
Anak buah Richard melepaskan penutup mulut Vero. Spontan wanita galak itu langsung berteriak marah.
"Brengsek! Aku nggak terima kalo putraku kau dekatkan dengan gadis jal*ng itu. Lihat saja nanti, kupastikan akan ku rebut Xavi dari tanganmu!" ancam Vero marah.
"Kita lihat nanti. Masak sih mau ngrebut Xavi dari aku? Kau tak ingat ya, kaki dan tanganmu saja terikat. Gimana caranya kamu mau merebut putraku ha?" balas Richard. Semakin suka mempermainkan mental mantan istrinya.
"Aku tak akan memaafkanmu Richard. Lepaskan aku brengsek!" Vero menatap penuh amarah. Napasnya tersegal karena itu.
Namun kemarahan itu seakan tak sampai di telinga Richard. Tak banyak bicara, Richard meminta anak buahnya untuk menutup kembali mulut wanita itu.
Lalu meninggalkannya sendiri di ruangan gelap nan sepi.
***
Sesuai ucapannya pada Yunda dan Xavi, Richard pun segera meluncur ke kantor. Ia tak ingin kedua orang terpenting dalam hidupnya itu khawatir dan bertanya-tanyq jika sampai dia tak ada di tempat.
"Kalian urusi wanita itu. Jangan beri apapun sebelum aku suruh. Aku ingin tahu, sekuat apa dia," ucap Richard marah.
"Baik, Tuan!"
"Pastikan mami sama papiku tak tahu ini. Aku malas berurusan dengan mereka." Richard masuk ke dalam mobil.
"Baik, Tuan. Laksanakan!"
Mobil yang membawa Richard mulai melaju meninggalkan area terlarang itu.
Jujur ada kegelisahan di sudut hati Richard yang terdalam. Sudah lama sekali rasanya ia tidak menyakiti seseorang.
Selama ini, anak buah yang bernaung di dalam persatuan yang ia pimpin, mereka lebih banyak melakukan kegiatan sosial.
Tapi, gara-gara Vero memulai pertikaian ini, jiwa preman mereka terpaksa bangkit.
Richard merasa bersalah dengan anak buahnya. Ia begitu gigih berjuang agar mereka tidak lagi masuk ke jurang menistakan, ke jurang pertikaian. Namun, gara-gara wanita sialan itu, mau tak mau mereka harus membela diri.
***
Tanpa Richard sadari, ternyata apa yang terjadi pada Vero di dengar oleh kedua orang tuanya.
Berarti dari kubu Richard, pasti ada penghianat.
Giovan terlihat santai. Tapi tidak dengan Chelsea. Wanita paruh baya itu terlihat tak sabar ingin segera memarahi putra semata wayangnya itu.
Satu jam menunggu, Akhirnya Richard pun datang.
Seperti biasa, wajah Richard langsung berubah masam.
"Kenapa wajahmu selalu masam jika lihat mami, Richard? Se menyeramkan itu kah Mami?" tanya Chelsea, langsung pada pokok tujuannya datang ke sini.
"Please, Mi... Kalo mami sama papi ke sini cuma buat marah sama Richard, mending Richard pergi aja dari ini. Ogah Richard berdebat dengan mami. Richard sudah cukup pusing dengan masalah perusahaan yang tak kunjung usai. Ditambah lagi harus ngedengerin Mami marah-marah," ucap Richard kesal.
"Oh, jadi Mami sama Papi cuma bikin kamu kesal? Baik.... rupanya kamu udah nggak butuh kami ya, ha? Kalo begitu, Mami pun bisa bersikap sama dengan mu, Richard." Chelsea menatap marah pada putra semata wayangnya itu. Rasanya tak puas kalo hanya memaki. Ingin rasanya ia memasukkan Richard kembali ke perutnya. Andai bisa!
"Sebenarnya bukan kalian nya yang bikin Richard kesal, Mi? Tapi tekanan demi tekanan yang kalian berikan pada Richard. Itu yang bikin Richard kesal," jawab pria tampan ini.
"Terseramu, Richard. Tapi Mami yakin, ini semua pasti karena pengaruh gadis kampung itu. Orang kampung biasanya hobi membangkang," tuduh Chelsea kesal.
"Mi, please... tolong jangan kaitkan Yunda dengan setiap masalah yang terjadi antara kita. Dia itu nggak tau apa-apa, Mi. Mami tu kebiasaan, selalu berburuk sangka pada siapapun wanita yang dekat dengan Richard. Kecuali wanita ****** itu," bantah Richard. Tak sanggup lagi memendam rasa yang ada di dalam hatinya.
"Mami hanya ingin yang terbaik untuk Xavi dan kamu Richard. Mengertilah! Jika kalian rujuk, Mami yakin Xavi akan sangat bahagia. Begitu pun kamu!" desak Chelsea, mulai gemas.
"Mi... maaf, kalo soal satu ini terpaksa Richard tidak sependapat dengan Mami and Papi. Richard nggak ingin jatoh ke lobang yang sama, Mi. Richard mohon Mami bisa mengerti apa yang inginkan. Karena apa. yang Mami sama Papi inginkan, belum tentu itu yang terbaik untuk Richard, Mi." Richard menatap mata ibunya, berharga wanita paruh baya itu bisa mengerti keinginannya.
"Oke, baik... jika itu pilihanmu, maka jangan salahkan Mami. Jika mami ngambil semua harta yang Mami kasih ke kamu. Termasuk mobil, rumah dan perusahaan ini," ucap Chelsea, kali ini dia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Richard hanya tersenyum mendengar ucapan itu. Sungguh ia tidak menyangka, bahwa wanita yang melahirkannya, bisa setega ini padanya. Hanya membela wanita yang tak berguna itu.
Bersambung....
mon maaf ya best, kalo emak jarang up tepat waktu. Ini masih suasana HuT RI. Emak masih repot dengan berbagai kegiatan RT, sekolah anak dan desa🥰🥰🥰
maafkan ya...
Sambil nunggu emak Up, kalian bisa tongkrongan karya Emak yang udah ending.. klik profil laku temukan novelnya☺☺☺
Stay tune😍