Om Duda I Love You

Om Duda I Love You
Saling Kesal



Richard melongo menatap kepergian Yunda. Ia tak menyangka bahwa gadis yang baru saja berdebat dengannya adalah gadis paling berani. Berani melawannya. Bahkan beberapa kali gadis itu mematahkan argumennya.


"Gadis aneh," gumam Richard. Beberapa kali ia menghela napas kesal. Masih tak terima dengan perlakuan Yunda kepadanya.


"Kenapa dia berani sekali melawanku? Memangnya siapa dia? Kenapa pula aku kalah berdebat denganya? Bukankah dia hanya gadis ingusan?" gerutu Richard kesal.


Awalnya ia ingin menggertak gadis itu. Agar jangan mendekati putranya lagi. Tapi apa yang menjadi maksud dan tujuannya, malah buyar tak terbetuk ketika gadis itu mengeluarkan suaranya. Ternyata gadis itu memiliki pemikiran logis yang mungkin tidak dimiliki oleh gadis-gadis lain.


Sungguh, Richard tak terima dengan kekalahan ini. Pria bertubuh atletis ini berjanji akan membuktikan bahwa apa yang Ian pikirkan tentang gadis-gadis miskin di luaran sana adalah benar.


"Awas saja, aku tak akan kalah denganmu. Aku pasti akan buktikan pada semuanya, bahwa kamu hanya menginginkan imbalan dariku. Lihat saja nanti," gumam Richard. Masih tak mau menerima bahwa sebenarnya bukan itu yang diinginkan oleh Yunda. Yunda hanya menginginkan izin darinya untuk menemui sahabat kecilnya. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.


Sedangan dari pihak Yunda sendiri, bohong jika gadis ini tidak kesal tujuh turunan. Om-om angkuh itu ternyata memiliki pemikiran yang sangat buruk terhadap gadis-gadis biasa sepertinya.


Namun bukan Yunda namanya kalau tidak memiliki keberanian untuk melawan. Selagi ia merasa benar, Yunda akan tetap membuktikan apa yang ia ucapkan.


***


Dalam perjalanan pulang, beberapa kali gadis ini mengumpat kesal pada Richard. Ia sendiri juga bersumpah dalam hati, akan membuktikan bahwa apa yang dipikirkan Richard tetang gadis biasa sepertinya adalah salah. Salah besar.


"Dasar om-om jelek, angkuh pula. Awas saja nanti. Aku bakalan buktiin kalo aku bukan gadis seperti itu," gerutu Yunda.


Hati Yunda mendendam. Mendendam pada pria itu. Pria yang telah menghinanya itu.


***


Malam pun tiba...


Rasa takut yang ia pendam karena ketahuan masih berteman dengan Yunda, membuat suhu tubuh Xavi kembali naik. Bukan hanya itu, bocah tampan ini juga beberapa kali muntah. Membuat Richard kebingungan.


Meskipun dokter dan perawat sudah menanganinya, tetap saja, wajah pucat Xavi sukses membuat Richard khawatir.


"Kenapa kamu diam saja, Sayang? Bicaralah, Papi takut kalo kamu diem gini," ucap Richard sembari menciumi tangan Xavi.


Bukan hanya Richard yang panik. Pak Sam dan kedua temannya juga ikut panik. Sebab tubuh Xavi semakin lemas.


"Emmm, maafkan saya Tuan. Bolehkah saya usul sesuatu?" tanya Pak Sam.


"Usul apa?" Richard menatap ajudannya.


Richard diam sesaat. Sebenarnya ia ingin menolak usul itu, tapi melihat Xavi yang terus memajamkan mata tanpa mau berbicara membuat Richard tak tega.


Dengan kasih sayang yang ia miliki untuk sang putra, Richard pun mencoba berdamai dengan keadaan. Menurunkan beberapa oktav egosnya. Berharap, sang putra memang bisa sembuh setelah bertemu dengan sahabatnya itu.


"Ya susah, kamu jemput saja dia," ucap Richard lirih.


"Terima kasih Tuan, semoga nona Yunda bersedia ikut dengan saya," jawab Pak Sam, senang.


"Kalo dia menolak, katakan padanya bahwa aku yang suruh. Tak perlu takut."


"Baik, Tuan... saya akan sampaikan!" jawab Pak Sam.


Richard mengangguk. Lalu ia kembali mendekati sang putra dan terus mengelus punggung bocah tampan itu.


Hati Richard merasa tercabik, mana kalau beberapa kali ia mengajak bicara sang putra. Tapi Xavi hanya menjawabnya dengan anggukkan atau kadang-kadang dengan gelengan. Membuat Richard hampir putus asa.


***


Di lain pihak...


Veronica tak terima dengan hinaan yang dilontarkan Richard kepadanya. Bukan hanya hinaan, Veronica juga mendapatkan penolakan keras dari Richard akan usulnya untuk sama-sama membesarkan Xavi.


Tak kehilangan akal, Veronica pun segera pergi ke Australia. Tempat kedua orang tuan Richard berada. Veronica ingin meminta bantuan mereka, supaya mau membujuk Richard. Agar mengizinkannya bertemu dengan Xavi. Putra semata wayangnya.


"Please, Mi. Bantu Vero bujuk Richard. Mami tau kan, kalo Vero masih sayang sama Richard," bujuk Veronica.


"Bukan Mami nggak mau bantu kamu, Vero. Tapi kamu tahu kan, sejak kalian berpisah, Richard nggak pernah mau pulang ke Sydney. Bahkan dia juga nggak mau menghubungi, Mami. Dia bukan hanya kecewa sama kamu tapi juga sama mami sama papi. Kamu tahu kan alasannya kenapa dia membenci mami. Karena kamu adalah wanita pilihan mami sama papi."


"Iya, Mi... maafkan Vero. Maafkan karena udah bikin mami sama papi kecewa. Tapi Vero sudah berubah, Mi. Vero pengen jadi ibu yang baik untuk Xavi. Tolong beri Vero satu kesempatan lagi, Mi. Please," rayu Veronica lagi.


Kedua orang tua Richard sepertinya luluh dengan rayuan itu. Tanpa berpikir panjang, mereka pun menyanggupi permohonan Vero pada mereka.


Bersambung...


Sambil nunggu Richard and Yunda update, kalian bisa kepoin karya emak yang lain... Stay tune🄰