Om Duda I Love You

Om Duda I Love You
Saling Memaafkan (end)



Di ruang kerja Richard...


Yunda menunggu kabar sangat suami dengan sangat cemas. Jujur Yunda sangat takut terjadi apa-apa pada suaminya itu. Mengingat musuh yang dihadapi oleh Richard bukanlah orang sembarangan. Orang tersebut sangat jahat dan mungkin juga psikopat. Si ratu tega yang tak pernah mau memikirkan perasaan orang lain.


Tiga puluh menit menunggu, Akhirnya Richard pun kembali ke dalam ruangannya dan menemui sang istri di sana.


"Sayang, bagaimana?" tanya Yunda ketika suaminya masuk ke dalam ruangan.


"Alhamdulillah, Sayang. Semua sudah berakhir. Wanita ular itu sudah ditangkap polisi. Semoga dia jera dan tidak melakukan kegilaannya lagi," ucap Richard sembari memeluk istri kecilnya.


"Apapun itu, Sayang. Aku senang. akhirnya kamu bisa mengatasi ini dengan sangat baik. Awalnya aku udah ketar ketir, Sayang. Aku takut kamu kenapa-napa!" jawab Yunda takut.


"Makasih, Sayang. Kamu selalu khawatir tentangku. Tentang kekuargaku. Percayalah honey, aku akan menjaga keluarga kita dengan sangat baik," ucap Ricard yakin.


Yunda dan Richard saling berpelukan. Mereka berdua sama-sama yakin jika apapun yang mereka kerjakan bersama, selama ada keyakinan pasti akan ada kemudahan.


***


Satu bulan sejak peristiwa itu, Richard dan Yunda semakin kompak untuk merayu ibu Chelsea agar menerima pernikahan mereka.


Bukan hanya itu, Yunda dan Richard pun tak segan-segan memberikan apapun yang diinginkan Ibu Chelsea termasuk membawakan buah atau makanan kesukaan wanita itu.


"Jangan cemberut gitu dong, Sayang. Nanti cantiknya berkurang. Mau kalo pak Giovan cari istri muda?" canda Richard sembari merangkul ibunya.


"Enak saja kamu. Memangnya istrimu rela kalo kamu nikah lagi?" balas Ibu Chelsea.


"Entah. Coba aku tanya!" ucap Richard seraya memanggil istrinya.


"Bun, sini deh!" pinta Richard.


"Iya, Pi. Ada apa?" jawab Yunda seraha meletakkan gelas bekas Xavi meminum susu.


"Sini deh, Mami mau tanya katanya!" ucap Richard sembari memeluk ibunya.


"Tanya? Iya, Mami mau tanya apa?" ucap Yunda sedikit merayu.


"Nggak, aku nggak mau nanya apa-apa. Suamimu saja ini yang sok iyes!" ucap Ibu Chelsea dengan wajah sok jutek.


Namun itu sama sekali tidak berpengaruh untuk Yunda. Sebab ia dan Richard sudah sepakat untuk sama-sama berjuang untuk merebut hati ibu peri satu ini. Jadi mereka dilarang baperan.


"Tu kan marah-marah lagi. Nanti Pak Giovan cari istri lagi loh!" ancam Richard manja.


"Dih, akan ku patahkan tulang-tulangnya jika dia berani kawin lagi," jawab Ibu Chelsea geram.


Richard tertawa sedangkan Yunda langsung memukulnya gemas.


"Benar, Mi. Yunda sangat setuju jika mami seberani itu. Karena kita tidak boleh mengalah pada laki-laki. Kalo sampai papi karim lagi, nanti Yunda bantu hajar istri mudanya, Mi. Tenang, ada Yunda di pihak, Mami. Kita tim kuat, Mi," ucap Yunda sembari mencium tangan Chelsea seolah memang dia sedang mendukung wanita tua itu.


"Tentu saja, Mi. Yunda tak suka ada pria suka kawin terus. Apaan, kita kan wanita cantik ya kan, Mi? Wanita berkelas. Masak mereka mau menduakan. Kan itu namanya menginjak harga diri kita kan, Mi?" Jawab Yunda menggebu.


Kali ini Yunda memberanikan diri duduk santai di samping Ibu mertuanya. Sengaja, agar mereka lebih akrab.


"Telpon papimu, sekarang dia ada di mana? Jangan-jangan dia main wanita pula!" Suruh Ibu Chelsea. Sepertinya dia terjebak dalam permainan putranya sendiri.


"Baik, Mi. Richard pun sekarang tin mami lah. Dari pada tim papi. Nanti mami nggak punya teman pula!" ucap Richard sembari menyandarkan kepalanya ke pundak sang ibu. Membuat Chelsea merasa di sayang.


Di menit berikutnya, Pak Giovan pun mengangkat telpon darinya. Terdengar suara Pak Giovan sedang bercengkrama dengan seorang wanita. Membuat Ibu Chelsea langsung naik darah.


"Papi, siapa wanita itu?" tanya Ibu Chelsea emosi.


"Wanita mana, Mi? Di sini cuma ada tivi. Kan Papi di kamar dari dari!" jawab Pan Giovan santai.


"Oh, di kamar ya. Ya udah, maafkan ya!" ucap Ibu Chelsea seraya mematikan panggilan telpon itu. Ia tersenyum senang sembari menatap Richard dan Yunda.


"Syukur ya, Mi, papi nggak ke mana-mana. Berarti papi sayang saya Mami. Mami wajib bangga dengan itu. Sepertinya papi tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa, Mami," ucap Yunda merayu.


"Benarkah?" tanya Chelsea antusias.


"Ya, sepertinya begitu, Mi? Percayalah pada Yunda, Mi. Papi pasti sangat Bucin sama Mami. Lihat saja, tadi bilangnya kan mau keluar, terus mami menolak ikut kan. Nah, dari pada sendiri, Papi milih istirahat di kamar. Kan itu udah satu bukti, Mi. Kalo Papi Lope sama mami," jawab Yunda semangat.


Sepertinya wanita itu telah terlena dengan rayuan dan pujian yang di berikan oleh dua sejoli ini. Sehingga ia lupa, bahwa sebenarnya ia belum merestui mereka berdua.


"Kamu benar, papi kalian memang tak bisa hidup tanpa mami. Mami senang jadinya," jawab Chelsea bangga pada dirinya sendiri.


"Makanya Mi, tolong restui kami ya Mi. Kami ingin hidup seperti mami dan papi. Saling mencintai dan selalu bersama seperti ini," ucap Richard sembari memeluk tubuh sang ibu yang semakin renta ini.


Ibu Chelsea menatap anak dan juga menantunya. Menatap mereka dengan rasa kasihan.


"Apakah itu perlu? Kan kalian sudah menikah? " tanya Ibu Chelsea


"Perlu, Mi. Kami perlu restu dari mami. Kami perlu doa dari mami. Biar rumah tangga kita selalu kuat, Mi. Tanpa ada pelakor atau pebinor di antara kami. Yunda juga takut kalo putra mami ini menikah lagi. Yunda sangat mencintainya, Mi. Yunda nggak rela kalo dia menikah lagi. Sama seperti mami cinta sama papi. Seperti itulah rasa yang Yunda miliki untuk putra, Mami. Tolong izinkan Yunda mencintainya, Mi," rayu Yunda, tapi serius.


Chelsea menatap menantunya dengan tatapan sendu. Ia tahu jika menantunya itu sangat serius mencintai putra semata wayangnya.


Jika sudah begini, maka tak ada alasan lagi bagi Ibu Chelsea ubtuku menolak permintaan itu. Dengan penuh kasih sayang, ia pun memeluk Richard dan Yunda. Kemudian berucap, "Mami merestui kalian, maafkan mami jika mami pernah menyakiti kalian. Maafkan ya!"


"Iya, Mi. Kami udah maafkan Mami. Kan kami sayang sama mami," Jawab Richard serius. Lalu mereka berdua pun menyambut pelukan Ibu Chelsea.


Yunda dan Richard saling melempar senyum. Melempar senyum haru. Akhirnya apa yang mereka perjuangkan membuahkan hasil. Dan mereka sangat bahagia dengan ini. Cinta kasih mereka mendapat restu. Restu dari seorang ibu ratu yang selama ini mereka nanti.


Selamat berbahagia Richard, Yunda, semoga cepat nambah momongan.


End