lepas seperti itu aku sedikit terpesona dengan tawanya, tapi…” Zoey berpikir sangat keras. “Hah…” Zoey menghela napas berat saat mencoba untuk memikirkan semua hal yang dilaluinya belakangan ini.
“Eh? Saya baik-baik saja hahaha…” Zoey berpura-pura tertawa kepada Adriel. “Aku tidak baik-baik saja! Dan semua itu karena mu tahu?! Mr. Wilder yang biasanya harusnya tidak seperti ini!” Zoey kembali menghela napas berat lagi.
Adriel yang melihat itu menjadi semakin khawatir, ia langsung meningkatkan kecepatan mobilnya. “Tenang saja Zoey, kita akan segera sampai!”
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka berdua sampai pada depan Apartemen Zoey. “Terima kasih Mr. Wilder!” Zoey langsung membuka pintu mobil Adriel, setelah itu ia menutup pintunya kembali dan langsung berlari masuk ke apartemen itu.
“Aku harap semuanya baik-baik saja…” Adriel melihat ke punggung Zoey dengan perasaan khawatir sebentar dan segera mengendarai mobilnya pergi dari sana.
“MARIA!” Zoey masuk ke ruangan apartemennya dan langsung meneriakkan nama Maria dengan sangat keras. Maria yang mendengar itu langsung melempar bantal di dekatnya dan berteriak. “BERISIK!”
“Sakit…” Zoey memegang hidungnya yang terkena bantal yang dilempar oleh Maria.
“Berhentilah berteriak seperti itu! bagaimana jika nanti tetangga kita ini melaporkannya ke polisi?! Kamu tahu betapa susahnya mencari apartemen yang murah dan bagus seperti ini?!” Maria memarahi Zoey dengan suara yang cukup besar.
“Maaf… tapi tadi kamu benar-benar menyelamatkanku.” Zoey berjalan mendekati Maria dan mengacungkan jempolnya padanya.
“Ada apa denganmu? Pekerjaanmu sudah selesai bukan? Lebih baik besok setelah pulang kerja lebih baik kamu langsung menuju ke rumah sakit untuk memeriksa otakmu.” Maria menatap Zoey dengan tatapan jijik.