
Yunda merasa terpanggil untuk datang ke tempat Xavi berada. Ia tak peduli, meskipun nanti ayah bocah tersebut marah padanya. Yang penting, baginya adalah memastikan bahwa Xavi baik-baik saja. Tidak kurang suatu apapun.
Mendengar bocah tersebut susah makan. Membuat dara cantik berusia 19 tahun ini pun berinisiatif membuatkan bubur untuknya. Yunda berharap, Xavi mau makan.
Jantung Yunda berdetak sangat kencang. Bohong jika dia tidak takut menemui bocah itu.
Mengingat ayah bocah tersebut tidak menyukainya. Di samping itu, penyebab Xavi sakit adalah ingin menemuinya. Rindu padanya. Tak menutup kemungkinan jika ayah bocah tersebut akan menyalahkannya.
Selepas magrib, Yunda pun sampai di depan kamar di mana Xavi dirawat.
Kedua ajudan yang menjaga pintu ruang rawat tersebut langsung mempersilahkan Yunda masuk. Sebab mereka tahu, bahkan Yunda tak mungkin berniat jahat pada Xavi. Justru merka yakin, bahwa Yunda adalah obat untuk bocah tersebut.
"Terima kasih Pak Ajudan," ucap Yunda.
"Sama-sama, Non. Em, oiya, Non... satu jam lagi tuan datang. Kita hanya punya waktu segitu, sebaiknya Nona cepat masuk dan temui tuan muda. Jika Tuan tau Non datang, maka habislah kita bertiga, Non paham kan!" ucap Pak Sapri, memperingatkan.
"Baik, Pak... tolong kasih kode saya kalo beliau datang," pinta Yunda.
"Baik, Non... laksanakan!" jawab kedua ajudan tersebut.
Yunda bahagia. Karena ia bisa bertemu lagi dengan bocah tampan itu. Meskipun secara sembunyi-sembunyi.
Saat Yunda masuk, terlihat bicah tersebut tertidur dengan selang infus menancap di pergelangan tangan kirinya.
Tertidur sendiri tanpa siapapun yang menemani. Ya Tuhan, bocah sekecil itu... sakit, tapi tak ada orang tua yang menjaganya. Bocah sekecil itu, dipaksa untuk mengerti keadaan. Sungguh, kenyataan yang Yunda lihat saat ini, serasa menghujam jantungnya. Nyatanya, nasib bocah cilik itu jauh lebih menyedihkan dibanding dirinya.
Yunda meletakkan tas dan rantang bawaannya. Meletakkan barang-barang tersebut di nakas ranjang tempat Xavi berbaring.
Lalu, tanpa menunda waktu lagi, Yunda pun langsung menghampiri bocah tampan itu dan membangunkannya.
"Sayang... " panggil Yunda, sembari mengelus lembut kening bocah tampan itu.
Darah Yunda kembali berdesir nyeri. Bagaimana tidak? Suhu tubuh Xavi terasa tinggi. Membuat jiwa keibuan seorang Yunda bangkit.
Tanpa diminta, Yunda pun segera menyiapkan baskom berisi air hangat dan juga sapu tangan yang ada di tas baju milik Xavi.
Beruntung air hangat pun tersedia di kamar mandi kamar VVIP itu. Sehingga tidak menyulitkan Yunda untuk merawat kekasih kecilnya ini.
Merasa tidurnya terusik, Xavi pun membuka mata.
Senyum langsung mengembang sempurna di pipi bocah tersebut. Nyatanya, kedatangan wanita yang sangat ia rindukan ini, adalah obat paling mujarab baginya.
"Kak Yunda... " ucap Xavi lirih.
"Iya, Sayang. Kamu apa kabar hemm? Kok sakit? Katanya mau jadi anak kuat," ucap Yunda sembari menghapus air mata yang mulai tak bisa ia tahan.
"Entah, mungkin Xavi salah makan," jawab bocah itu lugu.
Sungguh, jawaban itu seperti jarum yang menusuk jantung Yunda. Bagaimana tidak? Anak sekecil itu begitu pandai menutupi apa yang ia rasakan. Hanya karena ia tak ingin membuat orang yang ia cintai merasakan apa yang ia rasakan.
"Mau, tapi tenggorokan Xavi sakit, Kakak," jawab bocah itu pelan.
"Pelan-pelan, Sayang. Kakak suapin ya. Nanti kalo Xavi nggak makan terus, nanti yang sakit bukan hanya tenggorokannya. Tapi juga perutnya. Kan jadi repot nanti," ucap Yunda menasehati.
"Oke deh, Xavi mau," jawab bocah tampan itu.
Yunda segera menyiapkan makanan yang ia bawa. Lalu menyuapi bocah tersebut, dengan cinta, dengan kasih sayang, dengan kelembutan yang ia punya.
Xavi menerima suapan demi suapan itu dengan hati bahagia. Mesti tenggorokannua serasa dakit saat menelan bubur itu, tapi melihat senyum tulus Yunda, rasa sakit itu serasa hilang entah ke mana.
"Kakak, dari mana kakak tau kalo Xavi sakit?" tanya Xavi.
"Dari sahabat kita dong. Pak Sam." Mereka berdua tertawa. Ternyata persahabatan mereka ada yang mendukung.
"Emm, Sayang. Bolehkan kakak tanya sesuatu?" ucap Yunda, pelan-pelan, takut salah.
"Tanya apa, Kak?"
"Emm, tapi jangan marah ya. Jangan sedih juga!"
"Tidak! Xavi tak suka marah Kakak. Yang suka marah itu papi. Kalo marah, semua orang di rumah pasti takut. Termasuk Xavi," jawab bocah tampan ini.
"Iya.. hehehe... kakak pun takut dengan papi mu," ucap Yunda. Kemudian keduanya kembali tertawa.
"Kakak mau tanya apa tadi?"
"Emmm, Kakak tak pernah lihat mama mu, Apa mama mu bekerja?" tanya Yunda.
Xavi tersenyum. Lalu menjawab. "Tidak! Mamiku sudah meninggal." Xavi menatap Yunda. Tatapan sedih. Namun ia berusaha tegar.
Tak sanggup berucap apapun, Yunda langsung memeluk bocah itu. Rasa sakit yang Xavi rasakan seakan bisa ia rasakan. Sungguh, ikatan batin ini tak main-main.Yunda tak bohong, jika saat ini ia bisa merasakan apa yang dirasakan sahabat kecilnya ini.
Yunda berjanji, apapun yang terjadi, ia tak akan pernah meninggalkan Xavi sendiri.
***
Veronica tak terima ketika Richard tak mengizinkannya menemui Xavi. Padahal ia sudah memohon dan mengirimkan bunga untuk putranya itu.
"Aku nggak bisa terima penghinaan ini, Richard. Lihat saja nanti, aku pasti bakalan ngrebut Xavi darimu. Lihat saja nanti!" teriak Veronica sembari membanting bunga yang ia beli untuk sang putra.
Sang mantan suami mengembalikannya, bahkan sebelum bunga itu sampai ke tangan Xavi.
Sungguh, ini adalah penghinanan terburuk dalam hidupnya...
Veronica marah!
Bersambung...