
Vero dan kekasihnya melangkahkan kaki penuh percaya diri menuju ruang rapat yang ada di perusahaan milik Richard.
Sedangkan Richard sengaja datang terlambat. Ia memang ingin menciptakan kegaduhan terlebih dahulu. Richard ingin melambungkan ego seorang Vero. Mengelabuhinya. Hingga dia merasa bahwa dirinya memang berhasil merebut kekuasaan itu.
Setelah itu, barulah Richard mendorongnya dengan memberikan bukti-bukti yang diakui oleh perusahaan ini.
Benar apanya yang dipikirkan oleh Richard. Bahwa saat ini Vero sedang mengumpulkan bala bantuan untuk menyerang Richard.
Bahkan sebelum rapat itu dimulai, ia membagikan selebaran yang menyatakan bahwa mulai detik ini dia adalah pemegang saham tertinggi di perusahaan ini.
Tentu saja, kabar yang di bawa Vero membuat para petinggi di perusahaan ini meresa aneh dengan itu.
Bagaimana tidak? Pemilik sah perusahaan ini adalah Giovan, lalu kenapa surat kuasa itu di tanda tangani oleh istrinya. Bukankah ini tidak sah?
Orang bodoh saja tahu, tapi sayang seorang Vero adalah manusia berambisi tetapi kurang teliti. Sehingga kesalahan bodoh yang bisa mempermalukannya seperti ini tidak bisa ia antisipasi.
Beruntung tak ada yang protes di antara mereka. Mereka tetap diam meskipun dalam hati meremahkan dan menertawakan.
Mereka tidak mau terjadi ketidakpastian. Mereka tidak mau terjadi perdebatan yang tidak berujung.
Karena alasan tersebut, para petinggi itu pun memutuskan untuk tetap diam sembari Richard datang.
Lima menit kemudian, seorang pria gagah nan berwibawa pun masuk ke dalam ruang rapat tersebut.
Siapa lagi pria tersebut kalau bukan Richard. Pemilik sah dan pemegang saham tertinggi di perusahaan ini. Bahkan pria tersebut juga pimpinan tertinggi di perusahaan ini mewakili ayahnya.
"Assalamu'alaikum semuanya. Selamat siang!" Sapa Richard santai.
Semua orang menjawab kecuali Vero dan kekasihnya.
Mereka terlihat cuek dan tak ingin basa-basi di depan Richard dan orang-orang yang tidak ia kehendaki di ruang rapat ini.
"Mohon maaf saya agak terlambat. Saya sedang ada tamu tadi dan rapat ini sebenarnya tidak ada di agenda say," ucap Richard meminta pengertian para anggota.
"Mohon maaf boleh saya tahu ada masalah apa?" tanya Richard lagi. Sengaja memancing agar mereka mau terbuka dengan masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.
"Mohon maaf, Pak Diretur. Kami sangat kecewa, kenapa ada pengalihan kekuasaan, tetapi tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu. Kenapa ini dadakan sekali. Keputusan ini sangat berpengaruh buat investor, Pak Diretur," protes salah satu pemegang saham di perusahaan ini.
"Sayangnya anda tidak tahu, Tuan Richard yang terhormat, ibu anda telah menjual semua sahamnya pada saya," saut Veronica tanpa malu.
"Oh ya, benarkah? Memangnya ibuku punya berapa persen saham di sini. Boleh saya lihat akte jual belinya. Atau mungkin kwitansi nya. Atau informasi lain barang kali," pancing Richard mulai menunjukkan permainannya.
Ditantang seperti itu, tentu saja membuat Vero tertawa. Tertawa karena tak sabar ingin melihat wajah terkejut mantan suaminya itu.
Tanpa berpikir panjang, Vero pun segera melempar dokumen yang ia gadang-gadang akan membuat malu seorang Richard.
Richard masih bersikap sangat tenang. Lalu membuka lembar demi lembar itu.
Setelah selesai mempelajarinya, Richard pun segera meminta operator untuk memutar Video rekaman yang berisi dokumen kepemilikan saham.
"Silakan anda lihat ini, Nona!" pinta Richard sopan. Namun ini adalah tujuannya meledek Vero.
Spontan Vero dan kekasihnya itu pun tercengang ketika membaca barisan kata yang terpampang di layar monitor.
Vero melongo tak percaya.
"Saya rasa anda tidak bodoh, Bu. Atau perlu saya pertegas lagi. Bahwa tanda tangan ibu saya sangat tidak berlaku di perusahaan ini. Seharusnya anda menipu saya bukan ibu saya!" ledek Richard dengan senyuman yang sanggup membuat jiwa Vero terguncang.
Tak ayal, merasa di permalukan oleh Richard Vero pun berteriak marah. Mengucapkan sumpah serapah nya untuk pria yang pernah ia nikahi itu.
Sayangnya, Richard terlalu cerdas untuk dia teriaki.
Lihatlah sekarang, tanpa apa-apa, datang beberapa polisi dan siap menangkapnya.
"Silakan, Pak! Ini adalah bukti kejahatan mereka. Silakan bawa mereka!" ucap Richard sembari menyerahkan lembar demi lembar dokumen yang di bawa Vero sendiri pada polisi.
"Lepaskan aku, Brengsek! Kamu tidak berhak melakukan ini padaku Richard. Aku ibu dari putramu!" teriak Vero tak Terima.
"Sebaiknya kau diam dan nikmati permainanmu sendiri. Kalo kamu kooperatif, maka semua akan baik-baik saja. Sudah, Pak Bawa saja dia. Aku muak melihatnya," ucap Richard.
Tak banyak bicara, Richard pun meninggalkan tempat rapat. Sedangkan Vero dan kekasihnya di bawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Bersambung..